
Teo menerobos masuk ke unit Han, pria itu tentu tahu dengan apa yang tengah terjadi. Peringatan Liong datang padanya. Di belakang Teo menyusul Ivan, kepergian Naraku yang tiba-tiba membuat berondong meresahkan itu curiga.
"Apa yang terjadi?" Han sedikit heran melihat kehadiran Teo, hingga satu ingatan masuk ke kepala Han. Teo adalah Isaac. Dia yakin itu.
"Vampir...aku pikir ada vampir yang menggigit Irish. Ada sihir di sana. Tapi aku sudah mencegahnya menyebar." Teo membantu Irish untuk duduk.
"Vampir? Pria yang dibawa Dea. Dia datang ke pernikahan kalian."
Blaaarrr, langit berkelip dengan bunyi petir menggelegar. Pertanyaan siapa vampir itu kini muncul di benak tiga orang itu. Wajah panik Ivan terlihat saat pemuda itu menerobos masuk kamar Han. "Mbak kenapa?" tanya Ivan, bayangan kepergian mbah putrinya dan Isaac juga Meli terlintas kembali di benaknya. Meski dia cukup senang masnya hidup lagi di raga Teo.
Irish menggeleng pelan, merasakan tubuhnya lemas. "Ada aura Diavolo di tubuh orang itu. Wajahnya juga persis." Lirih Irish. Gila! Tubuhnya serasa remuk, setelah dihajar sang suami. Ditambah lehernya yang perih juga panas. Bekas taring vampir menembus kulitnya.
Tiga orang itu saling pandang. "Bukannya dia sudah mati di tanganmu?" Pertanyaan Han membuat Ivan dan Teo saling pandang.
"Kami sudah ingat." Teriakan penuh kelegaan seketika bergema di kamar Han, mendengar ucapan Han dan Irish yang bersamaan.
"Tahu gitu dari kemarin kek kalian unboxingnya." Seloroh Ivan.
"Kok tahu....upppsss." Han menutup mulutnya. Salah bicara. Ivan dan Teo melirik ke arah leher Han, di mana bekas kemerahan terlihat di sana.
"Dia tu...."
"Kalian sama saja!" Potong Ivan dan Teo kesal. Han hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Malu sekaligus bangga. Ha? Bangga? Hadeuuuhh. Wajah Irish pun ikut memerah.
Suara kilat yang menyambar bertubi-tubi menarik perhatian ketiga pria itu. Mereka berlari ke arah jendela. Melihat satu cahaya merah tegak lurus menembus langit malam. Perlahan satu lubang besar terbentuk di atas sana.
"Apa akan ada kiamat lagi? Sayang pakdhe gak ada di sini." Keluh Ivan. "Kan aku ada prend yang gak bisa ngapa-ngapain." Lanjut Ivan menjawab tatapan penuh keheranan dari Han dan Teo.
"Dia hanya marah. Tapi kemarahannya sangat berbahaya." Suara Liong muncul di belakang Han, Teo dan Ivan. Terlihat Liong mendekat ke arah Irish yang terbaring lemah.
"Itu gigitan vampir kan? Apa dia akan berubah jadi vampir?" tanya Han cemas.
__ADS_1
"Iya, jadi vampir, tapi hanya darahmu yang dia hisap." Kekeh Liong.
Han dan Irish saling pandang. Hingga pertanyaan siapa vampir itu muncul. "Dia putra Diavolo dan seorang wanita dari bangsa manusia..."
"Kamu punya anak dari raja iblis itu? Tapi jelas tadi kamu masih perawan." Potong Han cepat, antara tidak percaya dan ingin marah.
"Tentu saja dia masih gadis. Iblis tidak akan menembus kalian secara nyata. Artinya hanya jiwa kalian yang tidak perawan tapi raga masih perawan." Jelas Liong.
"Aku tidak pernah punya anak dari raja brengsek itu. Masak kamu tidak percaya padaku." Semua orang kini hanya bisa diam, melihat pengantin baru itu saling tatap. Yang satu dengan tatapan curiga yang lain dengan tatapan penuh permohonan.
Duaarrrr, satu ledakan terjadi. Mengalihkan salah paham itu pada keadaan di luar sana. Satu kebakaran hebat terjadi. "Dia harus segera dihentikan." Liong melihat ke arah Irish.
"Aku bukan emaknya!" Kekeuh Irish.
"Buktinya mana?!"
"Dia memang bukan ibu vampir itu." Naraku muncul membawa Volturi. Asisten Diavolo itu langsung jatuh tersungkur setelah Naraku menendang bokongg Volturi. "Sakit brengsek!" teriak Volturi marah.
"Lalu siapa emaknya?!" Teo menyudutkan Volturi.
"Isaac.... jangan mendorongku." Teo melotot mendengar Volturi menyebut nama aslinya. Sementara semua orang langsung diam, menatap pada Teo.
"Masssss..itu beneran kamu?!" Irish membuang selimutnya lalu berlari ke arah Teo. Kali ini mata semua orang melotot. Pasalnya Irish hanya memakai kemeja thok tanpa bawahan.
"Bubar!!!!!" Teriak Han penuh kemarahan. Baik Liong, Naraku maupun Volturi langsung menghilang dari kamar itu.
"Aku kan adiknya."
"Aku kakaknya."
"Ngaku kalau kamu Isaac sekarang." Teo memundurkan langkah, melihat kemarahan Han.
__ADS_1
"Mas Han jangan marah." Bujuk Irish setelah mendapat kode dari Teo dan Ivan. Satu ciuman melesat ke bibir Han. Teo dan Ivan langsung membuat gerakan muntah. Senyum seketika terbit di bibir Han. Satu perintah keluar dari bibir sang suami dan Irish langsung ngibrit masuk ke walk in closet.
Di ruang tamu apartemen Han. "Jadi siapa ibunya?" Tanya Liong, Volturi diapit oleh ayah dan anak itu.
"Dea." Balas Volturi singkat. Liong lumayan terkejut. Kali ini dia mengaku ceroboh, hal sebesar ini bisa lepas dari pengawasannya. Volturi lantas bercerita kalau kehamilan Dea memang di jaga ketat. Mungkin hal itu yang membuat kehamilan Dea luput dari pengawasan Liong.
"Ada cara untuk menghentikannya?" Naraku bertanya. Ketiganya saling pandang. Seolah tahu apa jawabannya. Satu panggilan masuk ke kepala Volturi. "Bapak vampir labil pulang."
"Kalian urus ibunya." Volturi menghilang. Bersamaan dengan Han dan yang lainnya turun dari lantai dua. Liong dan Naraku menoleh, melihat Irish yang sudah berganti baju. Kaos dan celana panjang.
"Dia mengira kau ibunya. Juga mengira kau yang membunuh ayahnya." Ucapan Naraku menyambut kedatangan Han dan yang lainnya. Liong menatap tajam pada Teo. "Jangan hukum aku. Bukan aku yang membocorkan siapa diriku. Tapi Volturi." Pinta Teo memelas. Liong dan Naraku saling pandang.
"Kita urus itu nanti. Sekarang yang penting dia. Aku tidak menyangka kemarahan vampir labil sepertinya mampu mengguncang semesta." Liong berucap pelan. Menatap kebakaran yang berkurang, berganti dengan pusaran angin laksana tornado. Naraku sesaat memejamkan mata. Menerobos masuk ke pusat badai. "Apa dia menggigitmu?" Naraku bertanya pada Irish yang langsung menyentuh lehernya.
"Aku rasa begitu." Irish menyahut lirih. Naraku mendekati Irish, "Mau apa kau?!" Han memperingatkan.
"Astaga, jealous-mu ojo nemen-nemen." Sumpah demi apapun, semua meledakkan tawa, mendengar perkataan absurd dari Naraku. Putra roh dewa naga.
"Dunia persilatan eh dunia perdewaan bakal kacau mendengar ucapanmu." Kata Ivan di tengah gelak tawa mereka.
Sampai suara ledakan kembali terjadi. Briock, menatap lurus ke arah apartemen Han. "Dia mulai menargetkanmu." Ujar Liong serius.
"Aku bukan ibunya. Kenapa dia membenciku? Iya, bapaknya aku yang melukai. Tapi salahnya, sudah menghapuskan kakakku."
"Kalau begitu kita hadapi dia!"
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1