
"De, kamu mau ke mana sih?"
Irish bertanya pada Dea yang terburu-buru keluar dari kantor mereka. "Pulanglah." Jawab Dea santai. Wanita itu melenggang ke arah motornya, Dea lebih suka memakai motor dibanding mobilnya. Sementara Irish, dengan suara yang masih belum normal hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Dea. Sudah 25 tahun, Dea masih betah menjomblo. Pacar pun tidak punya, Dea sepertinya tidak tertarik pada pria.
Sepeninggal Dea, Irish masuk ke dalam mobilnya. Namun dia belum sempat menjalankan mobilnya, saat mobil Eric tiba-tiba muncul. Pria itu langsung masuk ke mobil Irish. Mengabaikan pandangan penuh pertanyaan dari sang tunangan. "Ke mana?"
"Ke mana saja. Aku akan mengikutimu."
Balas Eric pasrah. Pria itu buru-buru menyusul Irish setelah dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Dia merasa sudah mengkhianati sang tunangan.
Sementara itu, Dea melajukan motor maticnya menyusuri jalanan area industri tempat pabriknya berada. Wanita itu melirik kee kanan dan kiri dengan bibir sesekali manyun, tampak sedang berpikir. Hingga akhirnya Dea berhenti di sebuah toko roti, memberi beberapa croisant dan juga satu porsi cake red velvet.
Wanita itu kembali melajukan motornya. Kali ini langsung ke apartemennya. Beberapa orang staf mengangguk pada Dea saat wanita itu memasuki lobi. Langkah Dea begitu ringan, seolah tidak ada beban di sana. Sampai wanita itu tiba di unitnya.
"Bri....tante bawa roti." Panggil Dea girang. Wanita itu mengerutkan dahi. Dia tidak melihat Briock di ruang keluarga, tempat favorit remaja itu. Dea masuk ke kamar Briock, juga tidak ada. Rasa panik seketika menyerang Dea, takut terjadi apa-apa pada Briock.
Wanita itu masuk lagi ke ruang keluarga, di mana dia menemukan selembar kertas di atas meja. Padahal seingat Dea tadi tidak ada. "Tante aku pulang dulu. Kapan-kapan aku datang lagi."
Tubuh Dea lemas seketika, wanita itu menjatuhkan dirinya di sofa. Briock pulang? Kenapa dia merasa sedih saat dia tahu Briock pulang? Seharusnya Dea senang kan? Briock pulang bukannya pergi ke mana-mana.
Di sisi Irish, gadis itu heran melihat sikap Eric yang berubah jadi pendiam. Biasanya pemuda itu selalu cerewet saat bersama Irish. "Ada masalah?" tanya Irish. Keduanya ada di ruang keluarga rumah Irish, Green Hills. Irish baru saja menyajikan teh untuk Eric.
"Ai, jangan tinggalkan aku." Eric tiba-tiba berkata. Raut wajah pria itu begitu ketakutan. Seolah satu kesalahan besar sudah dia lakukan. Irish mengerutkan dahinya, apalagi setelah itu, Eric memeluk tubuh Irish erat. Benar-benar takut.
"Hei aku tidak akan pergi ke mana-mana. Jangan buat aku cemas Eric. Ada apa?" tanya Irish. Gadis itu sama sekali tidak membalas pelukan Eric.
"Dia tidak cinta sama kamu! Kenapa kamu harus jadi orang bodoh? Mengejar cinta gadis lain jika di depanmu ada seorang gadis yang begitu tulus mencintaimu."
__ADS_1
Ucapan Vivian kembali terngiang di telinga Eric. "Maafkan aku Ai, aku akan tetap jadi pria egois yang menginginkanmu jadi milikku, meski aku melakukan kesalahan besar." Batin Eric penuh penyesalan.
Sementara itu di lounge Grand Samaya, tampak Han yang tengah mengomel pada Nanto. Masih seputar Irish yang masuk ke unitnya tanpa seizinnya. Bukannya takut, Nanto justru sejak tadi mengulum senyumnya. Hal itu membuat Han sebal.
"Aku yang kau marahi kenapa kau yang sewot?" tanya Nanto santai.
Han hanya bisa mendengus geram mendengar jawaban kalem dari pakdhe-nya itu. "Pakdhe kan tahu kalau dia sudah punya calon suami. Orang akan menuduhku jadi orang ketiga dalam hubungan mereka." Keluh Han. Belum juga dua bukan pindah ke kota ini. Masalah sudah datang menghampiri. Bukan masalah pekerjaan, tapi ini masalah perempuan.
"Baru tunangan belum menikah." Sanggah Nanto.
"Sama saja. Mereka tinggal menunggu pesta digelar, habis cerita." Nanto mengerutkan dahi mendengar ucapan Han. Apa yang pria itu pikirkan soal Irish.
"Apa maksud perkataanmu?"
"Mereka sudah dewasa." Meski usia Eric lebih kurang dirinya. Namun Han melihat pembawaan pria itu sangat dewasa sekali.
Han jelas tercengang. Bagaimana mungkin itu terjadi. "Kau tidak percaya. Tanya sama dia." Nanto menyambut seorang pemuda yang langsung duduk di samping Nanto. Pemuda itu mengulurkan tangannya pada Han. "Ivan Aditama." Ucap pemuda itu singkat.
Aditama? Jadi pemuda ini saudara Irish begitu. Kenapa dia datang ke sini? Pikiran Han berkecamuk. "Adiknya Irish." Nanto memperkenalkan Ivan. Raut wajah Han tidak lagi menunjukkan raut wajah terkejut.
"Jadi maksudnya apa ini?" tanya Han tanpa basa basi. Dia yakin dua orang sudah bersekongkol. "Tidak ada apa-apa. Hanya sekedar ingin memastikan sesuatu." Ivan menjawab santai.
Meski tidak terlihat akrab, namun interaksi ketiganya membuat mereka merasa dekat. Ketiganya seperti pernah bersama di waktu lalu. Lagi, hal aneh merasuk ke hati Han. Banyak perasaan aneh yang muncul sejak dia kembali ke kota ini.
Han tahu pernah berada di kota ini, tapi detailnya dia tidak ingat. Apa yang pernah terjadi selama di kota ini, semua tidak ada yang dia temukan di memori otaknya. Apa aku melewatkan sesuatu soal kota ini?
Malam beranjak turun. Terlihat Teo yang baru saja turun dari motornya. Tinggal di sebuah rumah yang lumayan bagus. Berada di satu komplek perumahan elite. Teo cukup bersyukur bisa hidup dengan baik di kehidupan keduanya. Pria itu baru saja memarkirkan motornya. Sempat melihat ke arah gerbang depan rumahnya, sebelum dia menyadari sesuatu.
__ADS_1
Dia melihat Eric berada di rumah itu. Teo tahu jelas siapa Eric, tunangan sang adik. Tampak Eric tidak sendiri. Pria itu bersama seorang wanita. Emosi Teo naik, dia ingin menerobos masuk ke rumah itu, dia juga mau menyelidiki apa yang Eric lakukan, tingkahnya sangat mencurigakan.
Teo mendengus kesal, ingin melompati pagar tapi itu jelas melanggar privasi, bisa ditahan dia. Teo mengumpat, rasanya ingin kembali jadi hantu. Biar bisa menembus tembok dan muncul di mana saja yang dia suka.
"Liong, bisa tidak aku jadi hantu lagi. Aku kepo dengan dia." Kata Teo konyol saat berjalan kembali masuk ke rumahnya.
Bllaaarrrr
"Jangan aneh-aneh kamu. Jadi jiwa kok plin plan. Kemarin minta dihidupkan lagi. Sekarang pengen jadi setan lagi. Wuuu tak pithes irungmu." Gemas roh dewa naga yang tiba-tiba muncul di depannya.
Heran sekali dengan Liong ini, tiap Teo menyebut nama Liong, pria berpenampilan serba putih itu selalu muncul. Roh dewa naga tidak ada kerjaan ya rupanya.
"Sebel tahu. Kayaknya si Eric main belakang deh."
"Ha? Apa itu? Gaya baru ya?" Lah Liong bisa songong juga.
"Heh dewa naga! Auramu surgawi tapi otakmu neraka juga ya."
"Heeiii, kami juga punya nafsuu." Balas Liong enteng.
Eh nyambung juga si Liong diajak ngomong mesum. Liong terkekeh melihat wajah muram Teo. Dia tentu tahu apa yang sedang terjadi. Tapi dia tidak bisa membocorkan takdir yang sudah ditulis oleh si dewa tukang pembuat nasib.
"Perlu bantuanku?" Tanya Liong sambil menaikkan sebelah alisnya. Rasa curiga seketika meliputi pikirian Teo. "Bau-bau tidak beres ini." Batin Teo cemas.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***