
Dea memicingkan mata, melihat satu sosok yang berdiri di sudut gedung apartementnya. Merasa curiga dengan sosok itu. Hantukah? Atau orang jahatkah? Kenapa dia bisa ada di lingkungan apartemennya, yang terkenal lumayan aman. Kalau hantu kenapa dia bisa melihatnya. Kalau orang jahat....kabur ahhh.
Dea hampir saja masuk ke lobi saat sosok itu berbalik. Dea membeku di tempatnya berdiri. Tidak mampu bergerak saat sosok itu mendekat ke arahnya. Dalam temaran lampu lobi, bisa Dea lihat sosok itu seorang pria tinggi, wajah tirus, dengan muka pucat, jangan lupakan sorot mata merahnya. Dea seperti melihat vampir di dunia nyata.
Sosok yang tak lain adalah Briock itu berhasil menerobos ke luar istana. Rasa ingin tahunya sangat besar. Hingga dia nekat mengelabui penjaga kamarnya. Lalu menghilang dengan tujuan dunia di luar tembok istana. Dunia manusia.
Pria itu tidak menyangka akan muncul di depan apartemen Dea. Tidak ada yang Briock lakukan selain menikmati kerlap kerlip keindahan lampu yang berpendar di tiap sudut kota. Kontras dengan istana dingin yang dominan gelap.
Jangan lupakan aroma darah manusia yang begitu menusuk hidung mancung Briok. Menggoda vampir muda itu untuk mencari sumbernya lalu menghisapnya sampai habis. Pasti akan lebih nikmat jika Briock bisa meminum darah langsung dari sumbernya.
Satu aroma membuat Briock penasaran, saat berbalik dia mendapati Dea yang berdiri mematung di depan pintu lobi. Aroma darah wanita itu sangat manis. Ingin sekali Briock menjadikannya mangsa. Membuat wanita itu jadi korban pertama dari dunia manusia.
Namun rupanya semua tak sejalan dengan insting Briock. Saat mata merah Briock bertemu pandang dengan mata coklat Dea. Ada rasa rindu yang tiba-tiba masuk ke ke hati keduanya. Rasa rindu yang tidak tergambarkan, kenapa dua orang tidak saling kenal itu bisa punya rasa itu. Rasa bahagia saat keduanya bisa bertemu. Aneh sekali.
"Siapa kau?" Suara bariton Briock membuat Dea terkesiap. Suara itu, dia pernah mendengarnya dulu, di waktu yang cukup lama. Meski baru sekali mendengarnya, tapi Dea tidak bisa melupakan suara itu. Itu bukan suara Volturi, pria yang sering kali tiba-tiba muncul di hadapannya. Pria yang sampai saat ini, belum dia ketahui identitasnya. Dea hanya punya satu keyakinan, Volturi tidak akan menyakitinya.
Lalu pria ini, siapa dia? Kenapa semakin lama Dea melihatnya, ada kedekatan tidak bisa dijelaskan oleh akal Dea. Seolah Dea dan pria ini pernah dekat, sangat dekat di masa lalu. Namun siapa? Dea tidak bisa mengingatnya.
"Dea Andifa." Jawab Dea singkat. Bodoh!! Kenapa juga Dea memberikan nama aslinya. Briock menatap tajam ke arah Dea. Pria itu merasa dekat dengan Dea. Hilang sudah hasrat untuk menjadikan Dea korbannya. Berganti menjadi rasa ingin melindungi juga rasa ingin dibelai. Rasa yang Briock inginkan dari sosok seorang ibu. Yang kerap muncul dalam mimpinya.
"Anda mencari siapa?" Dea memberanikan diri bertanya. Rasa takut itu menghilang dari hati Dea sedikit demi sedikit.
"Aku tidak mencari siapa-siapa." Kata itu terucap begitu saja dari bibir Briock.
"Apa kau tersesat? Di mana rumahmu?" tanya Dea lagi. Menurut penilaian Dea. Meski sosok Briock tinggi besar, tapi di mata Dea, sosok di hadapannya ini adalah seorang remaja labil.
__ADS_1
"Rumahku jauh."
"Apa kamu kabur dari rumahmu?" Skak mat, Briock bungkam tidak mampu menjawab. Dia seperti seorang anak yang tertangkap basah melakukan kesalahan oleh sang ibu.
Di balik tembok, Volturi tampak lega setelah bisa menemukan keberadaan Briock. Hilangnya Briock dari kamarnya membuat Volturi kelabakan. Hingga pria itu memutuskan untuk mengikuti aura vampir Briock. Aura yang sangat jarang ditemukan.
Sampai aura Briock menuntun Volturi ke apartemen Dea. Ada rasa lega saat melihat Briock baik-baik saja. Tapi ada juga rasa cemas. Bagaimana jika Briock menyadari kalau Dea adalah ibunya. Darah Dea adalah makanan Briock saat masih dalam kandungan. Rasanya tidak akan pernah bisa Briock lupakan.
Rasa cemas Volturi semakin menjadi saat Dea mengajak Briock masuk ke unit Dea. "Astaga! Ini bagaimana ceritanya." Volturi mengusap kasar wajahnya. Sementara di belakang Dea, Briock menyeringai. Dia tahu kalau Volturi mengikutinya.
"Kenapa kau khawatir sekali pada wanita ini Paman? Apa Paman punya rasa pada manusia satu ini." Batin Briock heran. Pantas saja Briock mencium aura iblis di tubuh Dea. Ternyata itu aura sang Paman, Volturi.
"Well, kita lihat apa Paman berani muncul jika aku mengganggunya."
**
**
Bersamaan dengan itu tampak Ivan berlari menuruni tangga, menyambut sang kakak. Di belakangnya menyusul, Eric sang tunangan. Juga Lendra, ayah Irish.
"Mbak kemana aja sih. Buat orang cemas. Eh, kamu siapa?" Omelan Ivan seketika berhenti melihat seorang pria berdiri di belakang sang kakak.
"Kamu ke mana saja Ai, aku mencemaskanmu." Eric, sang tunangan turut bertanya. Irish terpaksa tersenyum.
"Maaf, saya melihatnya di jalanan, jadi saya antar pulang. Maaf jika saya lancang." Han berucap segan. Merasa sedikit bersalah pada Eric.
__ADS_1
Ivan pun mengatakan kalau Irish tadinya pamit mau jalan-jalan sebentar. Nyatanya sampai dua jam tidak kembali. Makanya mereka berinisiatif mencari, tapi rupanya Han sudah lebih dulu mengantar Irish pulang.
"Gimana gak lama. Wong nona mudanya minta kulineran. Mana semua makanan di beli. Untung aku bawa cash."
Batin Han sambil melihat ke arah Eric, tidak memperdulikan tatapan dari Irish.
"Mari masuk dulu kalau begitu tuan Aditya." Ajak Lendra.
Han menolak dengan halus, beralasan sudah malam, pria itu memilih pamit pulang. Han cukup paham, akan ada pembicaraan serius di keluarga itu setelah ini. Dan benar saja. Seperti disidang, Irish harus menghadapi berbagai pertanyaan yang diberikan oleh sang ayah.
Lendra beberapa kali meminta maaf pada Eric atas kelakuan Irish. Di luar dugaan, jawaban Eric membuat semua orang terkejut. "Tidak masalah, yang saya lakukan hanyalah sekedar menjaga Irish, sampai dia menemukan pria yang benar-benar mencintainya dengan tulus."
"Apa maksudmu?" Irish bertanya heran, ada ya pria yang mau melakukan pertunangan dengan alasan untuk menjaganya.
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku. Ada binar cinta di matamu, tapi itu bukan untukku. Aku tahu, hatimu sudah ada yang punya. Karena itu aku mau melakukan ini. Untuk menjagamu sampai dia datang." Jelas Eric.
"Dasar bodoh! Kenapa kamu bodoh sekali!" maki Irish.
"Karena saat pria mencintai wanita, dia akan jadi orang paling bodoh sejagat. Dan aku rela menjadi bodoh karenamu." Batin Eric.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1