
Suara ketukan pintu terdengar, Ivan yang paling dekat dengan benda persegi panjang itu berlari mendekat. Mengintip dari lubang pengintai di pintu. Ivan mengerutkan dahi, melihat siapa yang berdiri di depan pintu mereka.
"Masak pakdhe sudah sampai. Kan si Om perasaan baru jemput ke bandara." Gumam Ivan curiga. Pria itu lantas memejamkan mata. Ivan mungkin tidak bisa melihat makhluk astral, tapi pemuda itu punya sensitivitas tinggi pada aura negatif.
Ivan menggelengkan kepalanya pelan, auranya biasa saja. Bel berbunyi lagi, Ivan pun membuka pintu. Saat itulah terlihat sosok Somchai di sana.
Ivan pun memberi salam, lalu mempersilahkan pria yang mengenakan kemeja hitam dan celana hitam itu masuk.
"Padahal Om baru saja pergi jemput Pakdhe." Kata Ivan, tapi tidak digubris oleh pria itu.
"Di mana dia?" tanya Somchai yang terdengar dingin dan...seram. Bulu kuduk Ivan merinding seketika.
"Dia di kamar kakak." Jawab Ivan sambil menunjukkan jalan. Satu energi yang kuat langsung terasa saat pria itu masuk ke kamar Irish. "Hebat sekali! Ternyata dia lebih kuat dari yang kubayangkan."
Ceklek, pintu kamar mandi terkunci dari luar. Dengan satu kekuatan membuat kamar itu kedap suara. Hingga Irish dan Asna yang sedang berada di dalamnya tidak bisa keluar dari sana. Juga tidak bisa mendengar apa-apa.
"Mbah kenapa terkunci?"
Irish bertanya panik, masak iya kunci pintu kamar mandinya rusak. Asna yang baru membersihkan diri, langsung menyentuh gagang pintu. "Ivan hati-hati!" teriak Asna. Somchai menyeringai mendengar suara lemah Asna.
"Kenapa mbah?"
"Ada yang datang. Tapi itu bukan...bukan....auranya jahat. Lebih jahat dan lebih kuat dari yang melukai Han." Asna menjawab terbata dan penuh ketakutan. Takut jika hal itu melukai Ivan yang polos tanpa perlindungan apa pun. Irish pun ikut panik, cemas memikirkan sang adik.
"Panggil kakakmu!" perintah Asna. Irish memejamkan mata, mencoba fokus dan memanggil Isaac. Gagal! Tidak ada jawaban! Biasanya Isaac akan langsung merespon jika Irish memanggil.
"Mbah...gak nyahut." Asna pun mulai cemas. Sementara di kamar Irish. Somchai sudah bersiap meminumkan air yang dia bawa. Menempatkan air itu dalam gelas. Somchai harus menggunakan tangan orang lain untuk membuat Han meminum air tersebut. "Minumkan." Perintah Somchai pada Ivan.
__ADS_1
Ivan pun dengan ragu mengambil gelas itu dari tangan Somchai. Panas, itulah hal pertama yang Ivan rasakan saat menyentuh gelas dari Somchai.
"Kak Han minum dulu."
Somchai menyeringai saat gelas itu menyentuh bibir Han, sampai satu suara dari Irish membuat Ivan menghentikan gerakannya.
"Kenapa Pakdhe tidak datang bareng om Nanto?"
Seringai Somchai hilang seketika berganti menjadi sebuah tatapan penuh ancaman. "Lakukan saja yang kuperintahkan." Suara penuh intimidasi itu membuat Ivan sadar. Dia urung meminumkan air itu. Saat itulah, satu kilatan sinar biru mengenai gelas itu, praaannggg, gelas pecah berkeping-keping. Dengan bunyi ledakan cukup keras.
"Siapa kau?!" Suara Isaac muncul di depan Ivan. Melindungi sang adik. Dengan Meli yang langsung membuka pintu kamar mandi. "Kalian tidak apa-apa?" tanya Meli panik.
Somchai seketika terpana melihat kecantikan Irish. Pantas saja Diavolo begitu menginginkan gadis ini jadi ratunya. Namun bukan hal itu yang membuat Somchai sangat berminat pada Irish. Aura iblis itu sudah separuh menguasai tubuh Irish. Sebentar lagi energi itu akan mendesak segel yang menguncinya, dan booomm, kuasa itu akan bebas. Atau dia bisa mempercepatnya.
Somchai mengangkat tangannya, mengarahkannya ka arah Irish. Saat itu Irish merasakan satu gejolak dalam dirinya. Hawa panas seolah ingin keluar dari tubuhnya. Sriiiinnngggg, satu tebasan pedang dari Isaac membuat fokus Somchai buyar.
"Kau....."
"Aku memang bukan dia." Sosok Somchai itu memiringkan kepalanya. Masih menatap tajam pada Irish. Gadis itu merapatkan tubuhnya pada sang nenek.
"Kau ingin mencelakai Han! Kau pasti iblis jahat!" Seru Ivan tanpa basa basi.
Blaarrr
Lampu tidur di samping Ivan meledak. Beruntung Meli langsung melindungi Ivan. "Kau manusia rendah! Berani kau menilaiku! Siapa aku itu bukan urusanmu!" Somchai berkata penuh ancaman.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian! Aku hanya punya urusan dengan mereka!" Suara itu menggeram marah. Menatap ke arah Han dan Irish bergantian.
__ADS_1
Semua langsung bersikap waspada. Aura sosok ini bahkan bisa mengatasi array yang ditinggalkan roh dewa naga. "Apa kalian pikir, array Liong bisa menghalangiku untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Bahkan kalau dia muncul di sini, aku bisa melenyapkannya." Sombong pria itu.
"Kau tidak punya urusan di sini. Pergilah!" Usir Isaac. Somchai tertawa sinis. Melihat ke arah Irish yang seketika merinding tubuhnya. Pandangan Somchai membuat pikiran Irish terhisap ke satu tempat, yang dia tidak tahu di mana itu.
"Berani kau menyentuhnya!" Satu suara terdengar, membuat tubuh Irish ambruk saat koneksi antara pikiran Somchai dan gadis itu terputus.
"Kau berani mengganggu urusanku!" Geram Somchai marah. Tak berapa lama pria itu lenyap.dari hadapan semua orang, setelah menyentuh dahi Irish sebelum benar-benar menghilang.
"I....Irish....bangun." Isaac mencoba membangunkan Irish, namun gadis itu tidak juga membuka mata. Isaac dengan cepat merebahkan tubuh Irish di ranjang. Di samping Han.
"Bagaimana ini?" panik Ivan. Pemuda itu jelas ketakutan melihat kondisi sang kakak. Asna mendekati Irish, menyentuh tangan Irish, wanita itu lantas memejamkan mata. Mencoba membawa sang cucu kembali.
Kali ini usaha Asna berhasil, Irish membuka mata. Semua orang menarik nafasnya lega. Saat itulah, bel pintu berbunyi. Kembali Ivan yang beranjak ke pintu. "Somchai sama Nanto." Info Meli. Hantu cantik itu mengekor di belakang Ivan.
"Yang ini asli?" Meli berdecak kesal. Ivan sekarang sangat menyebalkan, suka menggoda Meli. Padahal Meli dulu beranggapan kalau Ivan seorang yang menyenangkan. Nyatanya dia salah.
"Aslilah." Balas Meli kesal. Irish berusaha duduk, saat Nanto dan Somchai masuk ke kamar itu. "Mbah Asna?" tanya Somchai spontan. Pria itu lalu mencium tangan Asna. Yang lain saling pandang melihat hal itu. Lama di Chiang Mai tidak membuat Somchai melupakan adab dan sopan santun lokal.
"Bagaimana kabar Mbah?" Ternyata Somchai pribadi yang hangat, tidak seperti tiruannya tadi. Ngomong-ngomong soal Somchai palsu. Pria itu baru saja memukul mundur Diavolo. Suara yang terdengar tadi adalah suara Diavolo. Karena itu Somchai yang tak lain adalah Naraku merasa marah.
Hingga kemarahan Naraku diluapkan dengan cara menghajar Diavolo. Raja Iblis itu terkapar di tanah berdebu setelah Naraku menghantam dada Diavolo menggunakan bola api hitam.
"Apa kau siap mati? Berani sekali kau mengganggu saat aku sedang menaikkan aura iblis dalam tubuh Irish."
"Aku tidak peduli apa maksudmu. Yang jelas kau berani menyentuhnya. Dia milikku. Siapapun, tidak boleh mengganggunya."
****
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****