
Han menyentuh dahi Irish, di mana tanda api hitam itu berada. Pemuda itu memejamkan. Memberikan energi dalamnya untuk memurnikan aura iblis yang Naraku tanamkan.
Naraku melesat ke arah Han dan Irish. Irish tidak boleh dimurnikan. Hanya gadis itu yang bisa membuka portal pintu dunia iblis. Sebab apa, sebab jiwa Irish murni sebagai manusia terpilih. Sedang dirinya separuh iblis.
Irish meronta dalam dekapan Han. Kesakitan, panas, rasanya ingin mati saja. Irish bergerak liar, sementara Han sigap menahannya. Serangan Naraku datang, tapi roh dewa naga langsung menghadangnya.
"Kau masih belum jera juga? Sepuluh ribu tahun lalu kau sudah dibuang oleh ibumu. Jika bukan kami yang menolongmu, kau sudah mati. Dan ini caramu membalas budi. Menciptakan neraka di dunia manusia?" Suara Liong, sang dewa naga benar-benar tenang penuh wibawa.
"Kalian hanya ingin memanfaatkanku. Menggunakan mutiara hitam untuk tujuan kalian sendiri."
Jeritan Irish terdengar, semakin lama semakin nyaring. Rasa sakit itu sungguh menyiksanya. Tulangnya serasa patah semua, dengan rasa ngilu di tiap sendinya.
"Hentikan! Aku mohon!" Hiba Irish pada Han, separuh energi negatif itu sudah bisa dinetralkan oleh Han.
"Bertahanlah sebentar lagi." Ucap Han lembut. Dia sadar benar siapa Irish saat ini.
"Bunuh saja aku!" suara Irish berubah ke mode iblis lagi. Han hanya tersenyum menanggapinya. "Membunuhmu? Enak sekali kau bicara. Menghapuskanmu akan sangat mudah bagiku. Tapi aku ingin menyiksamu sebentar."
"Bedebaah! Sialann! Kau Liong!" teriakan Irish terhenti saat Han menempelkan bibirnya ke bibir Irish. Hanya sekedar ingin membuat Irish diam.
"Aku tidak ingin hal lama terulang lagi. Dendam ibumu membuatmu sengsara."
Naraku memundurkan langkahnya mendengar ucapan Liong. Bagaimana bisa Liong tahu soal ibunya. Naga itu sesaat menatap sendu pada Naraku. Tampan, tentu saja, Naraku adalah cerminan dirinya saat masih remaja.
"Apa kau tahu? Aku sama menderitanya sepertimu. Dia membuangmu, membuatmu merasa tidak berharga." Liong menatap sendu pada Naraku.
"Kau bohong! Jangan mengarang cerita hanya untuk menghiburku!" Naraku merangsek maju menyerang Liong.
Namun Liong sama sekali tidak melawan. Sampai Han berdiri di antara mereka. "Dia... di dunia ini adalah urusanku. Jadi anda tidak perlu mengotori tangan anda."
__ADS_1
Liong menghilang dari tempat itu. Yang dikatakan Han benar. Urusan duniawi bukan lagi urusannya. "Sialann! Liong!! Jangan pergi! Urusan kita belum selesai."
"Aku akan kembali setelah duel kalian selesai."
Naraku melihat Irish yang tidak sadarkan diri di pangkuan Ivan. Sementara Isaac setengah pingsan. Naraku memejamkan mata, mencoba mengendalikan Irish. Namun tidak bisa. Ada perlindungan Liong di tubuh Irish yang tidak bisa dia terobos.
"Kau tidak akan bisa mengontrolnya lagi." Han berucap santai. Naraku menggeram marah. Pria itu tanpa segan menghunus pedangnya, lalu menyerang Han. Duel sengit itu terjadi di angkasa. Han yang pedang hijaunya patah karena Diavolo hari itu, kini memiliki pedang baru setelah segel roh dewa naga terbuka. Sebuah pedang dengan pendar cahaya putih berkilau. Sangat kontras dengan pedang Naraku yang hitam kelam. Tiap pedang itu beradu, percikan api akan tercipta.
"Ini bagaimana ceritanya?" Nanto bertanya frustrasi. Sedang Ivan hanya bisa diam. Mbah putrinya telah tiada. Meli, kakaknya....Ivan serasa ingin menangis keras. Ingin memanggil ayah dan ibunya. Ingin minta tolong dan menangis sejadi-jadinya. Dua kakaknya, dia tidak tahu keadaannya bagaimana.
Somchai merangkak mendekat ke arah Irish. Tanda api hitam itu sudah lenyap, berganti dengan simbol naga sama seperti milik Han. "Dia hanya pingsan. Kalian jangan khawatir."
Isaac meraih tangan Irish, menggenggamnya erat. "I...semua sudah selesai, hidupmu akan kembali normal. Tugas kakak selesai." Sedih, hal itulah yang Isaac rasakan. Terlebih Meli dan mbah putrinya baru saja pergi.
Duel di atas mereka berlangsung seru, Han dan Naraku fokus pada lawan masing-masing. Tanpa mereka tahu, bahaya mengancam di bawah sana. Diavolo sepertinya ingin memanfaatkan kesempatan. Tanpa penjagaan, sudah pasti akan mudah melakukan rencananya.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tepat." Suara Diavolo membuat semua orang terkejut. Terlebih Isaac. Dia sudah tidak punya kekuatan untuk melindungi adik dan yang lainnya.
"Dia...kau tahu kan sejak dulu aku menginginkannya." Balas Diavolo mengarahkan pandangannya pada Irish.
"Langkahi dulu jiwaku!" Isaac berdiri diikuti Nanto dan Somchai. Mereka tahu tidak bisa mengganggu Han. Jadi mereka bertekad untuk menghadapi Diavolo.
Tawa Diavolo pecah, melihat keadaan Isaac. Raja iblis itu begitu yakin bisa menyingkirkan Isaac dengan mudah. "Aku tidak ingin lama-lama melihatmu!"
Isaac melotot, saat Diavolo menghunjamkan pedang ke tubuhnya. Irish menjerit. Melihat kakak kembarnya jatuh terduduk dengan pedang Diavolo menancap di dada Isaac.
"Kakak....." Irish menyerbu ke arah Isaac diikuti Ivan. Saat itulah Han melayang turun. Lantas menghajar Diavolo. Sementara Naraku hanya bisa diam melihat ratapan Irish.
"Jangan pergi! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Kak.....!" Irish menangis sejadinya. Memeluk tubuh Isaac yang terasa sangat lemah.
__ADS_1
"Jangan menangis, mungkin sudah waktunya kakak pergi."
"Tidak! Tidak boleh. Kakak tidak boleh ke mana-mana. Kakak harus selalu sama Irish. Kak..."
Tidak ada jawaban, hanya senyum Isaac yang terlihat samar. Di kejauhan, tubuh Diavolo terpental ke tebing seberang. Saat Han melemparnya dengan kuat.
"Bertahanlah, Isaac." Han mencoba menahan jiwa Isaac.
"Tidak Han. Sudah sampai waktunya aku pergi. Janjiku...sudah saatnya aku menepatinya." Isaac bicara terputus-putus.
"Tapi kak...."
"Dengarkan aku Han. Setelah ini, apapun yang terjadi, kembalilah untuk mencari adikku, jaga dia." Irish menggeleng mendengar pesan Isaac. Han dan Isaac saling pandang. Hingga Han pun mengangguk setuju. Senyum Isaac melebar, pria itu menyentuh wajah Ivan dan Irish, "Kakak sangat menyayangi kalian. Kakak selalu berharap bisa jadi kakak kalian di kehidupan mana saja. Salam untuk ayah dan ibu."
Irish menjerit saat jiwa Isaac melebur menjadi butiran kristal berkilau lantas melayang jauh ke angkasa malam.
"Jangan pergi! Jangan pergi. Kakak jangan tinggalkan aku!" Suara Irish pilu, gadis itu menangkapi butiran kristal itu satu persatu. Seolah mencegah Isaac menghilang. Nanto dan Somchai hanya bisa menunduk, melihat bagaimana terpuruknya Irish melihat kepergian Isaac. Sedang Ivan, pemuda itu hanya bisa diam dengan bulir bening mengalir di pipinya.
"Ai sudah Ai. Isaac sudah pulang."
"Tidak! Han bawa dia pulang! Aku mohon padamu!" Irish menangkupkan dua tangannya. Memohon pada Han. Han sesaat terdiam.
"Maaf." Irish ambruk di tempat jiwa Isaac tadinya berada. Dia tidak bisa percaya, Isaac pergi meninggalkannya.
"Kembali! Kakak... aku bilang kembali!" Jerit Irish pilu. Gadis itu menangis memeluk dirinya sendiri.
****
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
__ADS_1
****