Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Reuni


__ADS_3

Energi spiritual Irish membentuk benteng perlindungan untuk dirinya dan Han. Siapa yang mendekat akan terpental menjauh. Namun melihat banyaknya jiwa penasaran yang datang membuat Irish sedikit khawatir. Berapa lama dia bisa menahan mereka. Jika mereka terus-terusan menggempur bentengnya, lama-lama array itu bisa runtuh juga.


Irish mondar mandir di dalam perlindungan yang dia buat sendiri. Dia harus memikirkan cara untuk menjauhkan semua makhluk itu dari Han. Bagaimana caranya? Gadis itu lama-lama pusing juga. Terlebih beberapa jiwa bisa mendekati array perlindungannya tanpa terluka dan terpental.


Irish melihat ke arah Han yang terbaring di ranjangnya. Jiwa pria itu lemah, itulah yang membuat jiwa lain ingin masuk ke tubuh Han. Lama Irish menatap wajah pucat Han, mengabaikan jerit mengerikan di luar benteng spiritual yang dia buat.


Hingga kemudian tercetus sebuah ide. Irish membuka kembali luka di jarinya. Semerbak wangi darah Irish membuat jiwa-jiwa itu semakin menggila. Mereka kian brutal ingin mendobrak masuk. Mereka mencakar benteng transparan berwarna hijau itu dengan kuku panjang mereka. Mata merah menyala menyiratkan keinginan teramat besar untuk bisa mendapatkan darah Irish.


"Kalian ingin mendapatkan ini?" Tanya Irish sambil menggerakkan jarinya ke kanan dan kiri. Jiwa-jiwa tersebut menggeram kesal. Ingin sekali melompat menerjang Irish lalu menghisap darah gadis itu sampai habis.


"Sayangnya kalian tidak pantas mendapatkannya!" Irish meneteskan darahnya ke dahi Han, di mana simbol naga tersembunyi di sana. Setahu Irish, hanya Han yang sudah menandainya, sedang dirinya belum. Maka saat ini Irish sedang menandai Han sebagai mate-nya.


Dan efek dari penandaan oleh Irish begitu luar biasa. Pertemuan darahnya dan simbol naga itu menimbulkan cahaya hijau terang yang sangat menyilaukan mata. Irish bahkan sampai harus menutup rapat matanya. Rasanya sakit sekali. Bersamaan dengan itu, jerit kesakitan terdengar. Saat Irish membuka mata, jiwa-jiwa itu banyak yang memudar, terhapuskan, pulang.


Sinar itu meredup, meninggalkan butiran titik-titik serupa air yang memenuhi kamar Irish. Gadis itu tertegun sesaat, melihat kamarnya di liputi sinar kehijauan sampai ke luar jendela. Sampai suara bel berbunyi, bukan hanya ditekan tapi bel itu seperti ditekan terus tanpa jeda.


"Siapa sih? Biasanya juga langsung nongol." Gerutu Irish mengira itu duo hantu yang lagi on duty.


"Berisik ta...."


"Mbak tu yang berisik. Gak cepet bukain pintu!" Irish mematung di tempatnya, tidak menduga kalau Ivan yang datang. Ivan langsung menerobos masuk apartemen Irish.


"Woi...woi....mau ngapain?" Irish seketika mengejar Ivan yang sudah masuk ke dapur.


"Mbak tu yang ngapain, di telepon gak diangkat. Gak ngasih kabar, gak ngirim pesan. Papa sama mama kan cemas. Jadinya aku yang disuruh nyari Mbak." Ivan menenggak jus jeruk favoritnya. Lantas memandang tajam pada Irish. Sang kakak langsung cengo, tidak tahu harus menjawab apa.


"Mbak banyak kerjaan jadi nyepi dulu ke sini."


"Mbak gak lagi nyembunyiin sesuatu kan?"


"Maksudmu?"


"Mbak gak lagi berduaan sama pacar mbak yang kemarin itu kan. Siapa namanya Nanto Pramudya atau yang satunya lagi."

__ADS_1


Plakkk


Ivan meringis saat tangan sang kakak mengeplak lengannya. "Jangan sembarangan kalau ngomong. Lagian mbak gak ada apa-apa sama mereka."


Ivan memicingkan mata, melihat penuh selidik pada mbaknya. Sementara Irish balik menatap Ivan penuh tantangan. Ivan tahu benar kalau sang kakak tidak suka berbelit-belit. Tapi Ivan juga tahu kalau kakaknya punya satu rahasia besar.


Pemuda itu langsung mendorong minggir Irish, seketika menerobos masuk kamar sang kakak.


"Ivan jangan masuk ke sana!" Jerit Irish, namun semua itu terlambat. Sebab Ivan sudah berdiri di samping tubuh Han yang terbaring di ranjang sang kakak.


"Mbak ini siapa? Dia kenapa" Ivan bertanya dengan nada menuduh. Pikiran pemuda 18 tahun segera saja dipenuhi hal negatif soal sang kakak.


"Mbak bisa jelasin...."


"Mbak kumpul keboo?"


Plak, kali ini kepala Ivan yang jadi sasaran keplakan Irish. "Mbak kira-kira dong ngeplaknya, gegar otak ini yang ada." Keluh Ivan hampir menangis.


"Makanya kalau ngomong pakai aturan."


Irish mendengus kesal. Sang adik ini selalu saja punya cara untuk memaksanya bercerita soal rahasianya. Sementara Irish tengah berpikir akan bercerita dari mana, Ivan justru asyik mengamati wajah Han yang ia akui tampan, sangat tampan mungkin. Belum pernah Ivan memuji pria lain tampan selain dirinya sendiri.


"Sudah, cepet cerita." Ivan puas mengamati Han, setidaknya Han bukan dari kalangan bawah, meski keluarganya tidak masalah jodoh Irish dan Ivan berasal dari mana. Setidaknya wajah Han cukup membuktikan kalau pria itu orang kaya.


Irish menghela nafas. Entah keputusannya ini salah atau benar, gadis itu tidak tahu. Yang Irish tahu, semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang terlibat. Akan ada kemungkinan jatuhnya korban kian banyak. Saat ini ada Nanto yang sudah terkait dalam urusan dengan dunia iblis. Jika Ivan juga diberitahu, Irish takut kalau sang adik dalam bahaya. Ivan bisa saja jadi incaran Diavolo. Atau Ivan digunakan untuk mengancam dirinya atau Han.


"Masih diam?"


"Mbak takutnya kamu akan berada dalam bahaya. Ini bukan hal sepele, Van." Irish mencoba memberi tahu kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


"Aku gak takut mbak. Kan ada mbak di sini. Mbak gak akan biarin aku terluka kan?"


Masalahnya Irish tidak bisa menjaga Ivan setiap waktu. Sedang serangan dari jiwa penasaran dan iblis-iblis itu tidak kenal waktu.

__ADS_1


"Duhhh, kamu buat mbak dilema Van." Irish pusing sendiri jadinya.


"Aku bisa jaga diri mbak." Ivan menenangkan sang kakak.


Hening menyelimuti kamar Irish. Sampai kemunculan Isaac dan mbah putri membuat Ivan melompat ketakutan. Selama 18 tahun, Ivan tidak pernah melihat wujud makhluk tak kasat. Namun hari ini, kehadiran Isaac membuat pemuda itu berubah pikiran.


"Mbah putri kok bisa muncul tiba-tiba sih?" Ivan bertanya dari balik punggung Irish.


"Kau bilang selalu ingin melihat mereka. Nah itu ada. Tapi mbah putri bukan hantu. Yang disebelahnya itu baru hantu. Hantu paling tampan katanya."


Ivan melotot melihat Isaac. Sementara Isaac membimbing mbah putri untuk duduk di dekat Han. Ivan mengintip semua itu.


"Gak pengen kenalan?"


"Memang dia siapa?" tanya Ivan kepo.


"Kamu gak ngenali wajahku?" tanya Isaac balik. Ivan menggeleng pelan. Sementara Isaac langsung tersenyum. Pertama kali dia menampakkan diri pada orang yang mata batinnya masih tertutup.


"Aku Isaac Andromeda Aditama."


Mata Ivan melotot, saking terkejutnya. Melihat sosok kakak laki-laki yang sangat dia rindu.


"Mas Isaac...." Ivan mendekat ke arah Isaac tanpa takut. Ketakutan itu memudar seketika.


"Bisa peluk ya Mas?" pertanyaan konyol Ivan dijawab satu senyuman oleh Isaac. Dan reuni saudara itu akhirnya terjadi.


***



Reunian ya geeess


Up lagi readers. Sudah baca, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2