
Volturi memberi hormat pada Diavolo. Berada di rooftop sebuah gedung, berjarak beberapa blok dari tempat Briock berada. Raja iblis itu sesaat menatap takjup pada sang putra. Berumur 90 tahun, dan Briock masih terhitung remaja labil.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Raja Iblis Diavolo dall'Inferno." Volturi membungkuk di depan Diavolo. Sangat senang tuannya baik-baik saja, kembali dengan aura yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Dia benar-benar tempat yang tepat untuk putraku." Tanpa sadar Diavolo memuji Dea. Seolah tidak paham dengan perasaan Volturi. Si asisten hanya bisa diam, tanpa menyanggah. Apa yang bisa dia lakukan, hanya bawahan tanpa kekuasaan.
Briock sesaat tergugu, merasakan aura sang ayah yang begitu dekat. Namun emosinya mengatakan itu hanya tipuan. Briock memaksimalkan kekuatan badainya untuk menghancurkan bangunan di mana Irish berada. Satu keinginannya, menghabisi wanita yang konon ibunya juga pembunuh ayahnya.
"Kita tidak bisa mendekatinya." Suara Liong muncul di belakang Diavolo dan Volturi. Dua pria itu menoleh, melihat Liong, Naraku, Han, Teo dan.... Irish. Wanita yang Diavolo rindu.
Senyum pria itu mengembang. Sungguh, rasa itu tidak pernah pudar untuk Irish. Walau detik berikutnya Diavolo merasakan aura Han yang telah menyatu dalam diri Irish. Keduanya jelas sudah bersatu. Kecewa? Jelas, tidak rela? Tentu saja. Dia menunggu Irish begitu lama, melakukan segala cara untuk mendapatkan wanita itu, tetap saja pada akhirnya dia tidak memilikinya. Menyerah? Entahlah....Hanya saja, Diavolo cukup bahagia bisa melihat Irish baik-baik saja.
"Putramu sama rusuhnya denganmu!" Maki Teo. Lagi, senyum Diavolo mengembang. Isaac hidup lagi, padahal dia sudah jelas menghancurleburkan jiwa Isaac saat itu.
"Kenapa? Kau bingung aku bisa hidup lagi." Lanjut Teo melihat wajah datar Diavolo.
"Tidak juga. Aku tidak heran jika dia sudah punya keputusan." Diavolo memandang Liong. Tatapan Diavolo terhenti pada Naraku. Sial! Aura surgawi yang Naraku miliki membuat Diavolo geram. Bagaimana dia dulu begitu patuh pada dewa berkedok iblis ini.
"Putramu? Bagaimana bisa kau memilih Dea?" Bentak Irish. Diavolo mendekati Irish, dengan Han sigap melindungi, menyembungikan sang istri di balik punggungnya.
"Jadi kau ingin aku menanamkannya pada rahimmu...."
"Jaga bicaramu!" Pedang kristal muncul dan siap menebas leher Diavolo. Raja iblis itu menatap remeh pada Han. Dia tentu lebih kuat kali ini. Diavolo sudah hampir melempar Han, saat peringatan datang dari Irish.
"Kau menyentuh suamiku. Akan kuhabisi kau!"
Semua orang memutar matanya malas. Entah sampai kapan drama cinta segi embuh ini akan berakhir damai.
Suara angin yang berhembus kencang dengan bunyi atap bangunan yang mulai beterbangan mengalihkan pandangan mereka semua. "Mutiara hitam. Kau mengambilnya tanpa izin dariku!" Marah Naraku.
"Karena itu aku menyebutnya mencuri." Balas Diavolo santai. Naraku mendengus geram. "Kau kan punya banyak," gumam Diavolo lagi.
__ADS_1
"Tapi putramu menyalahgunakannya." Liong mengangkat tangannya. Hingga sebuah kubah pelindung terbentuk di atas mereka. Lingkupnya begitu luas, hingga mungkin satu kota masuk dalam dome pelindung itu. Para manusia kali ini ditidurkan oleh Liong dan diungsikan di sebuah tempat di sisi timur kota.
Naraku mencoba menembus pusaran angin yang mengelilingi Briock. Menjadikannya sebuah perisai tak tersentuh. Mata Briock terbuka merasakan serangan datang padanya. Satu hentakan dan Naraku terdorong ke belakang. "Darah pengantin roh dewa naga." Naraku berdesis pelan melihat ke arah Irish. Itulah kenapa mutiara hitam jadi berlipat kekuatannya.
"Bagaimana dia tahu semua ini?" Semua pandangan mengarah pada Volturi saat Teo bertanya.
"Dia senang mengurung diri di ruang baca dan ruang latihan." Balas Volturi dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Anak sama bapak ya gitu deh. Biang kerok! Tapi bukannya dia anak Dea. Harusnya dia ada baik-baiknya dong. Kan Dea baik." Celetuk Irish, wanita itu sama sekali tidak takut pada Diavolo seperti dulu, tidak berubah sama sekali.
"Ck....bisa tidak kau itu takut sedikit padaku? Kau semakin membuatku penasaran tahu." Sahut Diavolo.
"Aku? Takut padamu? NO WAY!! Siapa kau sampai aku harus takut padamu!" Han dan Teo tersenyum mendengar jawaban Irish, serta puas melihat wajah kesal Diavolo.
Serangan datang dan semua orang sigap menghindar. Naraku melesat maju, mencoba menembus pertahanan Briock. Di belakangnya Han menyusul. Berusaha membuka jalan untuk Naraku. Mungkin Naraku bisa menemukan cara untuk menghentikan badai yang Briock ciptakan.
"Kalian melukai putraku, awaas ya!" Diavolo memperingatkan, tapi satu keplakan di lengannya membuat raja iblis itu menoleh.
"Ingin rasanya aku memukul kepalamu, tapi karena aku kalah tinggi, jadi aku keplak saja lenganmu. Di mana-mana kalau anak salah, orang tuanya terutama, harus meluruskan. Nah karena anakmu ngeyel kayak bapaknya, terpaksa harus pakai kekerasan. Dengan resiko terluka. Paham bang?" Irish malah berceramah di depan raja iblis yang justru menikmati ocehan istri Han itu.
"Jangan mimpi! Kau tahu, aku cinta dia."
"Sial!!!" Teo dan Liong tersenyum, cukup senang melihat ekspresi kesal Diavolo. Di depan sana, Han mengulum senyum mendengar ucapan Irish. Di sebelahnya, Naraku menggumam marah.
"Hai, yang aku tahu dewi surgawi lebih cantik kenapa kau lebih menyukai istriku?"
"Diam!!!" Raung Naraku, melayang di tengah pusaran angin yang Briock ciptakan. Dua tangan Naraku perlahan bergerak di depan dadanya. Membentuk sebuah pola sihir rumit.
"Hei...kau tidak bisa menggunakannya di sini. Terlalu berbahaya." Han memperingatkan.
"Ini khusus untuknya. Aku tidak peduli jika dia terluka." Setelah pola sihir selesai terbentuk, bola api ungu terbentuk, benda itu seketika meluncur ke arah Briock.
__ADS_1
"Naraku awas kau!" Teriakan Diavolo membuat fokus Briock terganggu.
Aarghhhh, vampir labil itu terhuyung mundur. Bukannya reda, badai justru semakin hebat. Kemarahan Briock kian besar. Satu badai menghantam Naraku, hingga pria itu terpental ke tanah. Pria itu mengerang lirih, memegangi dadanya.
"Dia harus dikendalikan dengan cara lain." Bisik Naraku. Di atas sana Han dan Teo yang bergerak menyerang Briock.
Dua pedang mereka berpendar di tengah pusaran angin Briock. Pedang kristal dengan cahaya putihnya dan pedang Teo dengan cahaya birunya. Hebat sekali, Briock mampu mengimbangi serangan Han dan Teo. Kemampuan berpedang Briock sangat luar biasa.
Han melesat maju, kali ini dia bisa mendekati Briock, Han menebaskan pedangnya dan Briock menahannya dengan pedang merah milik sang ayah. "Kau salah paham dan salah sasaran Bri!" Desis Han.
"Aku tidak kenal kau!" Briock mendorong Han, hingga pria itu terjengkang ke belakang. Giliran Teo yang maju. Bunyi benturan pedang terdengar nyaring di tengah deru angin.
"Kau sudah mati!" Kata Briock di sela duel mereka.
"Ya, dan ayahmu yang membunuhku!"
"Bohong!"
"Cukup Bri! Ayah dan ibumu masih hidup! Itu faktanya!"
Aaarrghhhh, Briock terjengkang ke belakang, dia kehilangan fokus dan Teo berhasil menjatuhkannya.
"Kalian bohong!"
"Oh ayolah, takkan kau tidak bisa merasakannya." Briock menajamkan inderanya, benar memang ada aura sang ayah di sana.
"Tidak mungkin!" Gumam Briock.
"Dan ibumu bukan Irish, tapi wanita lain." Kata Teo.
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***