
Briock berupaya mencerna ucapan Teo dan Han, tapi yang terjadi justru Briock semakin marah. Dia kekeuh berpikir kalau semua orang menipunya. Keras kepala dan bodoh, apa dia mewarisi sifat itu dari ayahnya? Entahlah. Kali ini ini amarah Briock mencapai puncak. Dengan tenaga berlipat dia melempar semua orang ke segala arah. Bahkah Liong yang notabene salah satu dewa langit pun kewalahan saat mencoba mendekati Briock.
"Kalian semua pembohong!" Teriak Briock.
Diavolo mencoba masuk ke pikiran sang putra, berkomunikasi dengan Briock, tapi yang terjadi Briock justru menolak pikiran Diavolo. Pria itu bahkan sampai meringis lirih saat Briock juga menyerang pikirannya.
"Dia tidak bisa dibiarkan!" Liong bergerak, mendekati Briock yang semakin menggila. Bukan lagi badai, tapi tornado dengan kecepatan mengerikan yang vampir itu ciptakan.
"Bagaimana bisa kita semua kalah menghadapi vampir labil itu?" tanya Teo tidak percaya.
Bersamaan dengan Liong yang mendekati Briock, Han juga melakukan hal yang sama. Tanda roh dewa naga pada dua orang itu bersinar terang, pun dengan tanda api di dahi Briock.
"Kalian tidak akan bisa mengalahkanku!" Briock menggeram, gelombang kekuatan yang maha dahsyat terbentuk, baik Liong maupun Han coba bertahan menggunakan pedang masing-masing. Heran, bagaimana bisa Briock menjelma jadi sosok yang kekuatannya melebihi sang ayah yang masih menyandang gelar raja iblis.
"Kita harus menggunakan cara lain, dia harus diredakan amarahnya. Aku pikir sihir gelap menguasainya." Seru Liong.
Naraku melesat ke depan, mencoba menghentikan Briock, pedang pria itu bergerak cepat, menghunjam pusat tornado. Sejak awal Naraku memang tidak peduli pada keselamatan Briock. Dia hanya ingin menghentikan tornado yang kian meresahkan ini.
"Hentikan semua ini vampir bodoh!" Naraku berteriak keras. Berpikir kalau dia sudah berhasil melukai Briock, nyatanya tidak. Briock menyeringai, sambil menahan pedang Naraku dengan satu tangannya. Gila! Sebenarnya seberapa besar kekuatan Briock? "Kau ingin membunuhku bukan? Kau tidak akan bisa!" Sreet, kuku tajam Briock muncul, dalam sekelip mata, Naraku terpelanting jauh setelah Briock melukai Naraku menggunakan cakarnya.
Mata Naraku membulat, merasakan panas luar biasa menyerang dirinya. "Kau tidak apa-apa?" Irish keluar dari array pelindung yang Han ciptakan khusus untuknya. "Kenapa keluar, bodoh?!" Umpat Naraku.
Senyum Briock melebar, pria itu memusatkan energinya, seketika sebuah tekanan menguras energi spiritual semua orang. Tanpa terkecuali. Bahkan Diavolo sampai tidak percaya jika Briock mampu melakukan hal sebesar ini. Secara bersamaan tubuh Liong, Han, Teo, Diavolo, Volturi ambruk. Energi mereka terkuras hampir habis. Tinggal Naraku yang aman, karena perlindungan alami dari Irish. Si penawar segala hal buruk.
"Pergilah!" Perintah Naraku.
"Tidak! Aku harus menyelamatkan semua. Suami dan kakakku ada di sana!"
Briock melayang mendekat ke arah Naraku dan Irish. Untuk sesaat, vampir itu terpesona pada sosok Irish. "Senang bertemu denganmu ibu."
Irish menoleh ke arah Briock, mendapati sosok mirip Diavolo melayang dua meter di atasnya. "Aku bukan ibumu! Aarrgghhh!!! Anak Diavolo brengsek!" Maki Irish dengan nafas terengah. Briock mencengkeram tubuhnya menggunakan badai.
"Berani kau menghina ayahku! Karena kau membencinya, kau membunuhnya!" teriak Briock.
__ADS_1
"Astaga! Diavolo muncullah, anakmu semakin gila!" mulut Irish dibekap. Hingga apa yang dia ucapkan tidak bisa didengar. Wanita itu meringis, tubuhnya serasa diikat dengan tambang.
"Aku benci padamu! Meski kau adalah ibuku!"
Pusaran angin kembali terbentuk, kali ini Briock membawa Irish ke dalam putaran badai yang dia ciptakan.
"Tidak! Jangan lukai dia!" Han berteriak keras. Semua orang berusaha bangun. Mendekati tornado, Naraku tidak berkutik kala pedang Briock melukai dadanya saat pria itu ingin menyelamatkan Irish.
"Sudah aku katakan, aku bukan ibumu! Dan ayahmu masih hidup!" Kata Irish berulang kali. Dia tidak takut mati, hanya takut tidak bisa bersama Han dan keluarganya.
"Kau bohong!"
"Briockkk dall'Inferno...hentikan semua!!"
Satu teriakan membuat semua orang menoleh, tak kerkecuali Briock. Dea dan Ivan muncul dari arah tangga darurat. Nafas keduanya terengah. Semua orang menarik nafasnya lega.
"Tante...." gumam Briock.
"Dia bukan tantemu, tapi ibumu!" Pekik Irish cepat. Mata Briock melotot.
"Mbak Dea, jangan ke sana." Ivan memperingatkan Dea.
"Dia anakku Van, putraku. Dia marah, jadi aku harus membujuknya. Jika tidak, dia akan melukai mbakmu dan semua orang." Dea masih berusaha percaya dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
Dea menepis tangan Ivan, berjalan perlahan menembus angin tornado ciptaan sang putra. Putra? Dea menangis tidak percaya saat Ivan berlari membawanya naik mobil, disertai sebuah penjelasan yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Dia punya seorang putra dengan raja iblis bernama Diavolo, putranya seorang vampir dan kini sedang mengamuk di kota.
Wanita itu tentu tidak percaya terlebih saat Ivan memberitahu kalau Briock putranya. Air mata mengalir saat Dea mendekati Briock, sosok remaja yang beberapa waktu ini menempel padanya adalah anaknya. Tubuhnya beberapa kali terhuyung ke belakang saat melawan angin yang menerjangnya.
Hingga Han dan Liong, berdiri di depan Dea. Menggunakan sisa energi mereka untuk membuka jalan bagi Dea. Juga satu sosok yang berjalan di samping Dea. Wanita itu menoleh, mendapati Diavolo di sana.
Mereka semakin dekat pada Briock. Saat itulah dia melihat Briock yang tengah mencekik Irish dengan tangannya. Semua orang tentu panik. Hingga Dea menabrak tubuh Liong dan Han.
Dea dengan cepat berlari ke arah Briock, tanpa ragu langsung memeluknya. "Hentikan Nak, ini ibu." Mata Briock langsung menatap Dea. Wanita yang menyebut dirinya ibu. Juga satu sosok yang berjalan di belakang Dea.
__ADS_1
"Ayaahhh."
Bruukkkkk, tubuh Irish jatuh dalam pelukan Han, tidak sadarkan diri. Han jelas panik. Tubuh wanita itu membiru dan juga dingin. Liong dengan cepat menekan dahi Han dan Irish bersamaan. "Jangan pergi." Lirih Han, pria itu merasa kalau jiwa Irish sangat lemah.
"Aku ibumu, jangan melukai orang lain. Ayaahmu tidak meninggal. Hanya melakukan meditasi seperti yang uncle Volturi katakan."
"Hentikan semua, Bri." Suara tegas sang ayah seolah menghipnotis vampir labil itu. Angin tornado perlahan memudar, awan mendung mulai menghilang. Cuaca beranjak normal. Teo membantu Naraku, sedang Ivan bergerak ke arah Irish yang masih belum sadarkan diri.
Diavolo mendekati sang putra, tangannya menyentuh tanda api di kening Briock, pria itu sesaat memejamkan mata, menghilangkan pengaruh sihir buruk dalam tubuh sang putra.
Liong masih menyalurkan energinya dan Han untuk menaikkan energi spiritual Irish. Briock menyerap energi Irish hampir melewati batasnya.
"Ibu, ini benar ibu?" Briock bertanya tidak percaya, setelah Diavolo selesai dengan ritualnya. Dea menggigit jarinya, mengulurkannya pada Briock. Vampir itu menghisapnya, sambil melihat Dea. "Pantas rasanya beda." Gumam Briock konyol.
"Tentu saja beda. Kau asal gigit istri orang." Marah Diavolo. Lah keluarga cemara itu malah bertingkah absurb, padahal di sebelah sana, yang lain masih merasa cemas. Meski tubuh Irish mulai menghangat dan memerah. Tapi wanita itu belum juga sadar.
"Bagaimana dia?" Dea bertanya lirih.
"Kamu ini ke mana saja sih. Lama sekali datangnya. Lihat kelakuan anak pampirmu ini. Kacau kek bapaknya." Marah Teo. Di sebelah sana, tampak Briock yang memeluk ayahnya. Dasar bocah labil, rona wajah Briock berubah cepat. Dari marah menjadi bahagia.
"Belum juga bangun tante ibu ini." Kata Briock enteng. Benar-benar tanpa rasa bersalah.
"Awas lu ye kalau sampai mbak gue kenapa-napa." Ancam Ivan.
"Mau bangunin dia, gampang Om." Briock menyingkirkan Liong, yang seketika menggeram marah pada Diavolo. Briock hanya menempelkan jarinya pada bekas gigitannya di leher Irish. Memejamkan mata sejenak, dan whaaaa....Irish terbangun seperti orang bangun tidur.
"Tuh kan tante ibu sudah bangun."
"Dasar anak nakal!" Dea menjewer telinga Briock, meski berikutnya wanita itu kembali memeluk sang putra. Pun dengan Han yang memeluk Irish. Semua orang bisa menarik nafasnya lega. Kekacauan vampir labil sudah bisa diatasi.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
__ADS_1
***