Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Hal Buruk


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Biar mata melek readers 🤭🤭😍😍


Han seketika menoleh pada Isaac, tidak terima dengan ide hantu pria itu. Membawa Nanto ke hadapan raja iblis sama saja seperti mengumpankan asistennya pada Diavolo.


"Itu sangat berbahaya, bagaimana jika dia melukai Nanto." Pada Isaac dan Meli, Han mengenalkan Nanto sebagai temannya yang bekerja di Shine Hotel, karena itu dia bisa menginap di sana. Dengan biaya murah, karena Han mau ditempatkan di lantai yang jarang dipilih tamu untuk menginap.


"Aku jamin tidak. Ada ayahku di sana." Isaac meyakinkan Han. Diavolo tidak akan berani berbuat macam-macam di depan Lendra. Han sesaat melirik pada Nanto yang terlihat takut tapi juga kepo pada Meli.


"Meli dan aku akan membantunya." Bujuk Isaac.


"Kenapa bukan aku saja yang menemuinya. Aku tidak takut padanya."


"Aku tahu kau tidak pada siapapun. Bahkan raja neraka pun kau tidak takut."


"Mau pulang ya?!" Geram Han. Dia sudah serius, eh Isaac malah sibuk bercanda. Isaac melebarkan senyumnya. Tahu sudah membuat Han kesal.


Han berjalan mondar mandir tidak karuan, mempertimbangkan usulan konyol Isaac. Sesekali Han menoleh ke arah Nanto yang mulai mengobrol dengan Meli meski sedikit takut.


"Cepatlah Han. Nanti keburu ayahku percaya kalau Irish tidak punya orang yang dia suka.


"Memangnya dia suka padaku?"


"Kau tanyalah itu sendiri nanti. Sekarang yang penting aku akan bawa Nanto masuk."


"Ehhhh, aku mau dibawa ke mana?" Nanto protes karena Isaac asal menariknya masuk ke rumah besar yang ada di depannya.


"Mau...mau....ngapain mas hantu?" tanya Nanto takut setengah mati.


"Diamlah dan ikuti saja aku. Daripada aku teror kau nanti!"


Nanto menelan salivanya susah payah. Hidupnya yang normal seketika berubah jadi abnormal hanya dalam waktu setengah hari. Dia bertemu satu hantu dengan kecantikan spek bidadari. Juga hantu pria paling tampan yang pernah dillihat Nanto selama mata batinnya terbuka.


Sampai depan pintu, Nanto berhenti. Melirik ke arah Isaac yang memberi kode untuk masuk. Nanto menarik nafasnya. Kenapa juga tiba-tiba dia berurusan dengan para hantu dan raja iblis, ditambah apalagi sekarang ini. Berpura-pura menjadi kekasih adik mas hantu, yang wajah saja dia tidak tahu. Hanya karena Han belum bisa muncul di hadapan raja iblis.

__ADS_1


"Raja Iblis? Alamak! Habis sudah hidupku hari ini. Aku bakalan mati di hap sama rajanya para hantu." Batin Nanto pasrah dalam hati.


Seorang ART langsung mengantar Nanto ke ruang tamu, di mana Irish langsung berdiri menyambut Nanto. Bisa Nanto lihat Isaac baru saja membisikkan sesuatu ke telinga sang adik. Mata Nanto sesaat terkejut melihat Irish. "Tuh kan bener. Mbak ini anaknya pak Lendra." Batin Nanto lagi.


Namun rasa terkejut itu hilang tergantikan oleh rasa horor dan teror, yang seketika merayap di diri Nanto saat dia melihat Lendra, dan satu pria yang auranya langsung menunjukkan kalau dialah si raja iblis.


"Mampus aku! Yang satu iblis dunia manusia yang satu iblis dunia iblis."


Saliva Nanto sangat susah ditelan meski pria itu mencoba berkali-kali. Irish menggandengnya tanpa segan. Berjalan mendekat ke arah sang ayah.


"Yah...kenalkan ini..."


"Kamu Ananto Pramudya kan? Asistennya Yuda Irawan?" tanya Lendra segera.


"Pak Lendra kenal saya?" Nanto bertanya heran.


"Hanya tahu. Lalu apa benar kamu kekasih Irish?"


Pertanyaan to the poin Lendra membuat Nanto serasa berdiri di tepi jurang. Dijawab mati, tidak dijawab tetap saja nyemplung ke dasar jurang. Terlebih pandangan dari pria yang oleh Meli disebut sebagai raja iblis.


***


***


"Gila, mas Han. Orang itu, eh raja iblis itu cakep tapi auranya melebihi setaan kuburan." Celetuk Nanto. Mereka sudah berada di apartemen Irish. Basecamp mereka sekarang.


"Lah emang dia rajanya penghuni kuburan." Timpal Han cepat.


Meli seketika mengeplak lengan Han. "Apaan sih, itu kan emang bener."


"Jangan bercanda dong. Ini bagaimana urusannya?" tanya Nanto panik.


"Ya begitu deh." Balas Meli cuek.


"Pokoknya mulai malam ini, aku gak mau tinggal sendirian. Aku nebeng di tempatmu ya mas Han. Tidur di sofa juga gak apa-apa." Isaac mencibir Nanto yang terlihat sangat ketakutan. Diiringi Irish yang melihat lucu ke arah Nanto.


"Dia lucu juga ya." Celetuk Irish tiba-tiba. Han seketika melihat ke arah Irish. Mode cemburu pemuda itu mulai on. Sudahlah raja iblis turun ke dunia untuk menemui Lendra, ini ditambah Irish yang membuat onar dengan mengatakan kalau Nanto lucu. Sengaja kali ya tu cewek buat Han keki sendiri.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh ya kamu!"


"Apaan sih?" Elak Irish. Gadis itu sebenarnya hanya sekedar berucap. Tidak sungguh-sungguh. Satu hal yang mungkin tidak Han sadari. Irish mulai terpikat pada pesona di pemuda tengil itu. Han memang kekanakan. Namun dalam beberapa kesempatan, Irish melihat keseriusan pemuda itu akan perasaannya pada dirinya. Irish bisa melihat cinta yang Han punya untuknya.


**


**


Di tempat lain, Diavolo tampak termenung. Dia tahu bukan Nanto mate Irish. Nanto hanyalah pengalih perhatian untuk Lendra. Bukan untuknya. Aura Nanto bukanlah hal yang melindungi Irish.


"Kau menemukannya?" Diavolo bertanya tanpa basa basi saat Volturi muncul.


"Dugaan Anda benar. Dia lah orang yang punya aura sama dengan pelindung Irish Isabel Aditama." Balas Volturi cepat.


"Benarkah?" Diavolo tersenyum puas. Volturi lantas membeberkan apa yang dia dapat dari penyelidikannya. Dengan Diavolo setia menyimak.


"Kalau begitu mari ucapkan salam padanya. Aku sungguh ingin bertatap muka dengannya."


Han mempercepat langkahnya, saat dia merasa aura hitam yang besar mengikutinya. Pria itu sedang berada di luar untuk membeli bahan makanan. Han selama ini memasak sendiri. Berusaha menyesuaikan lidahnya dengan masakan di sini.


Pemuda itu mencari tempat yang sepi untuk menemui siapa yang sudah mengundangnya untuk bertemu. "Aku pikir masih bisa menunda pertemuan kami. Tapi sepertinya ini tidak bisa dihindari lagi. Jadi apa boleh buat. Mari kita hadapi semua." Batin Han.


Sementara itu Somchai langsung membuka mata, saat lonceng di Wihara Longchan berbunyi bersamaan karena tiupan angin kencang. Keadaannya sama seperti waktu kandungan Han berusia tujuh bulan dan saat Han akan lahir. Persis seperti ini.


Somchai lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersemedi dan menyendiri. Memantau setiap pergerakan Han di negeri seberang. Dari semua hari yang Somchai awasi, hari ini mungkin akan jadi hari paling buruk dalam hidup Han. Rasa tidak tenang seketika merasuk ke dalam hati dan jiwa Somchai.


Pria yang telah mengukuhkan diri akan meninggalkan nikmat duniawi selain makan dan minum ini, kini punya indera keenam yang sangat tajam. Hasil dari meditasi dan pemusatan pikiran. Pikirannya bisa menyatu dengan Han.


"Apa hal buruk akan terjadi hari ini. Aku harap tidak."


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2