
Kredir Pinterest.com
Bunyi menggelegar terdengar di kejauhan. Petir menyambar semakin kerap dengan suara memekakkan telinga. Cahayanya berkelap kelip di langit. Dua tangan Irish terangkat di kedua sisi tubuhnya. Penampilannya juga sudah berubah. Mengenakan gaun hitam panjang. Dengan mahkota bertengger di atas kepalanya, mahkota dengan rupa hitam berkilau. Rambut panjang Irish teriak terbang ditiup angin yang berhembus.
"Van, mbakmu jadi setan." Oceh Nanto tanpa sadar.
"Sembarangan kalau ngomong!" Kesal Ivan. Meli yang baru saja di hempaskan ke tebing oleh Irish tampak terluka. Pun dengan Isaac yang terlihat sangat lemah.
Tawa Naraku terdengar begitu puas. Pria dengan aksen wajah begitu kejam, disertai rambut hitam panjang itu berjalan menjauhi Isaac. "Hancurkan semua, ratuku," perintah Naraku. Berdiri tepat di hadapan Han. Memandang remeh pada pemuda itu.
"Jangan menyakitinya!" Ivan berlari ke arah Han. Tapi satu pukulan tak kasat mata datang dari Irish. "Mbak! Ini aku!" teriak Ivan sambil memegangi dadanya, sakit bagai kena pukul preman pasar. Suara Ivan tentu tidak digubris oleh Irish. Mata Irish berubah merah dengan tatapan lurus ke depan. Di kejauhan suara ledakan terjadi. Tidak cuma sekali namun suaranya seperti ledakan yang terus menerus terjadi.
Gedung-gedung mulai amblas disertai percikan kilatan api yang memicu kebakaran. Semua orang berlari ketakutan, menjauh, mencoba mencari tempat aman untuk berlindung. Permukaan air laut tiba-tiba naik secara mengejutkan. Tak berapa lama gelombang air laut mulai menyapu pemukiman penduduk. Alarm peringatan dini akan terjadinya tsunami berbunyi keras di berbagai wilayah garis pantai.
Irish mengangkat kedua tangannya lurus ke atas. Kali ini tanah amblas terjadi di beberapa tempat. Puluhan orang terperosok ke dalamnya. "Mbakmu gila Van, dia mau ngancurin kota. Kiamat Van, kiamat!" Bisik Nanto panik. Kekacauan terjadi di mana-mana.
"Kau tidak ingin bangun dan melihat kehancuran kota ini? Atau kau ingin Irish memperluasnya ke kota lain. Tidak masalah. Kekuatannya cukup untuk menghancurkan beberapa kota. Aku pikir itu cukup untuk menampung anak buahku yang sebentar lagi datang."
"Jangan sampai dia membuka portalnya." Isaac berteriak keras. Detik berikutnya jiwa Isaac tumbang. Tebasan pedang Naraku melukai jiwa Isaac. "Tidaakk!" Meli berteriak ketakutan.
Duaaaarr
Suara ledakan terjadi lagi. Irish benar-benar membumihanguskan kota. Membinasakan mereka yang tidak berdosa. Dipastikan banyak korban jiwa berjatuhan dalam hilangnya kendali Irish pada dirinya sendiri. Langit berubah merah, efek dari kebakaran yang terjadi di tiap sudut kota.
"Aaaarrrgggghhh."
__ADS_1
Irish meringis memegangi kepalanya. Saat sebuah kekuatan asing mencoba menerobos masuk ke benaknya. Mata merah Irish menatap nyalang pada Asna dan Somchai. Irish menggeram marah, dan satu serangan membuat dua orang itu rubuh. Masing-masing memuntahkan darah.
Ivan dan Nanto langsung berlari ke arah keduanya. Ivan jelas menangis saat mbah putrinya tidak lagi bernafas. Sedang Somchai terluka dalam. Isaac berjalan perlahan.
"Mbah akan menemanimu sampai akhir."
Air mata Isaac luruh tidak terbendung. Pedang birunya menyala terang. "Tidak Isaac. Jangan pergi!" tangis Meli pecah. Dengan keadaannya sekarang, Isaac tidak akan bisa melawan Naraku.
"Kau ingin menyusul mereka? Akan kukabulkan keinginanmu!" Naraku meninggalkan Han yang tanda di dahinya bersinar kian terang. Segel roh dewa naganya hampir sempurna terbuka.
Pertarungan tidak seimbang antara Isaac dan Naraku pun terjadi. Jiwa Isaac sudah sangat lemah. Hingga dalam beberapa kali serangan. Jiwa Isaac kembali terpuruk. Sementara air laut mulai menerjang kota. Merobohkan gedung-gedung pencakar langit. "Mereka perlu ruang yang luas saat datang." Gumam Irish.
Saat itulah, satu sosok muncul di depan Irish. Diavolo langsung mendekat ke arah Irish, tanpa ragu lantas mencium bibir Irish. Fokus Irish pecah. Mata gadis itu bersitatap dengan mata Diavolo. Dengan bibir keduanya saling menempel. Detik berikutnya, satu pagutttan intens terjadi. Baik Diavolo maupun Irish terlihat sangat menikmati. Untuk beberapa waktu keduanya terlibat adu bibir panas di angkasa. Sampai mata Irish kembali berubah merah. Dan gadis itu segera menghempaskan tubuh Diavolo.
Braakkkk, tubuh Diavolo meluncur turun menghantam tanah. Pria itu mengerang menahan sakit. Namun ada senyum samar di bibir Diavolo. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Satu mutiara hitam kini sudah berpindah ke tubuh Diavolo. Mutiara pemurni jiwa. Sepertinya tidak ada yang sadar dengan kejadian itu.
Sebab Naraku tengah bersiap menghabisi Isaac. Dengan Irish kembali fokus pada kesukaannya. Menghancurkan kota. "Kita bisa mulai membuka portalnya, ratuku." Kata Naraku, sebelah tangannya terangkat ke atas. Dan sebuah trisula muncul di tangan Naraku. Tombak berujung tiga dengan mutiara hitam di berada di tengah. Tongkat itu melayang ke arah Irish yang sigap menangkapnya.
"Kau akan mati sekarang tanpa tahu betapa besar kekuatan yang aku miliki." Kata Naraku sembari menatap tajam ke arah Isaac yang berusaha berdiri.
"Aku jamin kau tidak akan bisa melakukannya." Sudut mata Isaac bisa menangkap kalau aura Han sudah mencapai puncaknya. Geram, Naraku segera mengikat tubuh Isaac hingga tidak mampu bergerak dan menghindar. "Mati kau!" Pedang Naraku melesat cepat ke arah Isaac yang seketika membulatkan mata. Melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
Meli roboh, saat pedang Naraku menembus jiwanya. Pedang itu menikam di tempat di mana jantung manusia normal berada. "Tidak!!!!" teriak Isaac pilu. Isaac melepaskan diri dari jerat Naraku. Bergerak maju untuk menangkap Meli. "Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini?"
Meli tersenyum. "Aku gak mau ditinggalkan. Jadi aku pergi dulu."
"Jangan pergi Mel." Sahut Isaac cepat. Namun saat itu, jiwa Meli sudah hancur.
__ADS_1
"Aku suka padamu Isaac. Meski cuma sebentar bersamamu, tapi aku tidak pernah menyesal menjadi hantu. Karena aku bisa bertemu denganmu." Ucap Meli sebelum berubah jadi titik-titik kecil seperti butiran debu berkilau. "Tidaakkkkkk!" Isaaac memeluk tubuh sisa jiwa Meli yang kini menguar ke angkasa.
"Lemah! Kau ingin menyusulnya? Tidak masalah!" Serangan kembali datang dari Naraku. Tidak ada perlawanan dari Isaac, pria itu begitu terpukul dengan kepergian Meli. Uhuukkk, darah muncrat dari mulut Isaac, saat serangan Naraku berhasil melukainya. Isaac seolah pasrah pada nasibnya. Dia mendengar teriakan dari Ivan dan Nanto yang menyuruhnya bangun. Namun melihat sang adik, yang kini berhasil membuka pintu penghubung antara dunia iblis dan dunia manusia membuat Isaac putus asa.
"Bersiaplah menyusul kekasihmu!"
Bola api hitam muncul di angkasa langit malam. Isaac tersenyum kecut. Dia akan habis dengan jiwa hancur berkeping-keping. Bola api itu perlahan mulai bergerak ke arah Isaac, makin lama makin cepat. Isaac menutup mata saat hawa panas itu bersiap memanggang dirinya.
"Maaf Han, aku lelah."
Blurrrr
Duarrrrrrr
Bola-bola api itu meledak membentur satu pelindung yang menaungi Isaac. Pun dengan Ivan dan Nanto yang melongo melihat pendar sinar terang mengelilingi Han.
"Cukup bagimu membuat kerusakan di wilayahku." Suara itu terdengar membuat semua orang menoleh ke arah atas.
Aargghhhhhh."
Tubuh Irish kini berada dalam dekapan Han yang dikelilingi seekor naga putih. "Lepaskan aku!" teriak Irish. Irish berontak ingin melepaskan diri. Namun Han sama sekali tidak mau melepaskannya.
"Jangan kau sentuh dia!" Naraku berteriak cemas. Tawa Han menggema, mengejek ke arah Naraku. "Kenapa? Kau takut kalau aku bisa memurnikannya?"
Naraku mendelik mendengar ucapan Han. Bukan itu masalahnya. Irish adalah kekuatannya sekaligus kelemahannya.
***
__ADS_1
Up lagi reader. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****