
Malam semakin larut, sebagian besar orang sudah kembali ke kamar masing-masing. Han secara khusus menggunakan satu lantai di bawah lantainya, untuk menginap keluarga dan saudara Irish yang otomatis jadi saudaranya sekarang. Pria itu tengah mengantarkan ayah dan ibunya ke kamar mereka.
Tinggal Irish sendiri yang kesusahan membuka gaunnya, tadi ada kang make up yang membantunya menaikkan resleting gaunnya. Lah sekarang? Masak nungguin Han datang. Ha? Wajah Irish seketika memerah, mengingat mereka sudah menikah. Dapat berondong dia. Irish terkekeh sambil tangannya terus berusaha menggapai bagian belakang pakaiannya.
"Susah bener sih." Gerutu Irish. Tanpa dia tahu Han sudah kembali ke kamar itu. Han sungguh lelah hari ini, pria tersebut menatap kamar yang sudah ditata dengan hiasan banyak bunga di sana sini. Taburan kelopak mawar tampak bertebaran di lantai. "Memangnya apa yang mau dilakukan? Malam pertama? Unboxing? Capek begini." Gumam Han pelan, melepaskan jas, vest yang sejak tadi serasa membelit tubuhnya. Melonggarkan kancing di lengan dan bagian leher.
Pria itu berjalan masuk, dimana bibir Han langsung tersenyum tipis. "Perlu bantuan?" Tubuh Irish menegang saat tangan hangat Han menyentuh tangannya. Untuk pertama kalinya dia berduaan dengan seorang pria dengan status suami istri.
Bisa Irish rasakan, tangan Han menarik turun resleting gaunnya. Gadis itu dengan cepat berbalik saat gaunnya hampir melorot turun. "Terima kasih." Irish berlari cepat ke kamar mandi.
"Ck...main lari, kasih upah gitu." Omel Han, pria itu melemparkan tubuhnya ke kasur dengan taburan kelopak mawar. "Dah kayak di kuburan aja wanginya." Perlahan Han memejamkan mata. Pegal rasa kakinya. Dia harus berlari menerobos kemacetan selama hampir 15 menit menuju hotelnya.
Dia harus berlutut di hadapan Lendra agar pria itu mau menerima lamarannya, setelah si hantu merasuki seorang stafnya, untuk bersaksi kalau dia melihat Eric dan seorang wanita bercinta. Di tambah dia harus di make up super kilat dengan Nanto yang kelabakan mencarikan tuksedo untuk si bos. Sepuluh menit dan dia siap menjemput Irish yang lebih suka memandang lantai dari pada melihat dirinya. Resepsi dengan ratusan undangan, stand by selama dua jam. Untung tamu cuma ratusan kalau ditambah dengan relasinya dan sang ayah, yang datang bisa ribuan.
"Kagak sanggup gue!!" teriak Han. Pasalnya si Phoo menginginkan pesta di Chiang Mai. Dengan alasan putra sulung nikah kok pestanya nebeng pihak perempuan, ndak elok. Pasha bahkan berencana mengirim seserahan susulan, mengingat Han hanya memberi Irish sebentuk cincin yang untungnya berlian. Mengikut adat Jawa ada beberapa barang yang kena diberikan pihak pria pada pihak wanita sebagai tanda pinangan.
"Sakkarepmulah." Gumam Han dengan mata setengah terpejam. Seulas senyum terukir di bibir Han, dia menikah hari ini. Dengan Irish, gadis yang sebenarnya sudah dia nikahi tiga tahun lalu.
Irish dibuat melongo, melihat Han yang sudah tidur telentang di kasur besarnya. "Mandi dulu napa? Gak lengket apa badannya?" tanya Irish sambil melepaskan sepatu sang suami.
"Capek Ai. Acaranya besok aja ya." Masih bisa menjawab dia, batin Irish. Gadis itu perlahan mengurai gasper Han, kata Ivan itu mengganggu pria tidur. Padahal alasan sebenarnya adalah agar celana lebih longgar saat si itu bangun. Irish dikibulin si bungsu.
__ADS_1
"Acara apaan?" gumam Irish, bingung sendiri, harus tidur di mana dia.
Di lantai bawah, ternyata masih ada beberapa orang yang berkumpul, belum masuk ke kamar. Ada Nanto, Ivan, Teo, Dea, bahkan Meli pun ada di sana. Dan yang mengejutkan adalah sosok Briock juga ada di sana. Bisa dibayangkan bagaimana waspadanya Teo pada pria yang oleh Dea diakui sebagai keponakannya itu.
"Vampir? Dari mana Dea mengenal pria ini?" Batin Teo, mendekatkan diri pada Meli. Jelas kalau Dea tidak tahu siapa Briock. Dua gadis itu sibuk mengoceh berdua, dengan Nanto dan Ivan sibuk membahas acara unboxing sang kakak akan seperti apa.
"Gue jamin mbakmu bakal nangis kejer malam ini." Nanto mulai obrolan absurdnya.
"Eeh ada bocil lagi." Dea memberi warning pada Nanto soal Meli.
"Alah biarin aja. Nanti abis lulus bakal Teo lamar ya gak sih?" Ivan langsung melayangkan tatapan protesnya pada Teo. Tidak rela jika si masnya juga ikut menikah. Nanti dia lama sendiriannya.
Tak berapa lama bergabung Erika, adik Eric yang begitu duduk langsung mengucapkan sumpah serapahnya pada sang kakak dan Vivian. "Adik Eric," Teo berbisik pelan saat Meli bertanya siapa Erika.
"Bukan jodohnya, Rika." Dea yang paling dewasa menenangkan Erika. Dan gadis belia itu justru semakin panjang memaki Eric. "Gue soosor juga ni anak perawannya pak Bian kalau gak bisa diem." Ancam Ivan yang gemas dengan bibir tipis Erika yang berpoles lipgloss warna pink.
"Brengsek lu!" Maki Erika. Dua orang itu memang sejak dulu tidak pernah akur. Sama-sama tidak mau pacaran, karena keduanya berpendapat itu hanya akan membuat ribet hidup.
"Lu berdua kalau gak bisa diam, gue kawinin juga nih. Sekalian berantemnya di kasur biar gak ada batas. Mau elu sossor kek, elu kelonnin terserah." Woelah, Nanto malah koplak sendiri. Erika dan Ivab seketika melayangkan tatapan menghunus satu sama lain. "Sorry ya, gue gak mau nikah ama elu." Kata Erika pedas.
"Siapa juga yang mau kawin ma elu. Depan belakang rata. Kagak napsuu gue!" Ivan membalas tak kalah tajam.
__ADS_1
"Ivander Lazuardi Aditama!!!" Semua orang menutup telinganya saat suara Erika melengking di tengah ballroom yang tengah dibersihkan oleh staf cleaning service yang lembur.
Di tempat lain, satu ledakan hebat terjadi. Bukan sebuah kerusakan yang terjadi, tapi segel pengunci pintu gua yang perlahan terbuka. Bukan karena diterobos oleh orang lain, tapi karena si empunya tempat mulai mempersiapkan diri untuk keluar dari sana.
Diavolo dall'Inferno, setelah tiga tahun lebih melakukan meditasi. Luka di tubuhnya sudah sembuh. Luka karena tusukan pedang Isaac yang dihunjamkan oleh Irish. Gadis dari bangsa manusia yang sudah merebut hatinya.
"Aku kembali Ai dan juga putraku."
Mata merah Diavolo terbuka, bersamaan dengan tanda api di dahinya yang bersinar terang. Pun dengan tanda api di kening sang putra. Briock merasakan satu panggilan tertuju padanya. Diavolo perlu setidaknya dua minggu lagi untuk memaksimalkan kekuatannya, sebelum dia benar-benar siap kembali ke dunianya.
***
Kredit Pinterest.com
Ada yang rindu sama bapake Briock ðŸ¤ðŸ¤
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1