
D day pernikahan. Kekesalan dan rasa putus asa menghiasi wajah Irish, gadis itu kini sudah siap dengan gaun pengantinnya. Pun dengan Ivan, dia sungguh pusing memikirkan cara untuk menggagalkan pernikahan sang kakak. Haruskah dia membawa kabur Irish dari tempat ini. Namun apa dia bisa? Mengingat Lendra sudah menempatkan banyak bodyguard di semua jalan keluar. Sepertinya ayah tiga anak itu sudah mencium bau akan adanya kericuhan di pesta pernikahan putri tunggalnya itu.
"Mbak bundir aja ya?" Usul Irish segera mendapat toyoran dari Ivan. Pria itu dengan konyol justru menjawab, kalau Irish mati dia juga mau ikut. Sama-sama mau jadi hantu. Buset...setia amat tu adik.
Sedang di sisi lain, Han tengah berjibaku dengan kemacetan di kota itu. Tidak menyangka jika akan ada kemacetan di weekend seperti ini. Seorang hantu memberitahunya pernah melihat Eric bercinta dengan seorang wanita. Setelah Han menelisik masuk ke pikiran si hantu, ternyata itu benar Eric. Dari hantu itu juga, Han bisa tahu tempat dan waktu hal itu terjadi.
Han melirik hantu di sampingnya, tinggal setengah jam lagi pernikahan digelar. "Nggak bisa teleportasi apa?" gumam Han melirik ke arah hantu tersebut. Si hantu menatap balik ke arah Han. "Saya doang yang bisa pak bos. Lihat, megang pak bos aja saya gak bisa." Kilah si hantu.
"Kenapa juga kamu ngomongnya baru sekarang." Umpat Han. Si hantu menjawab baru tahu kalau tuan tanah mereka alias Han meminta para hantu untuk mencari aib pria bernama Eric. "Sorry bos kudet, abis enak sih ngendon di kamar itu. Bisa lihat mereka bergelut panas." Cengir si hantu.
"Dan kamu nyolong energi spiritual mereka?" Si hantu mengangguk antusias. Selanjutnya Han kepo dengan berapa kali hantu itu melihat part panas Eric dan partnernya. Si hantu menjawab ada dalam dua atau tiga kali, terakhir dia melihatnya tiga hari lalu. Dan hari ini dia mendengar si wanita akan mencari Eric lagi.
"Apa wanita itu juga berusaha menggagalkan pernikahan Irish. Ini tidak bisa dibiarkan." Han menghubungi Nanto yang sudah berada di venue, sebab dia akan mewakili pihak hotel, juga mengawasi semua jalannya pernikahan Irish dan Eric.
Satu berita mengejutkan Han terima. Eric dikabarkan tidak ada di kamar make up pengantin pria. Han segera melesat keluar dari mobilnya. Berlari menerobos kemacetan. Tentu saja setelah minta si hantu mengikutinya. Han berlari sambil menghubungi satu stafnya untuk mengambil mobil yang dia biarkan di tengah jalan.
Dia harus sampai di hotel tepat waktu. Jika tidak Irish akan menanggung malu, atau ini justru kesempatan Han untuk bisa menikahi gadis itu. Jika Eric benar-benar tidak ada di sana.
Di venue hotel, keributan jelas terjadi, Bian dan Mia tentu bingung sekaligus cemas. Padahal Eric masih dimake up beberapa waktu lalu. Namun kini pria itu tidak ada di tempatnya.
"Ini bagaimana ceritanya Bi?" Lendra bertanya bingung.
__ADS_1
"Aku juga gak tahu Ndra." Balas Bian tidak kalah frustrasinya. Dalam sepuluh menit, pemberkatan akan dilakukan, dengan Irish sudah bergerak ke ballroom dengan Ivan dan Teo yang mendampingi. Kok bisa Teo, bisalah. Kan Ivan sponsornya. Sepertinya Ivan mulai tahu aturan mainnya. Dia tidak boleh memberi tahu siapa-siapa. Dan Ivan akan melakukan apapun untuk bisa bersama mas tercintanya. Bahkan tuksedo Ivan dan Teo sama.
Hari ini Ivan ingin keluarga mereka berkumpul. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Irish kalau dia tahu, saat berondong meresahkan dan mas hantu tampan itu mengapitnya ke menuju ke pintu "neraka" Begitu Irish menyebutnya.
"Kabur aja yuk." Ajak Irish. Dua pria itu saling pandang. Seru kali ya, jika mereka bertiga kabur sekarang.
"Mau coba?" Tiga orang itu memutar langkah, tapi sialnya satu suara membuat ketiganya urung mengambil langkah seribu. "Mau kemana kalian ha?" Mode macan Lendra bangun. Mata Teo seketika berkaca-kaca, dia berbalik cepat dan melihat sang ayah berdiri sambil berkacak pinggang. Persis seorang ayah yang tengah memarahi anak-anaknya karena melakukan kesalahan.
"Mau kabur yah." Jawab Irish cepat. Lendra mendengus kesal, bisa-bisanya si anak perempuan satu-satunya ini begitu blak-blakan.
"Mbok yo ojo koyo anak kecil to. (Jangan seperti anak kecil) Dia sudah nunggu."
Teo dan Ivan langsung merangkul Irish bersamaan, satu hal yang membuat Lendra heran. Sejak kapan asisten Han yang satu ini jadi sohib putrinya dan Ivan. Anehnya lagi, dia tiba-tiba merasakan sayang yang sama besar untuk Teo, sama seperti Lendra menyayangi Irish dan Ivan. Siapakah Teo. Hal itu sempat muncul di benak Lendra.
Alah bukan itu masalahnya sekarang, yang penting pengantin pria sudah siap. Tinggal menikahkan sang putri dan semua beres. Lendra mengambil tangan Irish dari genggaman Teo. Dua orang itu saling pandang. Teo seolah memohon agar Irish jangan dinikahkan dengan si bedebahh Eric. Pun sama dengan Ivan, si bungsu itu tidak rela jika Irish menikah dengan Eric.
Lendra menarik nafasnya, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh tiga orang itu. Lendra perlahan menelusupkan tangannya masuk ke veil Irish, mengusap air mata yang mengalir di pipi sang putri.
Dia? Siapa yang tahu perasaan Lendra sama campur aduknya seperti tiga orang itu. Irish, lima tahun terpisah tanpa tahu kalau pria itu punya sepasang anak kembar. Kisah pilu yang kembali terputar di benak Lendra, putra sulung yang meninggal dalam dekapannya. Dia dan Irish yang hampir meregang nyawa di meja operasi. Sungguh, jika mengingat itu semua, dia tidak akan rela menyerahkan Irish pada pria manapun di muka bumi. Sebab baginya mereka tidak akan sama dalam menyayangi dan menjaga Irish. Sang putri yang hidup kembali karena 30% hatinya di donorkan pada gadis itu. Irishlah cinta terbesar dalam hidup Lendra.
Namun pagi ini, seorang pria datang ke hadapan Lendra, meminta dengan setulus hati agar diizinkan untuk meminang sang putri. Berjanji akan menjadikan Irish satu-satunya wanita dalam hidup dan hatinya. Menjaga Irish dengan segenap jiwa dan raganya. Tidak akan membiarkan satu tetes air mata mengalir dari mata cantik Irish.
__ADS_1
Ayah mana yang tidak akan luluh mendengar janji yang diiringi sebuah bukti yang membuat Lendra tidak lagi mampu menolak lamaran itu.
"Jangan cemas. Ayah tidak akan menyerahkanmu pada pria sembarangan."
"Tapi Eric, aku tidak cinta padanya."
Lendra tersenyum, meraih tangan Irish, mengusap jemari tangan sang putri, di mana cincin dari Han ada di sana.
"Percayalah pada Ayah. Kalian juga, dia benar-benar pria yang baik. Jika dia tidak baik, kalian boleh membawa kabur Irish." Lendra menatap Ivan dan Teo, sungguh Lendra yang sensitif bisa merasakan kehadiran Isaac dalam diri Teo.
"Isaac...kaukah itu Nak, Ayah sangat merindukanmu." Batin Lendra tanpa sadar menangis lantas memeluk Teo. Bisa dibayangkan rasa yang Teo alami. Pria itu ingin berteriak saat Lendra menangis terisak di pundaknya. Pada akhirnya Ivan pun menarik Irish hingga ketiganya memeluk ayah mereka. Suasana haru mewarnai pintu ballroom, dengan beberapa staf ikut menitikkan air mata, seolah turut merasakan moment tersebut.
***
Formasi lengkap keluarga Aditama ya geess
Up lagi readers, jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1