Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Kembali Lagi


__ADS_3

Dan yang terjadi selanjutnya adalah hal paling konyol, yang pernah terjadi dalam hidup Teo aka Isaac baik sebagai hantu atau manusia.


"Awas kau Liong kalau idemu tidak menghasilkan apa-apa." Umpat Teo di tengah nafas terengahnya.


"Aku sudah banyak bantu lo, ide juga dariku." Balas Liong santai sambil memperhatikan kukunya.


"Nanggung bantuinnya. Sekalian angkat aku ke atas." Pinta Teo yang tengah bersusah payah menaiki pagar tembok depan rumahnya.


"Nggak ah. Kan aku sudah ngasih ide, matiin CCTV, membuatmu tidak terlihat. Kurang apa lagi coba." Teo mendengus kesal, dengan nafas ngos-ngosan berhasil melompati pagar itu. Teo lantas berlari menuju ke arah jendela rumah yang tirainya masih terbuka. Melupakan kalau dirinya sudah dibuat transparan, tidak terlihat, Teo mengendap-endap di bawah jendela. Mencoba mengintip ke dalam rumah.


"Kan elu nggak kelihatan begee." Teo melompat saking kagetnya Liong muncul tiba-tiba di sampingnya. Teo menggaruk kepalanya, lupa dengan keadaan itu.


Dua pria itu selanjutnya melihat ke dalam rumah. Di mana tampak Eric dan seorang wanita tengah bicara serius. "Bisa nembus tembok gak sih." Teo meringis saat Liong menoyor kepalanya. "Ngelunjak lu ye."


"Kali aja ada bonusnya." Teo mulai serius memperhatikan Eric dan wanita itu.


"Aku tidak mau, Viv." Tolak Eric. Pembicaraan selanjutnya membuat Eric melotot. Tanpa sadar kalau Liong sudah memberi akses pada Teo agar bisa mendengar pembicaraan Teo dan wanita yang akhirnya Teo tahu bernama Vivian.


Satu peringatan datang dari Liong, Teo tidak boleh memberitahukan kelakuan Eric pada Irish secara langsung. Teo tentu saja langsung protes. Adiknya terlalu baik untuk seorang pria busuk seperti Eric. "Perempuan itu yang menggoda...." Ucapan Liong terhenti saat dia melihat Meli lewat di hadapannya.


"Tapi kalau Eric tidak menanggapinya, mereka tidak mungkin melakukan itu. Kau lihat apa?" Teo dan Liong sudah berjalan menuju pintu keluar. Sampai Teo menyadari apa yang begitu menarik perhatian Liong.


"Mel....Mel...sandal....tunggu!!" Teo melompati pagar begitu mudah, tidak seperti tadi. "Ck...ck...ck....hantu plin plan. Meli atau adiknya yang lebih penting." Liong menghilang saat itu juga.


Di pertigaan jalan, Teo berhenti. Nafasnya pria itu hampir habis dengan wajah dan tubuh di basahi keringat yang mengalir. Bingung harus mengejar Meli ke arah mana. Yaelah, dua kali masak dia gagal mengejar Meli. Teo melihat keadaan sekelilingnya. Tempat itu masih satu komplek dengan rumahnya hanya beda blok.


Dia juga ingat kalau Meli memakai motor. Sepertinya gadis itu baru saja pulang bepergian. Teo baru saja berbalik, ketika dia mendengar seseorang memanggilnya. "Cari siapa ya?" Mata Teo membulat, bahkan suara saja sama. Teo berjalan ke arah gadis itu. Benar saja itu Meli. Tanpa ragu, Teo langsung memeluk tubuh Meli.

__ADS_1


Gadis itu tentu terkejut. Ada seorang pria tiba-tiba memeluknya. "Kamu siapa ya?" tanya gadis itu sambil mendorong jauh tubuh Teo.


"Kamu gak kenal aku? Aku Isaac." Teo menyebutkan nama hantunya.


"Isaac siapa? Gak kenal tu. Sudah ah, aku mau masuk, nanti kakakku marah. Orang aneh." Gadis itu berbalik tapi Teo menahan tangannya.


"Tapi namamu Meli kan?" Teo memastikan.


"Iya, Meli tapi bukan sandal."


Senyum Teo mengembang, kembali memeluk Meli. "Sandal....sandal....aku rindu padamu." Kata Teo dengan Meli kembali mendorong jauh tubuh Teo.


"Aku gak kenal situ ya, main peluk-peluk. Dasar orang gila!" teriak Meli marah.


"Iya deh. Sekarang kita kenalan dulu. Namaku Teo."


"Gaje banget sih, tadi bilangnya Isaac, sekarang ngaku Teo."


"Elu kan...elu pasti yang sudah menghapus ingatan Meli. Ngaku gak?!" Todong Teo.


"Sekali-kali biar cogan kek kalian nguber cewek, gak cewek mulu yang ngejar cogan. Biar adil."


Blaasshh, tubuh Liong menghilang, meninggalkan umpatan dan makian tiada henti keluar dari bibir Teo. Padahal Liong lah tempat curhat Teo tiga tahun terakhir. Tiap Teo memanggil, Liong selalu muncul.


Pria itu berjalan kembali ke rumahnya. Lumayan jauh dari rumah Meli. Bolehlah, setidaknya mereka masih satu komplek. Teo melihat ke rumah di mana Eric berada.


"Sejak awal Irish milik Han. Jadi aku heran saat kau bertunangan dengan adikku. Tak kusangka jika kelakuanmu benar-benar memalukan." Batin Teo sambil memikirkan cara bagaimana memberitahu Irish secara tidak langsung.

__ADS_1


**


**


Irish kembali disibukkan dengan pekerjaannya. Han sudah memberikan keputusan final mengenai design, bahan juga limit time untuk pembuatan uniform baru hotelnya. Pria itu minta setidaknya 50% sudah siap menjelang tahun baru, di mana peak session akan mewarnai waktu itu. Han ingin diprioritaskan untuk front desk dan juga para staf yang berhubungan dengan tamu.


Irish tentu harus bekerja keras. Cukup salut saat Han bersedia turun ke gudang untuk memilih bahan, tempat berdebu di mana suasana panas dan pengap. Namun Han terlihat tidak bermasalah.


"Kamu sakit De?" tanya Irish pada sang asisten yang tampak muram beberapa hari ini. "Nggak sih. Cuma kurang tidur." Balas Dea sendu.


"Mikirin apa? Cowok? Pria mana yang kamu taksir, sini bilangin ke aku. Biar aku lamarkan."


Waduh, gercep sekali Irish. Tanpa dia tahu, Volturi memandang kesal pada Irish. Rupanya asisten raja iblis itu yang menutupi jodoh Dea. Tiap kali ada pria yang mendekat, Volturi akan muncul sebagai pacar Dea, memperingatkan orang itu agar tidak mendekati Dea. Kasihan sekali nasib Dea ini. Sudah dihamili raja iblis, anaknya vampir. Jodoh pun di halang-halangi oleh Volturi. Padahal Volturi masih belum tahu akan dia apakan Dea.


"Cariin gue cowok dong. Pengen pacaran ini." Balas Dea asal. Makin marahlah Volturi. Tanpa dia tahu, Briock secara diam-diam memperhatikan kelakuan sang Paman. Awalnya Briock tertawa melihat mode cemburu Volturi.


Namun detik berikutnya, perhatian Briock sepenuhnya teralihkan pada Irish. Bisa Briock rasakan aura sang ayah yang begitu kuat di tubuh Irish. Walau ada aura lain yang sama kuatnya di raga gadis itu.


"Wanita itu....mungkinkah dia ibuku." Briock bertanya ragu. Menatap penuh rasa penasaran pada wajah cantik Irish. "Kalau dia ibuku, berarti dia juga yang sudah membunuh ayah." Batin Briock mulai dipenuhi rasa benci.


Tanpa dia tahu, kalau yang dia pikirkan adalah salah. Jemari Briock mengepal kuat, hingga ledakan kaca jendela membuat Irish dan Dea menjerit. Beruntung Volturi dengan cepat memunculkan pelindung untuk mencegah kaca yang berhamburan melukai Irish dan Dea.


"Siapa kau?" Volturi membeku di tempatnya berdiri, melihat dua pria yang berdiri di hadapannya.


"Mereka kembali lagi."


****

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****


__ADS_2