
Tujuh orang duduk saling berhadapan. Tiga orang dengan raut wajah tenang, dua orang dengan muka serasa ingin saling pukul. Dua sisanya dengan tampang penuh kebingungan. Itu Han setidaknya, sedang Irish berusaha terlihat santai. Melihat pada papa mertuanya. Tampak sekali jika papa mertua dan ayahnya tidak akur.
Seketika pikiran kalau pernikahannya yang baru seusia tauge itu akan mendapat tentangan dari papa mertuanya. Tidak direstui dan akhirnya dipaksa berpisah. Seperti novel onlen itu, cinta tidak direstui.
Meski lampu hijau sudah didapat dari mama mertua, tidak serta merta membuat Irish tenang, bukankah kuasa tetap ada di tangan papa mertua. Lagi-lagi seperti di novel onlen. Aduuhh Rish, kober-kobere baca novel onlen, author aja gak ada waktu.
Sedang di sisi Han, pikiran pria itu lebih kurang sama dengan Irish. Dia takut jika tidak direstui. Namun Han bertekad tidak akan melepaskan Irish. Enak saja, baru juga empat jam menikah, sudah disuruh pisah saja. Han jelas tidak mau.
"Ehemmm," suara deheman Christo membuat semua perhatian tertuju pada pria itu.
"Sebelum kalian melanjutkan pernikahan dadakan ini, ada baiknya jika kami, ingin menjelaskan situasinya...."
"Kalian ingin menentang pernikahan kami?" potong Han cepat. Semua orang saling pandang dengan reaksi Han. Jelas sekali jika Han tidak mau berpisah dengan sang istri.
"Selamat Ndra, mantumu bucin abis sama anakmu." Lendra tersenyum mengejek pada Pasha yang langsung melengos, mendengar ledekan Christo. Papa Adam itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Lendra dan Pasha.
"Kami sama sekali tidak keberatan dengan pernikahan ini. Hanya kami perlu memberitahu pada kalian soal mamamu....Pasha melihat pada Han...adalah mantan istri papa Irish." Jelas Pasha perlahan.
Han membulatkan mata, mengetahui fakta ini, bagaimana bisa maee-nya dulu bekas ayah sang istri. Han seketika menoleh ke arah Irish, takut jika Irish adalah saudara kandungnya.
"Tapi....kami bukan saudara kan?" tanya Han takut.
"Ya bukanlah. Kami bercerai setelah lima tahun menikah. Waktu itu kami tidak tahu jika papa mertuamu sudah punya Irish. Karena itu gap usia kalian lumayan jauh. Maee sama....aishh manggil apa aku sekarang?" geram Natalie pada Lendra.
"Panggil aja sayang kek dulu." Celetuk Christo.
"Mau dilempar sepatu ya?!" Kesal Pasha.
__ADS_1
"Maee sama dia gak punya anak." Kata Natalie cepat. Lebih suka menyebut "dia" pada Lendra. Nathalie jelas masih merasa canggung. Berapa tahun mereka tidak bertemu, sekalinya berjumpa dengan status besan. Tidak masuk akal tapi kejadian.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Sebuah ruang keluarga yang menjadi bagian dari kamar pengantin Han dan Irish. Tidak tahu kenapa, Han memberikan kado kamar presidential suit pada Irish dan Eric pada awalnya, walau pada akhirnya dia sendiri yang akan menempati.
"Jadi kalian tidak keberatan dengan pernikahan ini?" Irish yang buka suara sekarang.
"Ya gaklah." Empat orang itu menjawab kompak.
"Maee seneng dia nikah sama kamu." Celetuk Nathalie.
"Tapi saya perawan tua....28 Ma," sendu Irish.
"Gak masalah, daripada dia nikah sama tante jadi-jadian atau mbak kunti, malah lebih bahaya. Ya gak Phoo?" Balas Nathalie sambil menggenggam tangan Pasha. Berharap sang suami berpikiran sama dengannya. Meski Pasha tidak pernah mempermasalahkan jodoh Han, tapi menikah dengan putri Lendra dan Livia, jelas sebuah terapi shock untuk pria itu.
"Tidak masalah. Jodoh siapa yang tahu. Hanya terkejut kok anakmu lo yang nyangkut di hati anakku." Mulai deh jiwa koplak Pasha kumat.
"Intinya kami tidak masalah dengan pernikahan kalian. Ini sudah terjadi dan kalian tinggal menjalani. Ingat, tidak ada yang mulus dalam pernikahan. Cobaan dan godaan akan datang melanda. Han...uncle tahu kamu lebih muda dari Irish, tapi uncle percaya sikapmu akan lebih dewasa dari istrimu, yang meski umur banyak tapi tak jamin kelakuan seperti anak TK." Irish seketika menyembunyikan wajahnya di belakang punggung sang suami, malu mendengar perkataan dari mantan papanya, Christo.
"Uncle jangan buka kartu napa?" Manyun Irish.
"Kalian lihat. Sabar-sabar ya Han." Han melebarkan senyumnya. Setidaknya dia sudah terlatih menghadapi sang Maee yang over childish dan somplak tentunya.
"Tunggu dulu, tadi kamu bilang dari pada Han nikah sama mbak kunti. Maksudnya apa Nath?" Livia bertanya setelah sejak tadi hanya diam, menjadi pemerhati suasana.
"Jangan kaget, dia indigo. Bisa lihat hantu, temenan sama hantu, juga main sama hantu." Livia, Lendra dan Christo melotot, melihat tidak percaya pada Han yang tersenyum manis pada mereka.
"Seriusan Han?" Lendra menegaskan.
__ADS_1
"Iya Om, eh Pa." Balas Han sambil menggaruk kepalanya. Tangan Han dan Irish sejak tadi saling berpaut. Menggenggam satu sama lain. Hal yang membuat semua orang curiga. Apa Han dan Irish sudah mengenal lama. Kenapa kedua orang itu terlihat sangat dekat untuk orang yang baru beberapa bulan bertemu.
"Apa kalian sudah lama saling kenal?" Lendra bertanya, cukup curiga dengan kedekatan putri dan mantunya.
"Sebenarnya kami bertemu tiga tahun lalu. Tapi tidak tahu kenapa kami tidak ingat satu sama lain. Han baru ingat setelah melihat cincin ini, Maee tahu kan, cincin ini cuma ada satu." Han menunjukkan benda cantik yang melingkar di sebelah cincin pernikahan mereka.
"Kamu ini terlalu banyak misteri kebanyakan main sama mbak kunti dan saudara-saudaranya." Gerutu Nathalie, seolah sudah biasa dengan hal di luar nalar yang terjadi pada sang putra.
"Jangan kaget ya Ai, kalau dia kadang ngomel sendiri. Lagi gelud sama prend dari dunia lain." Info Pasha.
"Gak kok, kan Irish juga bisa lihat mereka."
"Apa?!!!" Teriak semua orang bersamaan.
Di sudut ruangan, masih di venue pernikahan Irish, tampak Briock yang memandang penuh rasa haus pada sekumpulan manusia yang ada di depannya. Pemuda itu dibawa Dea ke pernikahan Irish dengan tujuan Briock bisa bertemu banyak orang. Dea yang tidak tahu kalau Briock seorang vampir, tentu tidak tahu betapa bahayanya membawa remaja itu ke tengah kumpulan manusia.
Bau darah yang begitu manis seketika membangunkan insting alami Briock sebagai makhluk penghisap darah. Naluri yang selama ini selalu dijaga oleh Volturi agar tidak muncul secara mendadak dan sembarangan.
Namun sepertinya usaha Volturi akan gagal, mengingat godaan untuk Briock sangat besar saat ini. Dea tidak ada di samping remaja itu. Keberadaan Dea adalah kunci untuk mengontrol Briock.
Di tambah perasaan Briock tengah menahan amarah, vampir remaja yang menganggap Irish adalah ibunya itu marah karena Irish menikah dengan pria lain. Rasa haus bercampur marah membuat Briock mulai kehilangan kendali diri. Sepasang taring muncul saat Briock mengikuti seorang waiter yang berjalan keluar venue.
Di ujung lorong, satu tarikan menarik pelayan wanita itu ke sebuah ruang kosong. Jeritan tertahan seketika terdengar di malam yang hampir mencapai puncaknya.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***