
"Bagaimana, mbah?" satu pertanyaan dari Irish membuat Asna, ibu Livia menoleh pada sang cucu. Paras cantik, darah wangi, aura spiritual yang begitu kuat, semua ada dalam diri Irish, cicit sulungnya. Wanita renta itu menarik nafasnya dalam. Bagaimana banyak jiwa tidak menginginkan Irish, jika semua hal yang bisa meningkatkan energi mereka ada pada sang cucu.
"Kita tetap harus menunggu air dari wihara Longchan. Sebab di sana dia dilahirkan. Ada hubungan antara dia dan tempat itu."
Irish terdiam, dia merasa bingung juga panik. Bagaimana jika Han tidak mampu bertahan sampai pamannya datang. Atau apakah Meli bisa menemukan Somchai serta membawanya kemari.
Obrolan seru terjalin antara Ivan dan Isaac, dua saudara itu tampak berbincang hangat. Tidak pernah bertemu sejak lahir, membuat Ivan sangat senang bisa diberi kesempatan bertemu dengan kakak yang dia akui sangat tampan. Mungkin hantu paling tampan yang pernah Ivan lihat setelah menonton berbagai film dan seri horor juga thriller.
"Malah ngobrol!" bentak Irish pada dua saudaranya.
"Ish, mbak curang. Tiap saat bisa ketemu mas, tapi gak pernah kasih tahu Ivan. Aku protes, marah sama mbak." Irish tertawa mendengar keluhan sang adik.
"Ya bagaimana, itu privileage mbak sebagai saudara kembar masmu. Ke mana-mana selalu bersama." Irish memeluk erat Isaac yang hanya bisa tersenyum mendengar debat tidak guna dua adiknya.
Ivan berdecak kesal. Dia merasa semua tidak adil untuknya hanya karena terlahir belakangan alias bungsu. "Jangan bertengkar. Sudah lihat mas kan. Jadi gak kepo lagi." Ivan mengangguk antusias mendengar ucapan Isaac.
"Tapi ingat, ini semua rahasia. Ayah dan ibu kalian tidak boleh tahu." Peringatan Asna membuat Ivan tertunduk lesu.
"Padahal papa rindu sekali padamu mas. Sekali-kali nongol kek depan papa." Pinta Ivan.
"Yang ada ayah jantungan!" Potong Irish cepat. Ivan tentu menyangkal hal itu, sang papa akan sangat senang bisa melihat Isaac meski hanya sebentar.
"Nantilah kapan-kapan." Isaac bukannya tidak tahu kalau dua orang tuanya rindu padanya. Dia mengerti hal itu. Tapi bagaimana pun dia tidak boleh menunjukkan diri pada banyak orang. Sebab dia tidak lama lagi akan pergi.
Hening menyelimuti kamar Irish. Ketiganya melihat Asna yang melakukan beberapa gerakan membuat perlindungan di sekitar kamar Irish lebih kuat. Memagari tempat itu dengan rapal mantra kuno yang dia tahu. Menahan jiwa-jiwa jahat yang ingin mendekat.
__ADS_1
"Meli lama amat sih." Gerutu Irish. Irish berpikir apa hantu itu betulan terbang ke Chiang Mai untuk memanggil paman Han.
Saat yang lain berpikir soal Meli, pandangan Ivan kembali terarah pada Han dan juga mbah putrinya. Ivan jelas masih penasaran soal siapa pria yang berada di kasur sang kakak. Sepertinya pria itu seumuran dirinya, tidak beda jauh usia mereka. Masa iya kakaknya pacaran sama berondong. Kata Ivan dalam hati.
"Aduuuuhhhh."
Aaaaargghhhh
Dua teriakan terdengar bersamaan. Ivan tentu kaget melihat kemunculan hantu perempuan cantik, meski berwajah pucat. "Mbak siapa lagi dia?" belum juga sempat bertanya soal Han, satu lagi orang asing muncul di depan Ivan.
"Dia bisa lihat aku?" tanya Meli antusias. Isaac dan Irish mengangguk, hal itu membuat Meli tersenyum lebar. "Halo Van..." Ivan langsung melompat bersembunyi di belakang Isaac, mendengar Meli menyapanya. Pertanyaan bagaimana hantu itu tahu namanya langsung mencuat di benak Ivan.
Bersamaan dengan hal itu, bel berbunyi. Irish pun membuka pintu setelah Meli memberitahu itu Nanto. Pria itu menghambur masuk setelah dibukakan pintu. Nanto langsung menangis melihat keadaan Han.
"Dia ponakannya si Somchai." Meli langsung menyela. Hantu cantik itu lalu bercerita saat dia keluar dari sini. Dia melihat Nanto sedang mengemudi. Jadi dia minta Nanto mengantarkan Meli ke satu tempat, di mana dia bisa menembus waktu untuk pergi ke Chiang Mai. Jiwanya baru saja dipulihkan, jadi Meli masih lemah.
Saat itulah Nanto bertanya, mau apa ke Chiang Mai. Dari sana Nanto bercerita kalau punya saudara di Chiang Mai. Dari semua rangkaian cerita itu, terurailah benang kusut tersebut. Ananto Pramudya adalah keponakan Somchai, yang memilih tinggal di negara itu. Satu hal yang tidak Nanto beritahu adalah kalau dia mengenal ayah dan ibu Han.
"Mas...mas Han... ini gimana ceritanya? Mbak, mas hantu. San...dal..."
Meli mendelik mendengar panggilan Nanto padanya. Baru juga jadi teman beberapa waktu sudah main panggil sandal saja padanya.
"Sorry..Mel...sorry. Lihat mas hantu ganteng jadi ketularan dia manggil kamu sandal." cengir Nanto enteng.
Melihat Nanto yang terlihat khawatir, mau tak mau Isaac bercerita kalau Han baru saja duel dengan raja iblis yang datang ke rumah Irish kemarin. "Raja Iblis yang gantenge pool itu."
__ADS_1
Irish mencubit lengan Nanto. Muka panik tapi mulut ngelawak. Tidak sinkron sama sekali. Nanto buru-buru membela diri, memang begitulah menurut pandangannya. "Ganteng tapi kejem ya. Mas Han bangun dong. Pakdhe lagi otewe ke sini." Kata Nanto sendu.
"Ini kalau Om Pasha sama tante Natalie tahu bagaimana?" Batin Nanto panik. Somchai memang sengaja terbang ke Surabaya menyusul Han, sang ponakan. Merasa satu hal buruk sudah terjadi pada pemuda itu.
Saat mereka semua terdiam. Nanto hanya bisa ikut duduk di bawah ranjang Han. Bersama Asna, keduanya menunggui Han. "Anake siapa kamu?" tanya Asna.
"Ah mbah putri...."
Cerita Nanto mengalir menjadi hiburan keduanya saat menjaga Han. Sementara itu, Ivan pun langsung menodong Irish soal Han. Siapa pria itu dan kenapa bisa berada di kamar Irish. Giliran Isaac dan Irish yang mendongeng.
Malam menjelang puncaknya, saat Asna tiba-tiba membuka mata. Pun dengan Isaac dan Meli. Merasa aura yang besar datang mendekat. Saat itu tanda di dahi Irish dan Han berkelip samar.
"Aura apa ini? Kenapa terasa asing?" gumam Asna heran. Selama hidup belum pernah menemui aura seperti ini.
Ketiga orang itu saling menatap waspada. Angin mulai berhembus, menerbangkan tirai yang ada di jendela kamar Irish. Seharusnya aura ini tidak akan bisa menembus pagar yang sudah Asna dan Irish ciptakan. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Kaca jendela Irish pecah berkeping-keping. Isaac dengan segera melindungi Asna, sedang Meli. Energinya lebih dari cukup untuk melindunginya sendiri.
Ledakan kaca jendela Irish merupakan ledakan gaib, hingga untuk manusia biasa tidak akan menyebabkan luka. Herannya dalam kejadian itu, Irish, Ivan dan Nanto tidak terbangun sama sekali. Ketiganya seperti kena aji sirep. Terlelap dalam tidur.
Aura itu semakin dekat dengan tekanan energi spiritual yang kuat. Asna menajamkan inderanya, berpikir siapakah tamu yang datang saat kondisi Han sedang tidak baik-baik saja.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih.
***
__ADS_1