Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Ujian Dimulai


__ADS_3

Di tempat lain, Volturi merebahkan tubuh Diavolo yang terluka parah. Sekarat, itulah keadaan raja iblis itu sekarang. Volturi merasa iba dengan tuannya, demi cinta rela mati di tangan orang terkasih. Sungguh miris nasib yang harus Diavolo terima. Luka di tubuh Diavolo sangat parah, satu tekanan lagi, jantung Diavolo dipastikan akan hancur oleh Irish.


"Kemari." Volturi mendekat mendengar perintah lirih dari tuannya. "Berikan ini padanya, ini akan menghilangkan separuh sifat manusia dalam dirinya. Jaga dia."


"Tuan, jangan pergi. Aku tidak bisa mengurus semuanya sendiri."


"Aku harus memulai meditasi panjangku. Aku tidak tahu kapan akan kembali. Aku berharap kau bisa menjaga dia untukku. Maaf, aku memanfaatkannya."


Suara Diavolo terdengar lirih, terputus-putus, tersengal kadang ada batuk yang menyela. Volturi sedikit terkejut mendengar ucapan Diavolo. Apa tuannya tahu kalau dia punya rasa pada Dea.


"Kelahiran putraku tidak akan membunuhnya. Dia tidak akan tahu kalau dia hamil."


Volturi membulatkan mata mendengar penjelasan Diavolo. "Aku hanya meminjam rahimnya tiga bulan, hanya saja dia akan merasa lemah selama itu. Karena dia meminum darahnya sebagai makanannya. Tapi itu tidak sampai membunuhnya. Jadi jaga dia baik-baik."


Volturi mengangguk paham. Pria itu menggenggam mutiara hitam di tangannya. Dia secepatnya harus mengumumkan kalau putra mahkota akan lahir tidak lama lagi. Agar kestabilan kerajaan iblis bisa terjaga.


"Aku pergi dulu. Maaf sudah merepotkan dan terima kasih." Diavolo menghilang dari hadapan Volturi, meninggalkan pria itu sendirian di kamar luas milik sang raja. "Aku akan menunggu anda kembali tuan." Tekad Volturi lalu memasukkan mutiara hitam itu ke sebuah kotak kecil, Volturi memejamkan mata, dan kotak itu masuk ke dalam tubuhnya.


Di sisi lain, Diavolo muncul di sebuah lembah dengan lava pijar menyambut pemandangan mata. Gambaran neraka dunia ada di depan mata. Pria itu berjalan tertatih, berpegangan pada dinding batu yang mengarah ke sebuah gua. Dia harus segera melakukan kultivasi untuk memulihkan diri, dan di sini adalah tempat yang tepat. Api, yang menjadi elemen dasar Diavolo, ada di sini. Dia akan menyerap semua energi yang api itu miliki.


Memposisikan dirinya di sebuah batu besar di dalam gua itu. Diavolo duduk bersila, dengan dua tangan berada di atas pahanya. "Aku akan kembali, Ai." Diavolo menutup jalan masuk ke gua itu, menyegelnya menggunakan sisa kekuatannya. Selanjutnya dimulailah meditasi panjang Diavolo yang tidak tahu kapan akan berakhir.


Sementara itu, Han menatap pada Liong, roh dewa naga yang muncul di hadapannya.



Kredit Pinterest.com


Pria berambut putih, dengan pakaian serba putih. Pria itu berdiri dengan gagah di hadapan Han, yang langsung membungkuk memberi hormat. Naga putih milik Liong sejak tadi mengitari pria itu.

__ADS_1


"Jangan memberi hormat padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Berkat dirimu, aku bisa menemukannya. Juga membawanya pulang." Ya, Naraku sudah dibawa paksa ke tempat Liong.


"Boleh saya tahu siapa dia?" Han bisa merasakan aura surgawi sekaligus aura neraka dalam tubuh Naraku. Kalau tebakannya tidak salah, Naraku adalah putra Liong.


"Yang kau pikirkan benar. Dia putraku dengan salah satu putri raja iblis di masa lalu. Dia marah padaku, lalu membuang Naraku ke lembah kematian. Dia tidak menginginkan Naraku juga ingin menyiksaku. Ribuan tahun aku mencarinya. Tidak kusangka kekuatannya begitu mengerikan saat menemukannya. Kau lihat Irish, itulah kekuatannya yang sebenarnya. Penghancur, perusak." Liong mengibaskan tangannya di mana sejak tadi ada tiga bola dengan warna berbeda, berpendar di sana.


Bola-bola itu terbang bebas, membawa energi pemulihan di tiap gerakannya. Semua kerusakan perlahan pulih. Gedung-gedung yang rusak, kini kembali berdiri kokoh. Tanpa cacat sama sekali. Air laut pun kembali tenang, setelah beberapa waktu bergolak tidak terkendali.


Pun dengan orang-orang yang tadinya menjadi korban. Semua dikembalikan dalam keadaan lupa ingatan. Mereka tidak akan mengingat apa yang baru saja terjadi. Namun untuk Asna, Isaac dan Meli mereka pengecualian.


Han mengangguk mengerti, tidak ingin ikut campur terlalu dalam. "Sekarang untuk kalian. Takdir kalian akan berhenti sampai di sini."


Deg, jantung Han serasa berhenti berdetak. Dia tidak mau berpisah dengan Irish. "Tapi saya tidak mau berpisah dengan Irish." Protes Han langsung. Dia mencintai gadis itu.


"Dengarkan aku dulu. Kalian akan bersama setelah melewati satu ujian lagi. Kalian sudah menikah menurut cara kami. Love Stone tidak mengingkari rasa cinta kalian. Pernikahan kalian sah di tiga dunia. Hanya saja, perjalanan kalian untuk bersama masih panjang."


"Berapa lama?" tanya Han sembari menunduk, perlahan pemuda itu mengangkat wajahnya. Menatap penuh permohonan pada Liong, agar tidak terlalu lama memisahkan mereka.


"Tiga tahun. Tiga tahun mendatang akan ada satu ancaman lagi. Meski ini tidak terlalu berat seperti menghadapi putraku. Tetap saja itu akan menimbulkan huru hara di kota ini."


Tiga tahun? Tidak masalah, itu bukanlah waktu yang lama. Tiga tahun yang akan datang, dia sudah lulus kuliah, saat itu dia siap untuk melamar Irish pada orang tuanya.


"Bukan masalah, aku akan menunggu tiga tahun itu." Jawab Han yakin.


"Kau yakin? Apa kau pikir hanya tidak diperbolehkan bertemu selama tiga tahun?"


"Maksud anda?"


Liong tersenyum mendengar pertanyaan Han yang penuh keheranan. "Ingatan kalian akan dihapus, satu sama lain tidak akan saling mengingat. Bahkan mereka pun tidak akan ingat padamu." Kata Liong melirik ke arah Ivan dan Nanto.

__ADS_1


Han memundurkan tubuhnya mendengar ucapan Liong. "Ta...tapi....bagaimana kami bisa bersama jika kami tidak saling mengingat."


"Di situlah ujian kalian. Kalian harus memulai semua dari awal lagi. Hanya perasaan kalian yang tidak berubah."


Han jelas ingin protes. Perasaan tidak berubah, tapi tidak ingat rasa itu untuk siapa. Sama saja bohong bukan?


"Biarkan perasaan kalian menuntun kalian."


Liong mengakhiri negosiasi pahit mereka. Sangat berat bagi Han untuk menerima ini. Tidak ingat pada orang yang dicinta, sungguh suatu siksaan paling berat.


Pria itu berjalan gontai ke arah Irish dan yang lainnya setelah Liong menghilang. Melupakan Irish? Dia tidak sanggup.


"Aku tidak mengatakan itu mudah, itu sulit, tapi jika kau yakin pada rasa cintamu, dia akan menuntunmu pada Irish."


"Sejak aku mengikatmu hari itu. Aku sudah tentukan pilihanku. Dan pilihanku tidak akan berubah selamanya. Tunggu aku, sampai aku menemukanmu."


Han mengecup lembut kening Irish, lantas bibir gadis itu. Membelai lembut wajah Irish, lalu menyentuh cincin pemberiaannya. Ada bulir bening yang turun di sudut mata Han. Pria itu memeluk tubuh Irish, seolah tidak ingin berpisah. Menatap sedih pada Ivan dan Nanto. Dua orang yang tiba-tiba menjadi dekat dengannya. Juga ingat pada Isaac dan Meli, betapa dia akan merindukan keduanya.


"Aku harap kita bisa bertemu lagi Isaac, Meli. Aku mencintaimu Irish Isabel Aditama."


Saat itu cahaya putih bersinar sangat terang mendatangi Han dan yang lainnya. Semakin lama semakin dekat. Dalam sekejap tubuh mereka semua menghilang, tertelan oleh cahaya itu.


"Ujian kalian akan segera dimulai."


*****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih.


*****

__ADS_1


__ADS_2