Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Rencana Volturi


__ADS_3

Tiga tahun kemudian.


Natalie sedang memeluk Han. Pria itu langsung terbang ke Surabaya setelah diwisuda seminggu yang lalu. Tiga tahun di tinggal, Shine Hotel kembali terpuruk. Dan Han diminta sang papa untuk menyelesaikan masalah di sana. Sekaligus kali ini Han akan mengambil alih Shine Hotel secara resmi. Pengalihan kepemilikan sudah disiapkan oleh pengacara Pasha di Surabaya.


"Jan nangis, Han gak tahu kapan pulang." Natalie langsung meledakkan tangisnya. Putra tunggalnya ini memang sungguh terlalu. Bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu pada mamanya.


"Han kamu ini jahat banget sih sama Maee." Rengek Natalie. Han hampir tertawa mendengar keluhan sang mama.


"Nggak jahat kok Maee, itu kenyataan. Siapa tahu nanti Han pulang sudah bawa cucu buat maee."


Semakin kencanglah tangis Natalie. Sang papa hanya bisa memeluk sang istri sambil mengulum senyum. "Makanya dikebut, siapa tahu masih bisa punya adik. Kan bagus, Han punya KK sendiri si adek lahir. Nggak jadi malu, sudah tua masih punya adik bayi."


Anjiirr, tu anak ngomongnya makin berantakan. Tangis dan tawa menjadi satu sebelum Han benar-benar melambaikan tangan pada Maee dan Phoo-nya. Juga sang paman yang kembali memastikan kalau gelang naga itu masih berada di pergelangan tangan Han.


"Semoga kamu segera menemukan semua jawaban dari semua tanyamu selama tiga tahun ini." Doa Somchai sambil memeluk Han, sebelum pria itu benar-benar pergi.


Shine Hotel, Surabaya.


"Semua siap?" tanya Nanto. Pria itu kembali menjadi asisten Han selama pria itu tinggal di Surabaya. Mungkin untuk waktu yang lama.


Pria yang ditanya mengangguk yakin. Pria itu lantas mengekor langkah Nanto keluar dari ruang kerja Han. Mengabaikan tatapan tidak senang dari Yuda Irawan. Pria yang tiga tahun lalu berhasil Han bungkam mulutnya soal managemen hotel yang tidak berjalan semestinya. Juga soal rumor hantu di lantai 13 yang berhasil Han patahkan. Saat itu Han belum tampil ke publik. Namun Nanto yang menggantikan dirinya untuk tampil di hadapan dewan direksi dengan surat kuasa yang ditandatangani oleh Pasha.


"Kali ini akan kusingkirkan dia sampai ke akar-akarnya." Batin Yuda Irawan. Tentu dia sangat marah. Dipermalukan oleh seseorang yang dulu asistennya, tapi lambat laun merangkak naik jadi asisten direktur utama Shine Hotel.


"Teo, apartemen Mas Han apa sudah siap?" tanya Nanto pada pria yang dia panggil Teo. Teo perlahan mengangkat wajahnya. Dan nampaklah wajah tampan pria itu.


"Sudah, pak. Grand Samaya lantai 20. Unit milik Ibu Natalie Anindira. Apa perlu dialihkan kepemilikannya?" tanya Teo.


"Tidak. Han tidak mau selamanya tinggal di apartemen. Kalau dia tinggal lama di sini. Dia minta dicarikan tanah atau rumah."

__ADS_1


Teo mengangguk paham. Membiarkan Nanto pergi dengan mobilnya menjemput Han di bandara. Teo sesaat terdiam, memandang wajahnya di kaca pintu hotel. Andai semua orang tidak dihilangkan ingatannya oleh Liong. Tentu mereka akan bersorak dan berlari memeluk Teo.


Tiga tahun lalu, satu kecelakaan menimpa Teo, dokter menyatakan kalau Teo sudah meninggal. Namun di detik terakhir sebelum tubuhnya ditutup kain kafan, monitor detak jantung kembali menunjukkan reaksinya. Jantung Teo berdenyut kembali. Pria itu diberikan kesempatan kedua dalam hidupnya.


"Apa aku harus ke sana dulu? Han datang hari ini. Tapi Irish malah mau menikah dengan Eric." Gumam Teo lirih.


Di tempat lain, Ivan menerobos masuk ke kamar Irish, di saat wanita itu tangah melamun sambil melihat ke arah cincin mawarnya.


"Mbak serius mau menikah dengan Eric? Mbak cinta dia?" Ivan memberondong Irish dengan pertanyaan yang langsung saja muncul saat Livia, sang Mama memberitahu kalau Irish setuju menikah dengan Eric.


Tidak ada jawaban, Irish menatap kosong jauh keluar sana. Detik berikutnya, wanita itu menangis dengan kepala berada di atas tangannya yang bertumpu di atas meja.


"Mbak gak punya pilihan, Van. Umur mbak sudah 28, tapi mbak sama sekali tidak bisa jatuh cinta sama pria manapun. Kayak ada yang mengunci hati mbak. Tapi siapa mbak gak tahu. Kalau kelamaan mbak nanti dikira....."


"Jangan menikah karena omongan orang. Memangnya kenapa kalau 28, yang jomblo di umur kepala empat aja banyak. Percaya deh mbak, pasti ada satu yang diciptain khusus buat mbak. Dia lagi nunggu waktu yang tepat buat nemuin mbak."


Tuing....Ivan terjengkang ke belakang saat Irish mendorong dahi Ivan dengan jarinya. "Sok romantis lu!"


"Tapi dia suka tu dibohongin. Sweetest lie ever. Kebohongan paling manis yang pernah ada." Balas Irish.


"Welah dikandani kok.(Dibilangin kok) Kalau mbak berani ngomong sama mama, biar Ivan yang bilang." Pria 21 tahun itu melesat keluar dari kamar sang kakak. Tak lama, terdengar lengkingan suara Ivan memanggil sang mama.


"Toa mana yang dia pinjam." Gumam Irish. Wanita itu mengusap air matanya. Kembali memandangi cincin mawar itu. "Memangnya ada satu yang diciptain buat aku. Limited edition gitu. Kayaknya gak yakin aku."


Bandara International Juanda.



Kredit Pinterest.com

__ADS_1


Nanto melambaikan tangan saat melihat Han keluar dari pintu kedatangan internasional. Pria itu bertambah tampan sejak Nanto bertemu tiga tahun lalu. Mengenakan kemeja hitam dan celana panjang hitam. Santai tapi damage-nya gak kaleng-kaleng.


"Apa kabar Mas?" Nanto memeluk Han yang sudah seperti adiknya sendiri.


"Baik, pakdhe. Masak masih manggil Mas. Kan tuaan pakdhe." Balas Han, pria itu membuka kacamatanya. Menghirup udara kota Surabaya. Seulas senyum terbit di bibir pria itu. Hal yang membuat semua makhluk perempuan, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata, terpesona pada sosoknya.


Han kembali mengenakan kacamata dan maskernya, menghindari keributan yang mungkin saja bisa terjadi. Bisa disunnat dua kali sama Maee-nya kalau dia ketahuan membuat kacau di negeri orang.


"Ehhh, maaf. Saya tidak sengaja." Han mengangguk saat seorang perempuan menabrak dirinya.


"De....cepetan!" Han menoleh ke sumber suara. Merasa sangat familiar. Perempuan di depan Han langsung beranjak pergi dari sana. Setengah berlari ke arah seorang wanita yang tidak terlihat oleh mata Han.


"Ayo Mas." Ajak Nanto. Han mau tidak mau mengikuti Nanto. Pria itu meraih ponselnya untuk menghubungi sang mama.


"Lama amat sih De." Protes Irish. Perempuan yang menabrak Han adalah Dea, asisten Irish. Hari ini dia akan terbang ke Sidney, ada sedikit urusan dengan uncle kesayangannya, uncle Christo.


"Sorry Ai, habis nubruk orang aku." Kata Dea. Dea sendiri langsung kembali ke kehidupan normalnya setelah anak Diavolo lahir. Sedikit membuat pihak rumah sakit heran. Dea sembuh total, sehat seperti sediakala. Volturi masih sering mengunjunginya. Hampir tiap malam setelah memastikan Briock tidur.


Ada satu hal tidak wajar yang sering Dea alami. Wanita itu sering mendengar suara tangis bayi saat malam datang. Lebih aneh lagi, dia sama sekali tidak takut dengan suara tangis itu. Justru dia merasa rindu jika satu malam tidak mendengar suara itu.


"Apa aku diikuti hantu atau bagaimana?" Dea sering membatin begitu. Tanpa dia tahu, itu adalah tangis Briock yang minta makan. Tangisnya baru berhenti saat Volturi memberinya darah.


"Kenapa Briock lebih cenderung ke vampir penghisap darah daripada iblis yang suka menyerap energi spiritual." Volturi menggelengkan kepala tiap kali pertanyaan itu muncul. Satu kesimpulan Volturi ambil. Diavolo pasti punya keturunan darah vampir dalam tubuhnya. Hingga Briock lebih suka darah ketimbang energi spiritual.


"Aku harus bisa mengendalikan keinginan Briock dalam menyukai darah." Batin Volturi. Atau dia harus mulai mengarahkan Briock untuk memakan yang lain. Setidaknya itu rencana Volturi di samping pelatihan bagi Briock yang mulai beranjak remaja.


****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2