
Di istana dingin, tampak Briock yang tengah kesal. Di merasa dikurung oleh Volturi. Tidak diberikan kesempatan untuk mengetahui dunia luar. Dia marah, bosan juga penasaran akan dunia di balik tembok istana. Wujud Briock sudah seperti pria dewasa. Tinggi, besar dengan rupa wajah persis sang ayah. Briock adalah miniatur Diavolo. Sifat pemuda itu keras kepala, emosian dengan keinginan sangat luar biasa yang tidak ingin dibantah.
Dalam hidupnya, Briock hanya tahu kalau sang ayah sedang melakukan meditasi, jadi dia dititipkan pada Volturi, asisten sekaligus pemangku jabatan tertinggi di kerajaan saat ini. Berbekal lencana dan pedang milik Diavolo sebagai bukti kalau dia adalah orang yang ditunjuk oleh raja sebelumnya untuk memimpin kerajaan iblis.
Awalnya semua berjalan lancar, semua orang patuh dan taat pada perintah Volturi, terlebih Volturi adalah orang yang bijaksana saat memimpin sama seperti pendahulunya. Hanya saja semakin ke sini, ketamakan mulai menguasai hati bawahannya. Ada yang tidak puas hati. Kenapa harus Volturi yang memimpin. Apalagi kehadiran Briock turut menimbulkan gosip tidak sedap di kerajaan itu.
Mereka berpikir kalau Briock bukan putra Diavolo meski wajahnya sama persis dengan raja iblis itu. Ditambah lagi kepergian Diavolo tidak ada yang tahu pasti ke mana. Walau Volturi mengatakan kalau Diavolo tengah melakukan ritual meditasi jangka panjangnya. Hal itu tidak serta merta membuat bawahan Volturi puas. Bahkan saat ini timbul selentingan kalau Diavolo telah mati. Berbagai rumor mulai menyebar soal siapa pembunuh Diavolo, dan nama Volturi tidak luput dari tuduhan keji tersebut.
Volturi bukannya tidak tahu soal apa yang terjadi di istananya. Namun dia tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa dia lakukan hanyalah mendidik Briock sebaik yang dia mampu, juga berharap agar Diavolo cepat kembali. Tiga tahun berlalu, dia berharap keadaan sang tuan baik-baik saja.
Terdengar suara bantingan benda pecah dari kamar Briock, Volturi bergegas masuk ke sana. Pria itu menarik nafasnya, melihat Briock kembali memecahkan barang yang ada di kamarnya.
"Bri....."
"Aku ingin keluar Paman!" teriak Briock emosi. Mental Briock benar-benar tidak bagus. Dia menjalani semua pelatihan sebagai calon raja dengan baik. Namun untuk urusan mengendalikan emosi, Briock adalah yang terburuk.
"Kamu tahu kenapa Paman tidak mengizinkan kamu keluar?"
"Aku bisa menahan diri." Tegas Briock yakin.
Volturi menghela nafasnya. "Bri, kau tahu siapa dirimu. Dan kau tahu musuh terbesarmu ada di balik tembok istana ini. Kau bisa menyakiti mereka, dan mereka bisa menyakitimu, jika mereka tahu siapa kau."
Briok terdiam mendengar penjelasan Volturi. Pria itu sejak dulu sudah memberitahu soal siapa dan bagaimana Briock. Bukan untuk membuat anak itu merasa dikucilkan. Namun agar Briock bisa menjaga dirinya sendiri. Volturi sudah melakukan langkah antisipasi untuk menjaga Briock, tapi sepertinya hal itu disalahartikan oleh Briock.
Dua orang itu saling tatap untuk beberapa waktu. Postur tubuh sama tapi umur jauh berbeda. "Jangan sampai rasa penasaranmu meracuni pikiranmu. Itu akan berbahaya buatmu." Kata Volturi sambil menepuk pelan bahu Briock. Putra mahkota kerajaan iblis yang lahir dari seorang wanita dari bangsa manusia yang sangat Volturi cinta.
**
**
__ADS_1
Han menatap lurus ke arah panggung di depan sana. Di mana Irish tengah melakukan tukar cincin dengan Eric. Ingatannya melayang ke kejadian beberapa waktu lalu. Di mana dia dan Irish bertemu di tangga. Sorot mata keduanya bertemu, ada berbagai macam perasaan yang campur aduk di sana.
Rindu? Ingin tahu? Atau entahlah, rasa apa yang sebenarnya mereka rasakan. Yang jelas, debar jantung mereka tidak bisa bohong. Kalau ada rasa tertarik di antara keduanya. Terlebih saat Irish berlalu melewati dirinya. Aroma tubuh Irish, Han merasa sangat mengenalnya. Seolah mereka dulu pernah sangat dekat. Tapi di mana mereka bertemu sebelumnya. Tanda tanya muncul di kepala Han.
Saat Irish selesai memasangkan cincin ke jari Eric, fokus gadis itu justru ada pada Han. Kembali, keduanya terlibat kontak mata yang begitu intens.
"Siapa dia?" Pertanyaan itu seketika timbul di hati keduanya.
"Tuan Yohan Aditya? Dari Shine Hotel?" Seorang pria menyapa Han. Han sontak berdiri lalu menyambut uluran tangan pria itu.
"Syailendra Aditama." Han tertegun sesaat, mendengar nama pria yang tengah berjabat tangan dengan dirinya. Pria ini adalah ayah Irish. Pria itu seketika menoleh ke arah panggung, di mana lagi-lagi Irish juga tengah melihat ke arahnya.
"Ya tuan itu saya. Ada yang bisa saya bantu." Aditama Grup punya satu anak cabang perusahaan kontraktor yang bagus, Han bahkan menemukan kalau beberapa blok hotel miliknya dibangun oleh kantor itu di masa kepemimpinan ayahnya.
"Saya belum tahu kapan mereka memutuskan akan menikah. Tapi akan jadi kebanggaan bagi kami, jika kami bisa menggunakan ball room hotel anda untuk jadi tempat pesta pernikahan mereka."
"Tentu saja. Anda dan keluarga anda akan jadi prioritas di hotel kami." Kali ini jawaban Han sungguh tulus.
**
**
"Mas Han yakin mau nyetir sendiri?" tanya Teo dan Nanto hampir bersamaan. Mereka cukup khawatir kalau Han nanti tersesat.
"Yakin. Percaya deh, aku gak bakal tersesat. Kan ada mereka yang bisa aku tanyain." Han menaikkan satu alisnya, melihat ke sudut gedung. Astaga! Mbak kunti lagi nongki di atas meja. Nanto seketika menepuk dahinya pelan. Iya ya apalagi yang perlu Han takutkan. Hantu saja tidak takut, apalagi cuma preman jalanan atau tersesat jalan. Enteng itu mah.
Han melajukan mobilnya pelan-pelan. Sengaja ingin menikmati udara malam kota Surabaya. Jalanan di sini ramai tenang. Sangat nyaman untuk dibuat jalan kaki. Sepertinya dia bisa mulai joging besok pagi.
Satu hal yang membuat Han merasa aman dan nyaman adalah tidak ada gender jadi-jadian di kota ini. Kalaupun ada, mereka hanya akan eksis di tempat tertentu.
__ADS_1
Han begitu menikmati suasana, sampai sudut matanya menangkap satu sosok, yang begitu mencolok di antara banyaknya orang yang berlalu lalang di trotoar.
"Ngapain dia di sini?" Han menepikan mobilnya, mencari tempat parkir. Lalu setengah berlari menerobos keramaian. Beberapa orang menatap aneh pada seseorang yang berjalan gontai, tanpa tujuan. Orang itu tampak limbung tersenggol kiri dan kanannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini ha?" Han menarik tangan wanita itu. Membawanya menepi. Lalu memakaikan jasnya di tubuh wanita itu.
Wanita yang tak lain adalah Irish itu melongo melihat Han yang ada di depannya. Terlebih perlakuan manis pria itu.
"Kamu ngapain di sini?"
"Malah balik nanya. Tunanganmu mana? Kenapa malah keluyuran sendirian." Tanya Han kesal.
Bukannya menjawab, Irish justru menangis, dahlah bingung kan si Han. Mana pernah dia menghadapi cewek menangis. "Malah nangis. Jangan nangis dong. Entar dikira aku ngapa-ngapain kamu." Han mulai cemas saat beberapa orang melihatnya dengan sorot mata menuduh dan menyudutkan.
"Eh saya gak ngapa-ngapain dia lo." Panik Han.
"Biarin aja. Sekalian biar kita dinikahin."
Han melotot mendengar jawaban konyol Irish. Ni cewek waras apa tidak sih. Baru juga tunangan tapi kok malah bilang biar mereka dinikahkan.
"Hei jangan ngomong sembarangan ya mbak, nanti kejadian beneran lo."
"Siapa takut?" tantang Irish.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1