
Makan siang terasa riuh, dengan ledekan yang datang dari semua orang pada pengantin baru, yang turun dengan wajah ditekuk. Itu Irislah nding. Han seperti biasa, dengan mode bocilnya pria itu tersenyum lebar, bak orang baru menang lotre.
"Sukses?" tanya Pasha. Semua orang menanti jawaban dari Han. Dan pria itu menggeleng pelan.
"Ndra, lu kasih apaan anak perawan elu sampai anak gue gak bisa nembus." Teriak Pasha tanpa sensor dan malu. Tidak peduli pada para jomblo yang hadir di sana.
"Eh elu kalau ngomong lihat tempat napa. Asal mangap aja lu." Protes Lendra.
"Kalian apaan sih?" Irish berucap lirih. Harusnya tadi dia menyetujui usul Han untuk makan di kamar saja. Han tentu hafal dengan tingkah orang-orang itu, terutama sang mama. Mereka pasti akan menggodanya dan Irish habis-habisan.
"Kata Lung Somchai jika kalian sudah menikah, harus cepat...." Nathalie membuat kode dengan jarinya, bercinta.
"Jangan terburu-burulah. Santai aja kali." Sahut Han. Semua orang saling pandang. Menilik jawaban Han, bisa dipastikan kalau dia dan Irish belum melalui malam pertama mereka.
"Kenapa sih Maee?" Han berbisik saat Nathalie menariknya ke sudut ruangan menjauh dari semua orang. Satu pesan wanita itu sampaikan dari sang paman. Dahi Han berkerut tidak paham. Kenapa harus tergesa-gesa? Mereka masih punya banyak waktu, tidak mesti sekarang. Han hanya ingin semua berjalan alami tanpa paksaan, termasuk urusan ranjang mereka. Dia sungguh tidak ingin memaksa Irish.
Pikiran Han jadi kalut, sebab jika yang bicara adalah Somchai biasanya akan berhubungan dengan hal-hal di luar nalar.
Sementara Han sedang bingung soal desakan malam pertama, keluarga Aditama tengah berkumpul dalam versi lengkap. Dengan Teo ada di sana. Lendra dan Livia sama sekali tidak keberatan akan hal itu. "Seringlah datang ke rumah kalau di rumah kesepian." Pinta Livia. Senyum Teo melebar mendengar ucapan sang ibu. Pria itu mengangguk antusias.
Sementara Lendra, sejak tadi hanya menatap diam pada Teo. Semakin kenal Teo, semakin Lendra merasa kalau jiwa sang putra ada di sana. "Ayah akan sangat bahagia jika itu benar kamu." Kata Lendra dalam hati, memperhatikan Teo, Irish dan Ivan yang makan sambil mengobrol seru. Lendra saling pandang dengan Livia, lantas tersenyum. Bahagia, itulah yang mereka rasakan kini.
__ADS_1
Malam mulai mengganti siang. Hari mulai gelap, saat Han dan Irish turun dari mobil pria itu. Mereka ada di depan apartemen Han. Orang tua Irish membebaskan Han dan sang putri soal tempat tinggal. Mau di apartemen, mau tinggal bersama mereka atau di manapun, tidak masalah.
"Pengen tidur di kamarmu." Bisik Han, Irish seketika mendengus geram, kenapa tidak bilang dari tadi. Protes si istri. Dua orang itu berjalan beriringan dengan Han yang bercerita soal maee dan phoo-nya yang keliling kota, kulineran. Memanjakan ngidamnya sang mama. Sebab minggu depan, mereka sudah harus kembali ke Chiang Mai. Mempersiapkan resepsi untuk Han dan Irish bulan depan.
Keluarga Lendra akan diboyong ke sana plus Christo dan Diaz, juga teman-teman Han. Hanya Bian yang menolak ajakan Lendra. Dengan dalih akan mengawasi kantor, Bian memilih tinggal. Pria itu masih merasa segan saat berhadapan dengan keluarga Aditama, gara-gara ulah Eric.
Han dan Irish masuk ke unit Han, "Besok gantian nginap di tempatmu." Kekeh Han. Sudah bukan rahasia lagi jika keluarga Aditama dan Elajar punya unit di gedung apartemen mewah itu.
"Pakai baju!" Perintah Irish melihat Han hanya memakai celana training longgar saat keluar dari walk in closet. Drama pengantin baru di mulai.
"Gak ah, enakan gini. Dah kebiasaan." Irish melotot, melihat dada bidang, perut rata dengan susunan roti sobek, sangat menggoda milik Han.
"Kalau caranya begini, bisa-bisa gue yang nerkam dia duluan."
"Kebiasaanmu bikin pusing kepalaku." Han berteriak kesal. Dia pasti kalah kalau terus-terusan begini. Irish terbahak mendengar umpatan Han. Tahu benar ke mana arah pembicaraan sang suami.
Tawa Irish terhenti saat Han membungkam bibir sang istri dengan ciuman. "Mampuss gue! Dia ambil start duluan." Irish ingin lari, tapi Han dengan cepat menahan tengkuk dan pinggang sang istri. Irish tidak berkutik.
Amatiran, tapi nyatanya Han cukup pintar membawa Irish masuk dalam permainannya dengan cepat. Dua orang itu mulai bertukar saliva, membelit lidah. Tak berapa lama keduanya sudah bergelut panas di ranjang.
Selanjutnya....bayangin aja deh sendiri 😅😅🤧🤧
__ADS_1
Malam sudah melewati puncaknya, saat Han dan Irish tidur saling berpelukan. Hanya berbalut selimut tebal, setelah sesi panas perdana mereka. Han meringis merasakan perih pada punggungnya. Kelakuan Irish yang mencakarnya. Tapi tidak masalah, wanita ini sudah jadi miliknya, sepenuhnya.
Sekelebat bayangan muncul di kamar Han. Pria itu melepaskan pelan pelukan Irish di tubuhnya. Menyambar pakaian juga membuat pelindung untuk Irish. Pria itu berlari keluar kamar, setelah meminta beberapa jiwa untuk menjaga kamarnya. Han mengejar aura yang mendadak muncul sampai ke ruang tamu. Apartemen Han memiliki dua lantai, dan kamarnya ada di lantai atas.
Pria itu memindai rumahnya. Tanpa tahu, hantu-hantu yang menjaga Irish sudah hancur berkeping-keping. Satu kibasan tangan dan array yang melindungi Irish hilang.
"Mutiara hitam dan darah dari pengantin roh dewa naga."
Sosok itu mendekat ke arah Irish. Detik berikutnya, Han berlari naik ke kamarnya kembali. "Kau terlambat!" Sosok itu menghilang, meninggalkan Irish yang meringis kesakitan. "Sebentar." Han menekan dahi Irish, Han tahu ada sihir yang akan melukai Irish. Satu jari lain langsung Han lukai, darahnya dia gunakan untuk menghisap kembali sihir yang mulai menyebar di tubuh Irish. Saat darah Han dan Irish bertemu, segel ingatan mereka terbuka. Rentetan peristiwa tiga tahun lalu terputar cepat di benak Han dan Irish.
"Liong!" Teriak Han.
Sementara itu ledakan besar terjadi. Kali ini pintu gua terbuka, hancur berkeping-keping. Dari dalamnya perlahan keluar sosok yang sudah lama tidak terlihat. Diavolo benar-benar kembali.
Raja iblis itu melihat ke arah langit malam di atasnya. "Kau membuat kesalahan putraku. Kau melukai orang yang salah." Bisik Diavolo. Pria itu memejamkan mata, tak berapa lama sepasang sayap hitam muncul di punggung Diavolo. Dalam satu kepakan, tubuh Diavolo sudah melayang tinggi di angkasa. Terbang menuju awan hitam yang bergulung nun jauh di sana.
Tempat di mana sang putra tengah melepaskan amarahnya. Diavolo berdoa semoga dia belum terlambat. Hingga dia bisa mencegah Briock melakukan penghancuran kota sama seperti dirinya, tiga tahun lalu.
"Apa ini bisa disebut ayah dan anak sama saja?" Batin Diavolo bingung.
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***