
Liong menatap tajam pada Diavolo. Dari peristiwa yang baru saja terjadi, bisa disimpulkan jika Briock punya bakat yang besar untuk menghancurkan dunia. Sama seperti Diavolo. Meski saat ini, Briock terlihat seperti remaja pada umumnya, tapi suatu hari dia akan tumbuh dewasa. Dan kejadian tadi bisa saja terjadi.
"Aku akan mengambil mutiara hitam yang ada di tubuh Briock. Benda itu sepertinya berbahaya jika tertanam di tubuh anakmu." Kata Liong pada akhirnya. Diavolo hanya bisa menarik nafasnya dalam. Melihat ke arah putranya yang tengah mengobrol dengan Dea dan....Irish. Sial! Kenapa justru Briock yang dekat dengan Irish bukan dirinya. Lihat, sikap Irish juga berbeda pada Briock. Pada Briock tampak lembut, penuh senyum.
Walau Han sejak tadi memasang tampang judesnya. "Dulu bapaknya, sekarang anaknya yang nempel terus sama istri gue. Menyebalkan!" Gumam Han kesal. Mereka ada di rumah sakit, Irish perlu sedikit perawatan, tubuhnya sangat lemah. Meski Liong mengatakan wanita itu tidak apa-apa.
Dua keluarga itu tentu heboh, dengan Nathalie paling berisik, mendengar mantunya masuk rumah sakit. Mengira sang putra melakukan hal buruk pada Irish. Sontak jeweran telinga kembali Han dapatkan dari Nathalie. " Mbok ya kira-kira kalau mbobol gawang. Jangan brutal-brutal." Desis Nathalie penuh peringatan.
Han kontan menyanggah semua tuduhan maee-nya. La wong justru dia yang berdarah-darah waktu unboxing dengan Irish."Maee jangan sembarang kalau mau pitenah Han. Entar dikira Han beneran ngasarin Irish, padahal enggak. Yang sebenarnya terjadi...." Han memang tidak bisa menyimpan rahasia pada sang ibu soal kejadian di luar nurul eh nalar yang sering dia alami.
Nathalie tentu terkejut dengan cerita Han. Jadi badai tadi adalah ulah si anak raja iblis yang marah karena salah paham. Meski pada akhirnya, Nathalie hanya bisa menarik nafasnya, sampai kapan semua ini berakhir.
Bumil itu mengusap perutnya pelan. Berharap tidak terjadi hal-hal yang membuatnya jantungan. Tanpa Nathalie tahu, Briock memandang penuh minat pada Nathalie.
"Om ayah...." panggilan absurb Briock kembali mengudara. Tante ibu, om ayah, om kakak, hadeuuhhh, puyenglah pampir labil yang satu ini
"Apa?" Galak Han. Pria itu sedang membantu Irish makan.
"Mau makan?" tawar Han asal. Entah kenapa Briock jadi betah nempel pada manusia-manusia ini ketimbang kembali ke dunianya.
"Adik om ayah cantik, buat aku ya." Pinta Briock dengan wajah berbinar senang, seperti anak kecil dapat mainan baru.
"Lu jangan aneh-aneh deh. Adik gue lahir aja belum." Bentak Han jengkel.
Bukannya mundur, Briock justru semakin gencar membujuk Han, dengan Han kekeuh menolak permintaan Briock. Apa yang vampir labil itu pikirkan hingga berniat menginginkan adik yang rupa saja belum ketahuan.
Di tempat lain, pembicaraan serius antara Dea dan Diavolo terjadi. Dea marah pada pria tinggi besar yang ada di hadapannya, yang sembarangan menanam benih tanpa persetujuannya. Namun yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali. Dea akan berusaha menerima Briock sebagai anaknya, walau Briock seorang vampir.
Ternyata tiga bulan di rumah sakit dengan terus mendapat tambahan darah waktu itu adalah masa dia mengandung Briock. Dea menghela nafas, bagaimanapun Briock adalah putranya. Meski semua yang ada di diri Briock adalah copian Diavolo. Dea hanyalah tempat Briock berkembang dan hidup sebelum lahir ke dunia hari itu.
"Jadi keputusanmu tidak? Kamu tidak memikirkan perasaan Briock?"
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu memikirkan perasaanku waktu kamu melakukannya padaku. Kamu benar-benar keterlaluan pantas saja Irish selalu saja memakimu. Aku punya hak untuk menentukan jalan hidupku." Oceh Dea sama lancarnya dengan Irish. Dengan predikat berbeda tapi dua perempuan ini sama sekali tidak punya rasa takut pada Diavolo. Yang satu ibu anaknya, yang satu wanita yang ditaksirnya.
"Lalu aku harus bagaimana?" Diavolo bertanya dengan wajah putus asa. Jika Dea menolaknya, posisi ratu akan kosong.
"Pilih saja satu yang kau suka dari kalanganmu. Aku gak mau jadi ratu di sana. Aku juga punya pria yang ku suka. Briock tetap anakku, itu tidak akan berubah." Balas Dea.
"Siapa yang kau suka? Kau tidak pernah pacaran. Ratu cuma simbol saja. Kau tidak perlu stand by di sana."
__ADS_1
"Rahasia. Gak mau jadi ratu. Dah, bye jangan menemuiku kecuali urusan Bri, dan awas jangan nyolong tanam saham lagi!" Satu peringatan keras Dea berikan.
Dea berlalu dari hadapan Diavolo, yang hanya bisa menghela nafasnya. Dia tidak mau menaikkan seorang wanita menjadi ratu di kerajaannya jika bukan dua orang itu. Dan keduanya jelas menolak. Dia pernah mendiskusikan hal ini dengan para sesepuh di kerajaanya. Sebenarnya tidak masalah untuk Diavolo, toh dia sudah punya Briock yang akan jadi penerusnya.
Dea berjalan cepat saat melihat sosok yang ingin dia temui. Cinta? Dia akan mulai mengejarnya, tidak tahu apa hasilnya nanti, yang penting dia sudah berusaha. "Volturi....tunggu!!!" teriak Dea.
Dan beberapa hari terakhir ini, Bri sering mengikuti Nathalie ke manapun wanita itu pergi. Hal yang membuat mama Han merinding tanpa sebab. Nathalie jadi ingin segera pulang ke Chiang Mai, mencari Somchai untuk bertanya.
"Masa ini anak juga akan rusuh kayak kakaknya sih." Gumam Nathalie. Tak tahunya Pasha mendengar. Pria itu berusaha menenangkan sang istri. Nathalie tidak boleh stres, kandungannya sangat beresiko untuk umur sang istri.
"Aku akan menunggumu lahir dan tumbuh dewasa, mia regina (ratuku)." Gumam Briock dari kejauhan.
Hari berganti, kepulangan Nathalie dan Pasha tiba. Semua keluarga mengantar ke bandara. Nathalie memeluk erat Irish, sayang yang begitu besar dia rasakan pada istri Han tersebut. Sederet pesan Han terima dari maee dan phoo-nya. "Bulan depan dilanjut lagi ya." Cengir Han, yakin jika masih banyak yang akan diceramahkan padanya.
"Dasar anak...."
"Nggak boleh maki. Maee lagi hamil." Pasha bungkam mendengar peringatan Han. Ya, dia harus mulai mengendalikan mulut somplaknya yang kadang keluar jalur kalau mengomel.
"Ndra, jangan setres ngadepin dia."
"Eleh, gue bisa lebih sedeng kalau ngadepin elu."
Acara berlanjut ke makan siang. Di mana Teo secara resmi membawa Meli sebagai kekasihnya. Identitas Teo terungkap, meski untuk sekarang, keadaan akan tetap seperti ini. Isaac akan hidup sebagai Teo. Namun itu tidak masalah. Juga soal pekerjaan, Teo ingin tetap bekerja pada Han, untuk sementara. Akan aneh jika tiba-tiba dia muncul dalam jajaran staf yang sama kedudukannya dengan Ivan dan Irish.
"Tapi ayah akan tetap menarikmu ke kantor pusat, no kompromi. Dan juga, pulang ke Green Hills segera."
Ivan, Han dan Irish mengulum senyum masing-masing. "Lebih enak mana mas? Jadi hantu atau jadi manusia." Tanya Ivan konyol.
"Mbuhlah, Van." Teo menjawab gamang pertanyaan Ivan. Bingung, dulu dia sangat menginginkan kehidupan ini, tapi sekarang, entahlah.
**
**
"Wuuhhh... stop! Stop! Pegel mas." Keluh Irish. Sedang yang disambati seolah tidak peduli. Pria itu terus melakukan apa yang dia mau. Sampai dia mendapat pelepasannya. Han melemparkan diri ke samping Irish yang wajahnya separuh manyun, tapi juga puas.
"Gak bisa stop Ai, enak soalnya." Satu cubitan mendarat di dada polos Han yang dipenuhi bercak kemerahan, mahakarya sang istri.
"Jangan bilang mau nyaingin Maee." Kesal Irish.
__ADS_1
"Ya gak sih, tapi kalau dikasih sekarang kan gak papa. Seharusnya dari tiga tahun lalu kita sudah punya anak." Han mencium puncak kepala Irish. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Apartemen Han sudah dipasangi array untuk mencegah makhluk tak kasat mata mengintip kegiatan panas mereka. Maklum pengantin baru, Han suka main sosor saja tanpa melihat tempat.
Hanya Briock yang sesekali bisa menerobos masuk ke sana. Pampir labil yang tetap memanggil tante ibu dan om ayah pada Han dan Irish.
Sementara hidup Han dan yang lainnya mulai berjalan normal. Di dunia langit, Liong dan Naraku saling tatap melihat bola kristal milik dewa takdir yang bersinar terang di depan mereka.
"Jadi dia tetap ingin mendapatkannya?" tanya Naraku tidak percaya.
"Ya... garis takdir yang kuterima dari Kaisar Langit begitu."
"Tapi vampir dan manusia? Tidak mungkin!" Seru Liong.
"Hei, kalian tidak lihat keluarga Verona?"
Naraku dan Liong saling. Keluarga Verona? Tentu mereka tahu klan vampir yang bisa membaur dengan manusia. Hidup berdampingan dengan baik, bahkan mereka bisa memiliki keturunan meski berdarah campuran. "Selain sihir, masih ada teknologi yang bisa digunakan." Senyum Destiny, si dewa takdir penuh misteri.
"Aduuuh Yah, kapan aku bisa move on. Jika aku terus berhubungan dengan dia." Keluh Naraku.
"Lah kan ini adik iparnya, bukan Irish. Jangan ngadi-ngadi kamu!"
"Adik ipar yang lahir saja belum. Ternyata semua ini belum selesai!!" Teriak Naraku kesal.
END
**
Naraku bilek, "Thor pensiunkan aku. Aku mau cari jodoh."
Othor njawab, "Tunggu Kikyo naik ke langit." Naraku langsung nangis guling-guling. Pasalnya Kikyo juga belum lahir 🤣🤣
Note: Keluarga Verona ada di karya Ara dan Pangeran Vampir, bapaknya Lucifer 😍😍😍
Say bye to our lovely couple,
Untuk Han dan Irish cukup sampai di sini ya, semoga readers tercinta suka dan terhibur. Terima kasih untuk semua dukungannya. Sampai jumpa di karya author yang lain. Bye and see you again. Salam sayang dari author 😘😘😘
***
__ADS_1