
"Diamlah! Kau membuatku pusing!" Suara Naraku membuat Ivan menghentikan aksinya mondar mandir di kamar. Entah kenapa putra Liong itu terus menempel pada Ivan. Berondong meresahkan itu tengah frustrasi. Dia bicara pada Livia sang mama, meminta agar pertunangan Eric dan Irish dibatalkan saja dengan alasan Irish sudah punya kekasih. Bukannya setuju, Livia justru mengatakan kalau dia tidak percaya pada ucapan sang putra.
"Kau yang diam!" raung Ivan. Pemuda itu semakin stres mana kala keputusan datang dari papa Lendra yang terhormat. Pernikahan Irish dan Eric akan digelar bulan depan. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Bukan tidak suka dengan Eric, tapi Ivan hanya ingin sang kakak menikah dengan orang yang dia cinta.
"Mau dengar saran dariku?" Ivan menoleh pada Naraku, pria dengan pakaian perpaduan antara hitam dan ungu itu menatap tajam pada Ivan. Satu tangan Naraku menopang wajahnya. Kesan misterius begitu kental pada sosok Naraku.
"Tidak ada manusia yang sempurna, siapa tahu Eric punya cela." Ivan terdiam mencerna kata-kata Naraku.
"Jadi aku harus jadi sesaeng fans-nya begitu?"
"Terserah." Naraku menjawab singkat, saat itulah ponsel Ivan berbunyi. Naraku menarik sudut bibirnya. "Partner in crime -mu sudah muncul."
"Hey, bukannya partner in crime-ku adalah kamu." Naraku menghilang tanpa menjawab, bersamaan dengan Ivan mengangkat teleponnya.
"Ya halo mas....."
**
**
"Loh kok kamu di sini?" Dea bertanya riang pada seseorang yang duduk di lobi apartemennya. Briock mengangkat wajah begitu Dea berada di depannya. Wajah ayu perempuan itu membuat Briock tersenyum. Ada damai yang Briock rasakan kala menatap wajah Dea. Satu rasa yang membuat Briock nyaman berada di dekat Dea.
"Tante...." Vampir remaja itu memeluk pinggang Dea. Lalu menangis di perut wanita itu. Dea jelas terkejut dengan ulah Briock, terlebih ini di tempat terbuka. Tudingan tidak baik bisa saja mengarah padanya.
"Kita bicara di atas ya." Bujuk Dea. Dia bingung dengan sikap Briock. Takutnya jika remaja itu menganggap dirinya wanita yang bisa dijadikan kekasih atau sejenisnya. Oh tidak, Dea tidak memiliki rasa selain kasih dan sayang layaknya seorang ibu pada anaknya. Karena memang iya, Briock adalah putranya.
Sampai di unit Dea, Briock bukannya bercerita tapi malah tidur meringkuk di sofa depan TV. Aroma Dea benar-benar membuat Briock tenang. Amarah remaja itu langsung menguap saat dia masuk ke unit Dea.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Saat itulah bayangan Volturi muncul, menarik tangan Dea lantas membawanya pergi dari sana. Dea membulatkan mata saat dirinya muncul di rooftop apartemennya, di mana ada helipad di sana.
__ADS_1
"Kamu...."
"Volturi. Kau tidak ingat padaku?" potong iblis itu. Dea terdiam. Samar-samar dia mengingat pria itu ada dalam kenangannya, tapi apa yang sudah dilakukan Volturi, Dea tidak ingat. Pada akhirnya Dea hanya menggeleng tidak yakin. Cukup ragu pada ingatannya sendiri.
Volturi menarik nafasnya, kemunculannya memang sering terjadi di alam bawah sadar Dea. Volturi terlalu pengecut untuk menampakkan diri di depan wanita yang sangat dia cinta. "Baiklah, jika kau tidak ingat padaku. Yang terpenting sekarang, dengarkan apa yang akan kukatakan."
"Tunggu dulu, mari kita pertegas satu hal. Siapa kau. Aku tahu namamu Volturi. Tapi kau ini apa. Muncul dan hilang tiba-tiba. Seperti hantu." Dea membulatkan matanya, hantu? Pria di depannya ini hantu? Oh tidak! Dea memundurkan langkahnya. Takut jika wujud seram Volturi akan muncul.
"Yang kau pikirkan tidak sepenuhnya salah. Aku memang boleh dibilang hantu. Hanya saja aku sedikit berbeda, karena aku adalah iblis."
Dea seketika ingin lari dari sana, tapi Volturi jelas menahannya. "Lepas!" Dea merasa ada yang mengikat kakinya. Detik berikutnya tubuh Dea tertarik ke arah Volturi dan berakhir dalam pelukan Volturi. Dea meronta dalam dekapan iblis tampan itu.
Usaha Dea untuk melepaskan diri terhenti saat Volturi mencium bibir Dea. Tubuh Dea membeku di tempatnya berdiri. Merasa satu sensasi yang pernah dia rasakan dulu. Perlahan Dea memejamkan mata, saat rasa nyaman itu datang. Hingga dua makhluk beda dunia mulai menikmati ciuman mereka.
Dea menatap sedih pada Briock, dari cerita Volturi, Dea tahu kalau Briock adalah seorang iblis putra dari raja Volturi. Tentu Volturi tidak mengatakan kalau Briock adalah putra Dea. "Buatlah dia paham dengan keadaan. Luruskan kesalahpahaman yang ada di pikiran Briock. Anak itu berpikir kalau ibunya sudah membunuh ayahnya. Ada kemungkinan jika Briock ingin membalas dendam. Mencari ibunya lalu melukainya."
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Jika kau ingin aku memberinya pemahaman aku harus tahu kebenarannya."
"Ayahnya pergi untuk bermeditasi guna mengobati lukanya. Dia tidak meninggal. Sedangkan ibunya....rahasia. Yang jelas ibunya tidak membunuh ayahnya. Itu poinnya."
**
**
"Kenapa minta bertemu, mas." Ivan hampir menangis, melihat sosok Teo yang akhirnya dia sadari mirip dengan Isaac.
Dua pria beda usia itu saling pandang. Teo sendiri bisa meraba kalau Ivan sedikit tahu soal masa lalu Han dan Irish. "Aku dengar pernikahan kakakmu dipercepat. Apa itu benar?" Teo berusaha tenang. Padahal dadanya bergemuruh ingin berteriak kalau Eric adalah seorang bajinngan.
Pelan Ivan mengangguk. Selama menjadi jiwa penasaran, Teo cukup tahu dengan watak sang ayah yang keras kepala. Pria itu akan bertindak sesuai nalurinya. Tidak akan mengubah keputusan tanpa alasan yang kuat dan masuk akal.
__ADS_1
"Mau bekerja sama mencari bukti kalau Eric tidaklah sebaik yang kita lihat." Tawar Teo.
Di luar jendela restauran tempat Ivan dan Teo bertemu, sepasang ayah dan anak tengah melayang, sambil mengamati interaksi dua kakak beradik yang belum menyadari satu sama lain.
"Ayah yakin akan membiarkan mereka kolab?"
Liong menatap ke arah Naraku, sang putra. Naraku sudah berubah banyak, penjelasan dari Liong hari itu membuat mata Naraku terbuka hingga membuat pria itu mau menerima Liong sebagai ayahnya.
"Asal jangan melebihi batas. Teo tidak boleh memberitahu mereka secara langsung, pun dengan Ivan."
"Aku benci menempel pada adik Irish itu." Liong menatap tajam pada sang putra. Tidak habis pikir. "Kau tergila-gila pada kakaknya. Tapi benci setengah mati pada adiknya."
"Itu beda cerita ayah." Keluh Naraku. Sungguh, hubungan mereka yang rumit di awal kini mengalir lancar.
"Bedalah, sebab dia tetap bukan untukmu. Awasi saja adiknya. Jangan sentuh kakaknya." Liong menghilang, meninggalkan gerutuan di bibir Naraku.
Di tempat lain, Irish terlihat masuk ke restauran milik Eric. Beberapa staf mengangguk sopan pada Irish. Dan gadis itu balas mengangguk sambil tersenyum. "Itu...tidak apa-apa membiarkan mbak Irish masuk?" seorang staf bertanya.
"Memangnya kenapa? Kan dia calon istri bos." Timpal yang lain.
"Masalahnya....apa kau tidak lihat ada si Vivian di dalam sana. Cewek kegatelan yang tidak tahu malu." Seorang staf tanpa sadar memaki Vivian.
Sepertinya banyak staf tidak suka pada Vivian. Entah mereka tahu kelakuan wanita itu yang menggoda bosanya atau karena sebab lain. Namun satu hal yang pasti, para staf itu ingin Irish tahu kalau ada ancaman yang tengah mengincar calon suaminya. Padahal, Irish mati-matian ingin melepaskan diri dari jerat pernikahan ini. Dua keinginan yang saling bertolak belakang.
****
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
****
__ADS_1