
Kredit Pinterest.com
"Yohan Aditya! Bangun! Kamu ada kuliah pagi kan?" Teriakan melengking terdengar nyaring di telinga Han, hingga pemuda itu menutupi kedua telinganya dengan bantal.
Sama dengan satu sosok gadis yang mengeratkan pelukannya pada gulingnya. Setelah teriakan seorang wanita juga membahana dari lantai bawah. Untuk sesaat dua orang di dua tempat yang berbeda itu melanjutkan mimpi mereka sejenak. Hingga keduanya bangun bersamaan. Lalu duduk dengan tatapan kosong.
"Mimpi apa barusan?" Gumam dua orang itu bersamaan. Jantung mereka berdebar kencang. Ada rasa di hati mereka yang susah untuk digambarkan.
"Siapa dia?" tanya dua orang itu kembali kompak.
"Mbak baik-baik saja?" Irish menggeleng pelan. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Dia baru saja mengalami mimpi yang baginya aneh. Dia merasa bertemu seseorang yang spesial tapi tidak tahu dan tidak ingat siapa dia.
Pun dengan Han, pria itu berjalan gontai menuruni anak tangga keluar dari kamarnya. "Kamu sakit Han?" tanya Pasha. Sang putra menggeleng pelan. Dia tidak merasa sakit, hanya merasa aneh.
"Apa terjadi sesuatu saat kamu berada di Surabaya? Sikapmu aneh sejak kembali dari sana. Kamu kena pelet cewek sana ya?" gurau Natalie.
"Pelet gak mempan buat Han, Maee." Balas Han cepat sambil menggigit rotinya. Surabaya? Dia baru kembali kota itu. Kenapa dia tidak ingat? Dan lagi mimpi aneh itu, siapa dia. Siapa gadis yang sering muncul di bunga tidurnya akhir-akhir ini.
"Cepat selesaikan kuliahmu. Sepertinya cabang Surabaya cocok kau tangani. Baru sebulan kau berada di sana, kemajuannya sangat baik. Ada peningkatan yang signifikan terjadi bulan ini."
Han menerima satu file yang langsung dibacanya, Shine Hotel, Surabaya, Indonesia. Lagi-lagi perasaan aneh menelusup dalam hati Han. Shine Hotel, pria itu merasa mengalami banyak hal berkesan di tempat itu.
"Van, kamu ngasih ini ya ke mbak?" tanya Irish sambil menunjukkan cincin cantik di jarinya.
"Wuiihh, cincin kawin dari siapa tu? Eric ngasih mbak cincin ya. Dia serius ya sama mbak."
__ADS_1
Satu keplakan mendarat di lengan kekar Ivan. "Sembarangan kalau ngomong. Mbak gak tahu ini dari mana. Makanya mbak nanya. Ini malah jawabnya gak karuan." Gerutu Irish.
Beberapa waktu ini dia baru sadar kalau dirinya memakai cincin di jari manisnya. Cincin yang dia tidak tahu siapa pemberinya, kapan dia mulai memakainya. Irish membiarkan Ivan melihat cincin itu. Adiknya itu menuruni kemampuan mbak putri dari pihak Lendra, di mana Lana, mama Lendra adalah pembuat perhiasan ternama.
"Ini bukan buatan lokal. Brand luar. Mbak dapat dari mana sih?" Irish mengedikkan bahunya, tanda tidak tahu. "Mbak ini aneh. Dapat cincin sebagus ini tapi gak tahu siapa yang ngasih." Kata Ivan sembari memfoto cincin itu. Ivan sesaat mengamati cincin itu lagi. Bisa dia lihat kode di balik ring cincin tersebut.
"Buatannya sangat halus, sempurna. Pengrajinnya pasti top ini. Presisi, bahannya juga pilihan, detailnya bagus."
"Asli apa gak?" potong Irish langsung, dia tentu tidak paham dengan ucapan sang adik. Yang Irish tahu ya jenis kain, jahit, obras, mesin jahit.
"Bentar mbak." Isshh.. kalau ada alatnya Ivan sudah bisa tahu itu asli apa tidak. Tapi mata Ivan yang jeli tahu kalau itu berlian asli.
"Ini asli, mbak. Berlian asli. Cuma berapa karatnya harus diukur pakai alatnya. Dan itu ada di toko."
Irish mendengus kesal. Dia sama sekali tidak ingat dengan asal muasal cincin itu.
Di tempat lain, Han termenung di tempat uncle Somchai-nya. Satu-satunya orang yang tidak dihilangkan ingatannya oleh Liong. Han melamun sambil melihat sang paman melakukan ritual doa di wihara Longchan.
"Ada masalah?" tanya Somchai basa basi. Sambil menuangkan teh favoritnya.
"Apa yang terjadi selama aku di Surabaya Paman. Kenapa Maee dan Phoo bilang aku aneh sejak pulang dari sana. Paman kan menjemputku pulang." Tanya Han kepo. Pemuda itu sungguh penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Tidak ada. Hanya kamu bertemu beberapa jiwa yang mengganggu hotelmu. Kau membersihkannya, itu saja." Balas Somchai singkat.
Han terdiam. "Memangnya apa yang kau rasakan?" pancing Somchai. Han kembali diam. Mencoba merangkai kata, dari mana dia akan bercerita.
"Aku merasa meninggalkan sesuatu di sana." Jawab Han lirih.
__ADS_1
"Apa itu?"
Han bergerak gelisah, dia tidak tahu bagaimana menggambarkan rasa yang tengah dia alami dalam hati saat ini.
"Apa kau seperti mengingat seseorang tapi tidak tahu siapa dia?" Han terdiam, lalu mengangguk.
"Apa kau merasa kehilangan sesuatu yang menurutmu sangat berharga?" kali ini Han langsung mengangguk berkali-kali. Sebab perasaan itu yang paling mendominasi. Paling kuat di antara rasa yang lain.
Somchai menghela nafasnya. Dia tahu pasti hal itu berat juga sangat menyiksa. Baik Han maupun Irish pasti sangat kebingunan saat ini. Namun itulah prosesnya.
"Jangan terlalu dipikirkan, suatu saat kamu akan menemukan jawaban dari segala tanya dalam hatimu. Jalani saja hidupmu dengan baik. Aku yakin roh dewa naga, Liong akan selalu mmebimbingmu."
Patung dewa naga di dalam wihara Longchan, berkelip sesaat. Dengan mata patung itu bersinar hijau. Tentunya hal itu hanya diketahui oleh Somchai.
"Tapi aku tidak bisa hidup dengan rasa penasaran ini." Rengek Han. Dia sungguh ingin mencari tahu apa yang terjadi dengannya.
"Tidak sekarang Han, semua ada waktunya. Percayalah, sekarang selesaikan kuliahmu dengan baik. Juga jaga dirimu."
Di tempat lain, Irish menatap cincin yang berada di jarinya. Cantik sangat cocok ia pakai. "Cincin itu berasal dari Chiang Mai. Pembuatnya berasal dari sana. Bukankah mbak pernah berlibur ke sana. Mungkin mbak membelinya di sana. Lalu lupa."
Satu ucapan dari Ivan membuat semua make sense, masuk akal. "Tapi aku tidak ingat kapan mulai memakainya. Ini aneh," gumam Irish. Gadis itu lalu mengambil kotak perhiasannya melepaskan cincin mawar itu, lalu memasukkannya ke dalam sana.
"Pekerjaanku semakin berat. Kenapa Dea gak sembuh-sembuh sih sakitnya." Keluh Irish. Dia enggan mengambil asisten lain. Sebab dia sudah cocok dengan Dea.
Sebuah rumah sakit di pusat kota Surabaya. "Tahanlah sebentar lagi, tidak lama lagi dia akan lahir. Dan deritamu akan berakhir." Volturi menatap Dea yang tergolek di ranjang rumah sakit itu. Dengan kantong darah berada di atas tempat tidurnya. Oleh dokter, Dea didiagnosa mengalami kelainan darah. Hingga gadis itu harus mendapat pasokan darah tiap dua minggu sekali. Padahal yang terjadi, ada janin iblis yang tengah berkembang dalam rahin Dea. Tinggal menunggu waktu sampai putra Diavolo itu lahir.
****
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****