
"Kau menghancurkan jiwanya." Naraku muncul di samping Diavolo. Terlihat sangat santai sambil melihat Irish yang masih menangis. Diavolo sendiri hanya menyeringai. Dia terlihat sangat puas setelah menghabisi Isaac.
"Sudah lama aku ingin melakukannya. Jika bukan karena dia, sejak lama dia sudah aku hapuskan." Balas Diavolo enteng.
Sontak ucapan Diavolo membuat Irish meradang. Gadis itu bangun, mendorong tubuh Ivan dan Han yang berusaha membantu. "Kau bilang apa?!" Sorot mata Irish berubah hijau dengan simbol naga muncul di dahinya.
"Kau membuatnya marah." Bisik Naraku.
"Aku suka membuatnya marah." Detik berikutnya Diavolo terlempar ke belakang. Setelah Irish menghempaskannya menggunakan energi yang kuat.
"Mampuuus kau!" maki Nanto geram. Angin berhembus kencang mengelilingi tubuh Irish. Langit mendung kembali dengan petir menyambar.
"Ai...sudah hentikan!" Han melompat mundur saat Naraku menyerangnya. "Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka. Begitupun dengan kita. Hari ini, satu di antara kita harus mati." Tantang Naraku sambil mengarahkan pedangnya ke arah Han.
Di tempat Irish, pedang milik Isaac kini berada di tangan gadis itu. Irish langsung merangsek menyerang Diavolo. Raja iblis itu terpaksa melayani serangan Irish yang membabi buta. Berkali-kali pria itu berusaha menangkis serangan beruntun dari Irish. Gadis itu benar-benar meluahkan kemarahan juga rasa kehilangannya pada Diavolo.
"Hentikan Ai! Kau salah sasaran...."
"Diam!!!!" Irish menebaskan pedangnya ke arah Diavolo. Raja iblis itu jatuh terduduk dengan luka di lengan dan dada.
"Ai....."
"Berhenti memanggil namaku! Kau harus mendapat balasan. Kau membunuh kakakku...."
"Itu bagus untuknya. Siapa tahu dia bisa bereinkarnasi!" Pekik Diavolo. Irish menatap tajam pada Diavolo. Tidak percaya pada ucapan pria itu.
__ADS_1
"Kau pikir aku akan percaya? Raja Iblis sepertimu tidak bisa dipercaya!" Irish menusuk dada Diavolo, persis seperti yang Diavolo lakukan pada Isaac.
"Ai...." Diavolo tidak percaya kalau Irish bisa melakukan hal ini padanya. Membunuhnya. Tubuh pria itu ambruk di hadapan Irish dengan tangan berpegangan pada tangan Irish. Sorot mata Irish tajam, tidak ada belas kasih di sana. Kepergian Isaac untuk kedua kalinya membuat sifat Irish berubah.
Yang berdiri di hadapan Diavolo kali ini bukan lagi Irish, gadis yang suka memakinya. Judes dan galak. Namun Diavolo suka. Irish yang sekarang auranya sangat kuat dengan sifat kejam mendominasi.
"Jangan menyebut namaku! Kau harus mati agar kita impas." Diavolo menatap tidak berkedip pada Irish. Gadis itu ingin membunuhnya, padahal Diavolo tahu benar kalau Irish tidak pernah menyakiti orang lain.
"Baik, jika kau ingin aku mati. Bunuh saja aku." Irish menepis tangan Diavolo yang memegangi tangannya. Lantas tanpa ampun menendang Diavolo sampai tubuh pria itu tersungkur di tanah. Detik berikutnya, Irish memegang pedangnya tepat di atas tubuh Diavolo. "Satu hal yang pasti, aku tetap mencintaimu." Lirih Diavolo.
"Aku tidak peduli! Aarrgghhh." Tubuh Irish oleng ke samping saat Naraku menyerangnya dari ketinggian. Saat itulah digunakan Volturi untuk membawa tubuh Diavolo pergi dari sana.
Irish langsung tidak sadarkan diri, sebab Naraku langsung menekan titik kesadaran gadis itu.
"Apa yang kau lakukan?!" Geram Han melihat Irish yang pingsan dalam gendongan Ivan.
"Sialan kau!" Han menerjang Naraku. Pedang keduanya sejak tadi beradu tiada henti. Han begitu bernaafsu ingin mengalahkan Naraku. Hal itu membuat Naraku tersenyum tipis. Han akan kehilangan fokusnya dan lengah.
Dan benar saja, detik berikutnya bunyi bedebam terdengar saat tubuh Han menghantam tanah. Han meringis menahan sakit di punggungnya. Pria itu bangkit berdiri, keluar dari cekungan yang terbentuk akibat benturan dirinya dan daratan. Han kembali menyerang Naraku yang sudah siap dengan pedang hitamnya.
"Mari segera akhiri ini. Aku muak dengan semuanya!" Binar kebencian itu terlihat jelas di mata Naraku. Entah pada siapa ucapan itu ditujukan. Yang jelas serangan Naraku jadi berlipat-lipat tenaganya dibanding tadi. Han yang tadinya bisa mengimbangi serangan Naraku. Kini merasa kewalahan. Beberapa kali pemuda itu terdesak. Terkena goresan pedang, atau serangan lainnya.
Nafas Han terengah-engah dengan darah keluar di beberapa tempat. "Masih bisa bertahan? Masih ingin menghabisiku?" tanya Naraku sombong.
Han menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Seolah tengah melakukan pemanasan. "Sebenarnya, perintah yang datang padaku bukanlah membunuhmu, tapi melumpuhkanmu."
__ADS_1
Giliran Han yang menyeringai. Pria itu memejamkan mata, membiarkan pedangnya melayang sendiri di atasnya. Sementara Han mulai membuat gerakan memutar dengan kedua tangannya. Dua tangan itu disatukan di depan dada. Dengan telapak tangan saling bertangkup. Perlahan Han membuka mata. Di mana warna hijau kini menjadi warna bola mata Han, pun dengan simbol naga di dahi Han yang bersinar terang.
Naraku segera waspada. Pria itu menghujani Han dengan bola api hitam. Seperti meteor yang jatuh ke bumi, bunyi ledakan kecil terjadi. Dengan tanah langsung terbakar.
"Han...." Pemuda itu menoleh, melihat Ivan dan yang lainnya terkepung kobaran api. Mata Han menyala terang, dome pelindung segera muncul menghalangi bola api itu menyentuh Ivan dan yang lainnya.
"Sekarang giliranmu!" Kata Han setelah memukul jatuh satu buah bola api milik Naraku. Dua tangan Han saling bertaut di depan dada. Di depan sana, tubuh Naraku tiba-tiba serasa diikat oleh satu hal yang tak kasat mata. Kemampuan Han benar-benar di luar prediksi Naraku.
"Apa yang kau lakuka ha?" Marah Naraku. Berapa kali dia mencoba melepaskan diri tapi gagal. Yang ada justru energinya terserap habis.
"Bagaimana? Menyerah?" Han berjalan mendekati Naraku yang kini jatuh berlutut di hadapan Han.
"Bedebahh!! Sialan!! Lepaskan aku!" teriak Naraku. Tidak menggubris makian Naraku. Han menyentuh dahi Naraku, di mana tanda hitam itu berada. Pemuda itu menekannya, Naraku seketika berontak, dia tahu apa yang sedang Han lakukan.
"Aku tidak sudi kau murnikan. Aku tidak mau menjadi iblis ataupun penghuni istana langit." Teriak Naraku keras.
"Tapi ada yang menginginkannya." Balas Han cepat. Dua pria itu sejenak saling tatap. Sampai satu suara terdengar menggelegar di tempat itu.
"Bagus sekali Han. Kini aku akan membawanya ke tempatku" Suara itu menjawab cepat.
"Hei, mau di bawa ke mana aku?" Naraku berontak. Namun hal itu sia-sia."
"Sekarang giliranmu."
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.