Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Unit Han


__ADS_3

Irish sungguh dilema, dia memang tidak ada rasa pada Eric. Namun ketulusan Eric membuat Irish mulai tersentuh. Bagaimana jika sampai masanya dia tidak menemukan pria yang dia cinta. Apa dia akan menikah dengan Eric? Enam bulan, waktu yang diberikan Lendra sampai pernikahan Irish digelar. Sedikit memaksa, tapi tidak tahu kenapa dalam kurun waktu tersebut, Irish akan menemukan apa yang dia cari. Lendra yakin itu. Entah dalam diri Eric maupun pria lain. Yang jelas, Irish akan menemukan cintanya dalam enam bulan mendatang.


"Mbak....mbak gak bisa gini dong." Ivan menerobos masuk ke kamar sang kakak. Seperti biasa. Ivan menjelma jadi seorang pemuda tampan incaran kaum hawa.



Kredit Pinterest.com


Ivander Lazuardi Aditama


"Jangan komen dulu to. Puyeng tahu pala mbak. Eh, tunangan ini kan idemu. Tanggung jawab!" Irish mulai menyudutkan Ivan.


"Kan Ivan sudah menyarankan mbak buat mundur."


"Mundur kok lima belas menit sebelum acara di mulai. Gila lu ye!"


Ivan menarik nafasnya dalam. Melihat betapa rumitnya nasib percintaan sang kakak, Ivan jadi enggan mengenal yang namanya cinta. Cuma buat mumet kepala dan ribet hidup.


"Jadi mbak bakal nikah sama Eric enam bulan lagi?" cecar Ivan.


"Nggak tahu!" Irish menutup dua telinganya menggunakan tangannya. Dia sungguh tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Di sisi lain, Eric tampak menikmati waktu sendirinya di rooftop resto miliknya. Pria itu adalah pemilik beberapa restauran yang cukup terkenal di kota tersebut. Usia Eric juga terpaut jauh dengan Irish, tapi pembawaan Eric sangat dewasa. Seperti sang ayah, Bian. Bian sendiri masih menjadi asisten kepercayaan Lendra.


Eric sendiri sudah beberapa kali diingatkan oleh Bian soal hubungannya dengan Irish. Sulung sang atasan itu jelas tidak memiliki rasa pada sang putra. Namun Eric bersikukuh ingin memperjuangkan rasa yang dia miliki.

__ADS_1


"Cintamu bertepuk sebelah tangan Ric." Bian berucap penuh rasa putus asa. Mengingat rasa sakit yang bakal Eric tanggung nantinya. Irish sendiri sudah mengatakan kalau dia tidak punya rasa pada Eric. Gadis itu menganggap Eric seperti saudaranya sendiri. Namun Eric tetap bersikeras ingin menanti rasa itu datang dalam hati Irish, dengan cara mengikatnya lebih dulu.


"Melamun?" satu suara masuk ke telinga Eric. Pria itu tidak menoleh sama sekali, dia tahu pasti siapa pemilik suara itu.


"Vivian jangan menggangguku. Aku sudah bertunangan."


"Tunangan yang tidak pernah dianggap. Kau ini bodoh atau apa sih?" Vivian geram sendiri dengan sikap Eric, yang seperti menggali lubang deritanya sendiri.


Vivian mendengus geram, melihat Eric yang tidak menggubris sama sekali kehadiran dirinya. Bukan rahasia lagi jika Vivian menyukai Eric. Berulang kali Vivian menyatakan rasa sukanya. Tapi Eric hanya acuh padanya. Tidak menggubrisnya sama sekali.


"Teruslah membenci orang bodoh ini, Viv." Batin Eric.


**


**


Padahal si vampir, kalau Dea tidak ada. Dia pulang ke kamarnya. Dua hari menginap di tempat Dea, Briock selalu pulang ke istana dingin saat siang hari. Saat Dea pulang, Briock sudah ada di ruang keluarga, pura-pura menonton televisi. Makan? Briock akan memakannya, meski tidak banyak. Volturi mengajari Briock untuk makan selain darah.


Briock membiarkan saja Dea membuat laporan polisi, soal anak hilang. Lucu ya, anak segede Briock dilaporkan hilang. Alhasil laporan Dea ditolak mentah-mentah oleh pihak kepolisian. "Mbak itu anaknya sudah masuk usia dewasa, jadi dia punya hak untuk menentukan pilihan.


Giliran Dea yang menggeram marah. Bagaimana dia akhirnya terjebak dengan seorang anak. Ehh bukan, secara fisik, Briock adalah pria dewasa. Astaga, bisa dituduh kumpul kebo dia nantinya.


Sementara itu nasihat dari Volturi sama sekali tidak diindahkan oleh Briock. "Tenang saja Paman, aku tidak akan menghisap darahnya. Meski darahnya begitu manis." Plakkk, Volturi mengeplak lengan Briock, suatu siang saat pria itu langsung pulang untuk "makan"


Reaksi Volturi kembali menguatkan dugaan kalau sang paman menyukai tante Dea. Panggilan Briock untuk Dea. Dan dia tidak sabar ingin mengerjai sang paman.

__ADS_1


Di tempat lain, Irish tampak masuk ke lobi apartemen Grand Shamaya, Irish punya satu unit di sana, pun dengan Ivan. Namun tujuan Irish kali ini adalah unit Han. Entah apa yang membuat pria itu menginginkan Irish untuk datang ke apartementnya. Alih-alih datang ke kantor.


Irish setengah menggerutu, pasalnya dia sendirian, Dea sedang ada meeting dengan klien yang lain. Dan dia harus menghadapi pria yang beberapa waktu lalu melihat sisi paling buruk dari seorang Irish.


Huftt, Irish menarik nafasnya dalam, berdiri di depan pintu unit Han. Tangan Irish terulur menekan bel unit Han. Sekali....dua kali....tidak ada jawaban. Irish pun menghubungi Nanto, pria itu menjawab, masuk saja. Sekalian dengan sederet password unit Han.


"Lah...pakdhe ki piye to. Kok malah disuruh masuk. Gak sopan banget sih."


Irish jelas curiga dengan Nanto. Apa ini cuma akal-akalan Nanto. Haisshhh, Irish malah bingung sendiri. Dia ini mau kerja bukan mau buat skandal. Gadis itu berbalik, memilih pergi dari sana. Biarlah dia kehilangan peluang ini.


Namun baru berjalan beberapa langkah, Irish berbalik lagi. Geram dengan dirinya sendiri yang plin plan dan tidak punya pendirian. Irish menghubungi ponsel Han, Nanto bahkan mengirimi nomor ponsel Han. Benar-benar niat ingin mengerjai Irish. Mengerjai atau lebih tepatnya mencoba menyatukan. Nanto ternyata telah bertemu Ivan, dan keduanya sepakat mencari cara untuk mendekatkan Han dan Irish. Ingatan boleh dihapus, tapi chemistry somplak mereka ternyata masih nyambung dan selalu cocok.


Irish tampak mengintip lebih dulu saat membuka pintu. Melihat bagaimana apartemen seorang Han. "Boleh juga." Irish melangkah masuk.


"Haloooo, tuan Aditya. Maaf saya nyolong masuk. Abis dipanggilin gak nyahut." Irish meletakkam paper bag berisi berkas kerjasama mereka juga beberapa katalog berisi design yang Han ingin lihat. Gadis itu terus berjalan masuk, sesekali memanggil nama si empunya rumah. Lagi-lagi tidak ada balasan.


Hingga gadis itu sampai di kolam renang indoor yang ada di tengah unit itu. Beratap kaca hingga cahaya terang bisa masuk ke tempat tersebut. Memberi kesan seolah kolam itu disinari cahaya matahari.


"Astaga! Dia lagi ngapain sih?!" Panik Irish melihat pemandangan yang membuat jantung wanita itu berdebar kencang.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2