Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Peringatan Han


__ADS_3

Ivan menghentikan mobilnya di depan restauran Eric. Keduanya melihat mobil Irish di sana. Karena mereka sedang menjalankan misi, jadi keduanya tidak akan turun dari mobil. Hanya mengamati keadaan. Tak berapa lama Vivian terlihat keluar dengan wajah kesal dari restauran Eric. "Siapa dia?" Teo bertanya sambil melihat sekeliling mereka.


"Vivian. Teman Eric." Jawaban dari Ivan membuat Teo berpikir lain. Terlebih setelah mengingat kalau Vivian adalah wanita yang dilihat Teo bersama Eric di depan rumahnya eh rumah depannya. Beda gak sih?


"Jadi si brengsek itu juga membawa wanitanya ke resto. Keterlaluan!" maki Teo dalam hati. Dua orang itu hanya diam untuk beberapa waktu berikutnya. Ada begitu banyak kata yang ingin diucap, tapi pikiran tidak memperbolehkannya. Teringat ancaman dari guide masing-masing.


Sementara di dalam sana, Eric tampak bicara sungguh-sungguh pada Irish. Meyakinkan gadis itu agar mau menikah dengannya. Awalnya Irish diam mendengar semua perkataan Eric, dia ingin mencari cela dari seorang Eric. Berpikiran sama seperti Naraku, seorang Eric pasti punya kekurangan.


Irish gagal membujuk Lendra untuk setidaknya menunda pernikahannya. Sang ayah setengah ingin Irish segera menikah, di mata Lendra tidak ada calon yang lebih tepat selain Eric, putra asisten kepercayaannya, Bian.


"Ada dua syarat jika kamu ingin lari dari pernikahan ini, bawa calon suami yang sepadan dengan Eric dan temukan cela Eric hingga dia tidak pantas bersanding denganmu."


Sebuah tantangan yang Lendra berikan pada Irish. Calon suami? Irish bisa saja menyeret Han ke hadapan Lendra, tapi mencari aib Eric, ini yang susah.


Gadis itu akhirnya keluar dari kantor Eric dengan wajah lesu, sampai seorang staf menyapa dan mengucapkan hal yang membuat Irish curiga, "Mbak Irish harus hati-hati sama mbak Vivian. Dia sering lo datang ke sini. Mana kalau di dalam suka lama lagi."


Komporan staf Eric membuat Irish berpikir, dia bisa memata-matai Eric melalui staf ini. Tak berapa lama, wajah Irish berubah senang. Si staf setuju untuk membantu Irish, tugasnya hanya memberitahu Irish kalau Vivian datang dan berada di dalam ruangan Eric lama. Atau ada hal mencurigakan. Si staf berpikir agar Vivian tidak lagi mengganggu bosnya yang sebentar lagi akan menikah.


"Aku harap yang aku pikirkan tidak terjadi. Aku memang tidak ingin menikah denganmu, tapi aku harap kau tidak melakukan hal yang membuatku dan om Bian kecewa." Batin Irish, melajukan mobilnya dari restauran Eric. Tanpa tahu kalau mobil sang adik ada di sana.


Teo dan Ivan saling pandang, melihat mobil Irish keluar dari sana. Wajah Irish tampak biasa saja. Itu berarti tidak terjadi apa-apa. "Sialll!! Bedebah itu bisa berkelit kali ini." Batin Teo kesal.

__ADS_1


Keduanya memutuskan untuk pergi dari sana. Sampai Teo melihat satu orang memarkirkan motornya di sana. "Meli! Sandal!" Batin Teo dan Ivan bersamaan.


"Kau pulang dulu, aku ada urusan." Ivan tersenyum melihat tingkah Teo, yang Ivan yakini adalah Isaac sang kakak. Setelah pemuda itu mendesak Naraku untuk memberitahu soal siapa Teo, dengan satu syarat Ivan harus diam.


"Alamat aku jomblo sendirian ini." Batin Ivan lucu. Melihat dua saudaranya punya pasangan. Meski begitu Ivan bahagia, bisa melihat sang kakak dan bersama Isaac. Ini lebih dari cukup, tidak masalah kalau dia harus diam seumur hidupnya. Mengunci mulutnya rapat-rapat, tidak memberitahu orang lain soal Teo.


Shine Hotel, Han melemparkan beberapa lembar kertas ke wajah Yuda Irawan, tidak sopan? Han tidak peduli. Tingkah Yuda tidak bisa Han tolerir lagi. Han pikir ingin memberi kesempatan kedua pada Yuda untuk memperbaiki diri. Han tahu sepak terjang Yuda di kantor miliknya.


Bukannya menyadari kesalahannya dan membenahi sikap, Yuda justru semakin ngelunjak di divisi-nya yang baru. Han sendiri memastikan sudah menyingkirkan orang-orang yang dia anggap benalu di hotelnya. Mereka yang bekerja pada Han kini adalah orang-orang yang loyal dan jujur.


Han mencoba menahan diri saat bagian keuangan melaporkan kecurangan yang Yuda lakukan untuk pertama kalinya. Dua kali, tiga kali, Han tidak bisa mentolerir lagi. Brakkkkk!!!


Suara meja yang digebrak membuat Nanto dan Yuda berjengit kaget. Untuk pertama kalinya, Han menunjukkan wajah seorang pemimpin yang sebenarnya. Tidak ada wajah penuh senyum dan tampan seperti biasa. Yang ada, aura ingin makan orang. Beberapa hantu yang lewat justru berhenti memandang pada Han. Mereka yakin tidak akan dikerjai pria tampan itu kali ini. Karena itu, mereka akan menonton apa yang akan dilakukan Han pada pria di hadapannya.


"Apa yang kuambil sesuai dengan apa yang keberikan pada hotel ini. Kesetiaan, kerja keras...."


"Dengan melakukan korupsi? Yang benar saja tuan Yuda Irawan?" potong Han cepat. Han sudah menerima salinan gaji milik Yuda dan semua sangat sesuai dengan jabatan dan kinerjanya, lebih malah. Dan pria itu masih berpikir untuk mencuri dari Shine Hotel.


"Itu uangku!"


"Uangmu pala lu peyang! Itu uang hasil kerja keras seluruh staf hotel ini. Bukan milikmu!" Suara Han keras dengan nada tinggi. Nanto bahkan sampai memejamkan mata mendengar bentakan Han. Para hantu semakin antusias melihat kemarahan Han. Mereka berkumpul semakin banyak. Nanto yang kini bergidik ngeri.

__ADS_1


"Lalu apa yang ingin kau lakukan? Memecatku? Kau tidak akan bisa melakukannya." Suara Yuda menantang sekaligus meremehkan.


Han tersenyum sinis. Han bisa lihat kalau Yuda memakai sejenis tameng dalam dirinya. Mencegah orang melakukan kejahatan padanya. Namun Yuda salah memilih lawan. Han dengan energi spiritual yang besar tidak akan mempan hanya dengan jampi ecek-ecek yang Yuda pakai.


"Kau pikir aku tidak bisa menyingkirkanmu?" Tangan Han terangkat, dalam sekelip mata kalung Yuda yang menjadi tempat jampi-jampi itu berada sudah berada di tangan Han. Yuda jelas terkejut. Bagaimana Han bisa tahu, benda yang diberikan oleh iblis sekutunya dengan imbalan tubuh perawan tiap bulan purnama.


Han meremas kalung milik Yuda dengan mudah. Menggunakan energi spiritualnya untuk mematahkan kekuatan iblis yang ada dalam kalung itu. "Tidak! Tidak!" Yuda berteriak histeris melihat cairan kehijauan mengalir dari kalung yang dinetralkan Han.


"Kau....kau....!" Yuda memundurkan langkah. Ketakutan, dia mulai menyadari kalau Han bukan manusia biasa. Pria itu punya kekuatan spiritual yang besar. "Apa kau tahu? Tiga tahun lalu aku yang mengacaukan ritual gilamu itu!"


Yuda semakin ketakutan, setelah tahu siapa Han. "Aku adalah pemilik tempat ini. Aku tidak melarang siapapun untuk tinggal di sini asal mereka tidak membuat onar. Tapi....tatapan Han lurus memandang Yuda....jika kau berani membuat kekacauan di tempatku, aku tidak segan untuk menghabisimu."


Satu peringatan Han berikan. Bukan untuk Yuda seorang, tapi semua hantu dan jiwa penasaran yang kebetulan ada di sana.


***



Kredit Pinterest.com


Han mode marah on, tetep ganteng woi...

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak, Terima kasih.


***


__ADS_2