Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Mengerikan


__ADS_3

Suara lenguhan terdengar, saat seorang pria mencapai puncaknya. Pria itu Sai namanya. Pria dengan rupa tampan, tanpa kamuflase atau penyamaran dan sejenisnya. Seorang iblis yang menjadi tangan tangan Volturi.


"Untuk hal yang kau minta, aku perlu syarat tambahan." Sai, tanpa melepas penyatuan mereka, pria itu mulai menyerap energi spiritual seorang wanita yang berada di bawah tubuhnya. Seorang wanita yang kini setiap bulannya rela menyetorkan tubuhnya untuk melayani Sai, sampai keinginannya terpenuhi.


"Ambil saja apa yang kau mau. Lagi pula, jika rasanya senikmat ini, aku tidak masalah jika harus melayanimu tiap malam." Balas si wanita.


"Cih...dasar murahan. Apa kau tahu kalau aku tiap malam selalu bermain dengan wanita yang berbeda. Kau hanya salah satu dari mereka yang bodoh. Mau memberikan tubuh dan tunduk pada kami, iblis, hanya untuk satu keinginan yang sangat tidak masuk akal."


Wanita itu membulatkan mata saat Sai tidak hanya menghisap energinya tapi juga darahnya. "Rasakan kau wanita serakah." Sai turun dari tubuh wanita itu, wanita yang Sai akui lumayan memberinya kepuasan, setidaknya malam ini.


Sementara itu si wanita tersenyum puas. Puas karena dia merasakan apa itu nikmat bercinta untuk pertama kalinya meski dengan seorang iblis berparas rupawan, juga karena sebentar lagi, kehancuran orang yang paling dia benci akan datang. "Tunggu saja kau Irish Isabel Aditama. Kau tidak hanya gagal menikah. Tapi juga akan bangkrut. Pabrik yang jadi kebanggaan keluarga Aditama akan hancur di tanganmu." Seringai wanita yang tak lain adalah Vina, wanita itu tertawa keras masih dengan tubuh polos, tanpa pakaian.


Sai muncul di hadapan Volturi, tangan kanan Diavolo itu tampak sibuk dengan beberapa kertas di hadapannya, weeehhh kerajaan iblis ada urusan dengan kertas-kertas juga to 🤣🤭🤭


"Enak?" tanya Volturi tanpa basa basi, tanpa melihat ke arah Sai yang kini duduk di depannya. Ikut meraih beberapa tumpukan kertas yang ada di hadapan tuannya. Sai adalah asisten Volturi.


"Lumayanlah, yang aku heran, mereka rela melakukan itu hanya untuk keinginan yang...receh. Bukannya mereka tinggal kerja keras dan duit akan datang pada mereka." Sai kadang tidak habis pikir dengan tingkah makhluk berjuluk manusia ini.


"Itulah sifat mereka, tapi dari sanalah kita hidup." Sai manggut-manggut membenarkan balasan sang tuan.


"Siapa korbannya malam ini?"


"Seorang gadis bernama Irish Isabel Aditama."


Volturi menghentikan pekerjaannya. "Kau tidak akan mampu menyentuhnya." Sahut Volturi cepat. Sai mengerutkan alisnya mendengar ucapan sang atasan.


"Kau kenal dia?" Ini sangat jarang terjadi, seorang Volturi kenal dengan seorang manusia.

__ADS_1


"Apa kau tahu, kalau raja kita menginginkan dia untuk jadi ratu kita." Sai memundurkan tubuhnya, iblis itu seketika jadi penasaran dengan sosok Irish.


"Dia pasti istimewa. Kalau begitu, aku akan bermain-main dengan yang ini. Akan kuhisap habis darahnya. Berani sekali dia ingin mencelakai ratu."


Tanpa keduanya tahu, pembicaraan mereka di dengar Briock. Lagi, salah paham semakin kuat tertanam di benak vampir muda dan labil itu. Remaja itu segera pergi dari sana, tanpa mendengarkan lagi pembicaraan dua tangan kanan sang ayah. Kemarahan kembali muncul di hati Briock. Haruskah dia membunuh wanita itu? Pikiran tersebut berkecamuk di benak Briock.


"Tapi itu dulu, aku tidak tahu apa yang mulia Diavolo masih menginginkan dia untuk jadi ratu kita atau tidak setelah dia kembali. Mengingat kita sudah punya Briock." Volturi memberikan pendapatnya.


Sai terdiam mendengar ucapan sang tuan. Satu hal membuat Sai jadi penasaran dengan sosok Irish, pasti ada hal menarik dari gadis itu, sampai raja mereka menjatuhkan pilihannya pada Irish.


Di tempat lain, Han terlihat membukakan pintu mobil untuk Irish. Pria itu mengantar sang gadis pulang. "Ai kamu baru pulang?" Satu suara membuat Han seketika merasa canggung. Dia baru saja tahu kalau mereka dekat dulu, tapi posisi Irish sekarang adalah tunangan Eric. Han masih punya hati, tidak ingin dicap sebagai perebut calon istri orang.


"Aku balik ya." Pamit Han. Namun Irish menahan tangan pria itu.


"Jangan cari masalah!" Desis Han penuh penekanan, tapi Irish tampak tidak peduli. "Nona muda cari masalah." Batin Han memutar matanya malas.


"Kau yang keterlaluan padaku." Judes Irish balik. Sepanjang jalan, gadis itu sibuk menggerutu. Kenapa Han tidak mencarinya, dan Han berulang kali menjelaskan kalau dia sama sekali tidak ingat pada Irish. Pertengkaran dua orang yang tidak ingat satu sama lain, tapi dekat di masa lalu.


"Ada apa ini?"


Mampus!!! Papa mertua.....uuupsss. Han menutup mulutnya. Menahan diri agar dirinya tidak keceplosan. "Aku pulang, Yah." Irish melepaskan tangannya dari Han.


"Bagus sekali. Eric datang untuk membicarakan pernikahan kalian yang akan dipercepat. Ahhh...kebetulan sekali tuan Aditya di sini. Kami ingin menyewa ballroom hotel anda bulan depan."


Duaaarrrrrr, Han dan Irish saling pandang. Menikah? Dipercepat? Tidaaakkkkkk!!!!!


Teo menyerahkan satu paperbag dengan wajah malu-malu. Meli mengerutkan dahinya melihat tingkah Teo. Baru kemarin, pria itu memaksa meminta nomor ponselnya. Dan hari ini pria itu sudah menunggunya di pertigaan depan rumah.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Meli heran.


"Tiramisu dan boba. Aku dengar kamu menyukainya." Balas Teo, kali ini raut wajah rindu terlihat di wajah Teo. Baru sadar kalau dia ternyata merindukan sosok ini.


Meli mengerutkan dahi, dia tidak begitu mengenal Teo. Baru bertemu dua hari yang lalu, dan pria dewasa itu terlihat ingin mendekatinya.


"Terima saja. Aku membelinya khusus untukmu." Teo berkata sambil menggaruk kepalanya. Salah tingkah.


"Mel....kau sudah pulang? Masuk!!" satu suara membuat Meli menoleh. Teo segera memberikan paperbag itu pada Meli.


"Siapa kau?!"


Glek!!! Teo menelan ludahnya. Beginikah rasanya menghadapi calon kakak ipar? Upppssss, Teo sangat gugup sekarang. Dia lebih memilih melawan hantu dan jiwa penasaran daripada harus menghadapi kakak dari gadis yang dia cinta. Cinta? Yang benar saja?


Di balik pungguh sang kakak, Teo masih bisa melihat Meli yang memberi kode "semangat" pada Teo. Saat itu juga hati Teo terasa berbunga-bunga. Inikah rasanya jika cintamu diberi jawaban iya oleh gebetanmu. Teo merasa seperti ABG yang tengah kasmaran.


"Malah senyum-senyum sendiri!"


Suara kakak Meli mengembalikan Teo ke real life. Kenyataan kalau dia harus mendapatkan restu kakak Meli yang galak agar dia bisa memacari gadis itu. "Gini amat ya berjuang untuk cinta." Batin Teo. Melihat wajah seram kakak Meli.


"Padahal hantu di luar sana lebih seram, tapi kenapa kakak Meli lebih mengerikan dari raja neraka."


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2