
Ken mulai mengerjakan pekerjaannya dengan mempelajari beberapa berkas. Dia juga memeriksa laporan yang dikerjakan Alyssa sebelumnya.
Ya, Alvin sudah memberitahunya Ken tentang kemungkinan kecurangan yang dilakukan Raymond. Dan mereka hampir menemukan buktinya.
"Ada yang aneh dengan laporan ini." seru Ken
Alvin yang mendengar hal itu mulai mendekat dan mendengar penjelasan Ken. "Ada selisih dari laporan ini dengan laporan sebelumnya. Walaupun tidak terlalu besar dan masih bisa di toleransi. Tapi tetap saja jika dikalikan dengan berapa lama paman Raymond memimpin perusahaan, kerugian perusahaan bisa mencapai ratusan juta. Dan sepertinya persentase di laporan ini tidak sesuai dengan pendapatan aslinya."
Alvin membacanya dengan teliti dan ternyata benar apa yang di katakan Ken. Dia mulai mengecek laporan di file perusahaan dan ternyata memang ada selisihnya.
"Aku dan Alyssa sudah mengeceknya berkali-kali dan tidak menemukan adanya selisih pendapatan. Tapi kau dengan cepat bisa menemukanya. Aku salut padamu, Ken." puji Alvin
"Jangan memujiku, kak. Aku masih harus banyak belajar. Sebenarnya kau dan Alyssa tahu mengenai hal itu. Tapi kalian tidak membandingkan dengan laporan yang ada di file perusahaan." seru Ken
"Ya, kau benar." Alvin mulai membandingkan laporan yang berupa berkas dengan yang tersimpan di komputer. Dan dari sana terlihat selisih angka yang di maksud Ken.
"Aku merasa bisa mengerjakannya dengan cepat." seru Alvin
Ken hanya tersenyum. Dia kembali memeriksa laporan yang di berikan sekretarisnya dan membubuhkan tandatangan di sana.
Dan hal itu terus berlanjut. Hingga tidak terasa, hari sudah malam.
"Akh..." Ken meregangkan otot-ototnya dan menyandarkan punggungnya di kursinya. "Aku tidak menyangka bekerja akan sangat melelahkan. Tapi kenapa Alyssa tidak pernah mengeluh? Pagi dia membereskan rumah, menyiapkan makanan dan pergi bekerja. Saat pulang pun dia masih menyempatkan diri membuat makan malam." gumam Ken. Tapi kemudian dia tersenyum senang saat teringat permainan panas mereka kemarin.
"Huh.. Aku jadi merindukan Alyssa. Kira-kira sekarang dia sedang apa ya? Lebih baik aku pulang sekarang." Ken mulai membereskan berkas-berkas di meja dan memasukkannya kedalam tas kerjanya. Dia akan mengerjakannya nanti di rumah.
"Alyssa, I'm coming!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di rumah, Alyssa sudah menyiapkan makan malam untuk Ken. Dia menata makanan di meja makan dan pergi ke ruang tamu untuk menunggu kedatangan Ken.
"Sudah malam, tapi kenapa Ken belum pulang? Apa dia lembur?" gumam Alyssa khawatir. Dia menimang-nimang untuk menghubungi Ken. Tapi dia takut justru akan mengganggu Ken. Berkali-kali dia mengecek ponselnya tapi tidak ada telepon dari Ken.
Sampai matanya tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kak Rain." Alyssa tersenyum dan melepas cincin tersebut.
"Apa kabar kak?"
"Sekarang aku tahu apa maksudmu, kak. Ternyata selama ini, Ken mencintaiku. Pantas saja kau meminta kami untuk menikah. Pasti kau melakukan hal itu karena kau menyayangi Ken."
"Tapi jika aku boleh memilih, aku ingin bersamamu, kak. Hiks... Hiks... Aku merindukanmu, kak Rain."
Isakan tangis Alyssa terdengar oleh Ken. Dia yang baru sampai, berniat untuk mengejutkan Alyssa. Tapi justru dirinya yang terkejut. Dia berdiri di belakang Alyssa dan melihat Alyssa yang menangis menatap cincin pernikahan mereka.
Ken mengepalkan tangannya. Dia baru ingat jika cincin yang mereka pakai adalah cincin yang disiapkan Rain untuk melamar Alyssa. Dia merasa bodoh karena menganggap sudah berhasil memiliki Alyssa. Tapi nyatanya, hati Alyssa masih menyimpan cinta untuk kakaknya.
"Kau bodoh Ken." Batin Ken. Dia kembali keluar dan menutup pintu perlahan. Dia berdiri di depan rumah dengan hati yang terluka. "Aku harus bagaimana sekarang?" gumamnya. Dia seolah tersesat di tengah jalan.
Selama ini dia mengira, Alyssa sudah melupakan Rain. Tapi ternyata nama Rain masih terukir di hati Alyssa. Apakah dia harus menyerah?
__ADS_1
Tidak!! Rain sudah meninggal. Dan sekarang dia adalah suami Alyssa. Tugasnya adalah membuat Alyssa bahagia dan melupakan Rain. Tidak ada yang boleh menempati hati Alyssa kecuali dirinya.
"Akan aku buat kau melupakannya, Alyssa." Gumam Ken. Dia menghela nafas panjang dan masuk ke dalam dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku pulang!!" seru Ken
Alyssa buru-buru menghapus air matanya dan memakai kembali cincin pernikahannya. "Ken!! Kau sudah pulang ya." Alyssa membantu membawakan tas kerja Ken dan juga jasnya. "Aku sudah memasak makanan untukmu. Kau mau makan sekarang atau mau mandi dulu?" tanya Alyssa
Ken hanya tersenyum menatap Alyssa. Dia bisa melihat jika Alyssa berusaha untuk menutupi kesedihannya.
"Ken!!" panggil Alyssa
"Sepertinya aku mau mandi dulu." seru Ken
"Baiklah, aku akan menyiapkan air untukmu." Alyssa pergi ke kamar untuk menyiapkan air dan juga baju ganti untuk Ken.
"Airnya sudah siap. Aku juga sudah menyiapkan baju untukmu."seru Alyssa
"Terimakasih." balas Ken
Alyssa tersenyum dan keluar dari kamar. Dia akan menunggu Ken di meja makan. Sedangkan Ken menyelesaikan ritual mandinya.
Tidak berapa lama, Ken yang sudah selesai mandi terlihat menuruni anak tangga. Dia menuju ruang makan dan menikmati makan malamnya bersama Alyssa.
"Bagaimana hari pertama kerja? Apa ada kendala?" tanya Alyssa
"Tidak ada kendala apapun. Justru aku dan kak Alvin sudah menemukan kecurangan yang dilakukan oleh paman Ray."
"Tapi itu belum cukup kuat untuk menyeret paman ke pengadilan. Setidaknya kami membutuhkan saksi atau mungkin ada oknum lain yang bekerjasama dengan paman."
Alyssa tersenyum bangga dan menggenggam tangan Ken. "Aku yakin, kau pasti bisa." ucapnya
Ken membalas senyuman Alyssa dan mengecup tangan Alyssa. "Thanks, babe."
Blush
Alyssa tersipu dan menarik kembali tangannya. "Astaga, kenapa aku mudah sekali tersipu? Pasti wajahku keliatan aneh." batin Alyssa. Dia menghela nafas dan menyentuh wajahnya.
Melihat hal itu, Ken tertawa. "Kau terlihat lucu saat malu." seru Ken.
"Ck... Berhenti menggodaku!!" gerutu Alyssa
"Oke, maaf. Tapi apa punyamu masih sakit?"
"A_apa?"
"Itu mu, apa masih sakit?" tanya Ken lagi
Alyssa menunduk malu dan menggeleng pelan. Melihat hal itu, Ken buru-buru menghabiskan makanannya dan setelahnya dia menarik Alyssa hingga berpindah ke pangkuannya.
"Ken!!" pekik Alyssa
__ADS_1
Ken memeluk pinggang Alyssa dan menjatuhkan kepalanya di dada Alyssa. "Aku lelah, Lys."
Glek
Alyssa menelan Salivanya kasar. Dia mencoba mendorong kepala Ken, tapi pelukan pria itu justru semakin erat.
"Ken, jangan seperti ini!!" pintanya
"Kenapa, hm? Aku kan lelah seharian bekerja. Tenagaku habis dan sepertinya aku membutuhkan pengisian daya agar aku bersemangat untuk lembur malam ini."
Alyssa mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Ken. Pengisian daya? Apa maksudnya?
Melihat Alyssa yang bingung membuat Ken terkekeh. Dia mendekatkan wajahnya dan berkata, "Ayo kita lakukan lagi!!" ajaknya
Alyssa melebarkan kedua matanya. Dia berusaha untuk bangun dari pangkuan Ken tapi pria itu lebih dulu membungkam bibirnya.
Alyssa yang belum berpengalaman hanya bisa diam saja. Tapi lama-lama dia mulai membalas ciuman Ken walau masih kaku. Bahkan dia menikmati sentuhan kedua tangan Ken yang sudah bergerilya di tubuhnya seolah mencari titik sensitif yang membuatnya menggila.
"Ken!!" lenguh Alyssa
"Yes babe." Ken mengangkat Alyssa dan mendudukkannya diatas meja tanpa melepas tautan mereka.
Keduanya sudah diselimuti gairah tinggi. Tapi tiba-tiba suara dering ponsel Ken mengganggu aktivitas mereka.
"Ken, ponselmu berdering." seru Alyssa
"Abaikan saja."
"Tapi Ken, bagaimana jika itu penting?"
"Tapi ini lebih penting Lys."
Alyssa berdecak dan mendorong keras tubuh Ken. "Lys!!" pekik Ken
"Angkat dulu!!" pinta Alyssa
Ken berdecak kesal dan merogoh ponselnya di saku celananya. Dia melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel dan melirik Alyssa sekilas.
"Dari siapa?" tanya Alyssa
"Kak Revan." Ken menjawab sambungan telepon sedikit menjauh dari Alyssa.
"Halo kak!!" Ken terdiam mendengar ucapan Revan di telepon dengan memandang Alyssa. "Oke." Ken mematikan sambungan telepon dan kembali ke meja makan.
"Lys, sepertinya aku harus pergi." seru Ken
"Apa aku boleh ikut?"
Ken terdiam sejenak. Dia harus pergi tapi dia tidak mungkin mengajak Alyssa.
"Jika tidak boleh, aku tidak mengijinkan mu pergi."
__ADS_1
Deg