Ken Dan Alyssa: Terpaksa Menikah

Ken Dan Alyssa: Terpaksa Menikah
Marah


__ADS_3

Di perjalanan, Ken terlihat berbeda. Dia seperti menahan amarah yang entah karena apa. Dia berubah setelah mendapatkan telepon dari seseorang. Dan meminta Alyssa untuk segera menghabiskan makanannya. Bahkan karena tidak sabaran, Ken meminta pelayan untuk membungkus semua makanan yang dipesan Alyssa dan segera mengajaknya pulang.


Alyssa tidak berani memulai pembicaraan. Dia lebih memilih aman. Tapi walaupun begitu, dia merasa takut. Apakah dia melakukan kesalahan hingga Ken seperti itu? Atau jangan-jangan Ken marah karena dia makan terlalu banyak?


Pikiran buruk Alyssa sudah menjalar kemana-mana. Dia hanya bisa berdoa Ken tidak memarahinya apapun kesalahannya. Entahlah, dia merasa sangat takut. Padahal dulu dia sudah biasa di bentak oleh Ken. Tapi sekarang ?


Ken masih tidak mau berbicara. Bahkan setelah sampai rumah, dia mengeluarkan semua belanjaannya dan meletakkannya di meja dapur. Setelah itu dia mengecek semua pintu dan jendela yang membuat Alyssa bingung. Ada apa sebenarnya? pikir Alyssa.


"Ke-ken!! Apa yang kau lakukan?" tanya Alyssa


Ken tidak menjawab. Setelah memastikan semua terkunci, Ken cuma mengatakan untuk tidak keluar dari rumah tanpa ijin darinya.


Dari situ Alyssa mulai gelisah. Dia yakin Ken sudah tahu jika dirinya sempat bertemu dengan Zean. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ken pasti salah paham saat ini. Maksudnya, dia hanya tidak ingin Ken khawatir.


"Ken!!"


"Jangan mengajakku bicara, Lys!! Aku tidak mau kau menangis karena ucapanku." Ucap Ken tanpa menatap Alyssa sedikitpun. Dia memilih pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri.


Alyssa menghela nafas. Sudah dipastikan jika Ken tahu dia bertemu dengan Zean. Dia juga tahu kenapa Ken mengabaikannya karena Ken tidak mau menyakitinya. Tapi mereka butuh bicara, jika hanya saling diam, bagaimana mereka bisa mencari jalan keluar untuk masalah mereka?


"Baiklah, jika kau ingin sendiri. Aku tidak akan mengganggumu, sampai kau merasa tenang." batin Alyssa


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Ken masih mendiamkan Alyssa. Bahkan saat dia kembali muntah, Ken memijat tengkuknya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tapi dari raut wajahnya terlihat jika dia khawatir pada Alyssa.


"Hoek.. Hoekk..Hoek..."


"Ini pasti karena kau makan makanan asam kemarin."

__ADS_1


Alyssa menatap Ken dan tersenyum. "Akhirnya kau mau bicara padaku juga."


Ken hanya melirik sekilas dan membantu Alyssa kembali ke kamar.


"Ken!!"


"Aku akan buatkan teh hangat dulu." sela Ken.


Alyssa hanya bisa menghela nafas panjang. Sampai kapan Ken akan seperti ini. Dia lebih suka Ken memarahinya dari pada mendiamkannya seperti ini. Tapi mungkin Ken takut jika ucapannya akan membuatnya sedih.


Tapi, bukankah ini kesempatan bagus? Mumpung Ken berada di dapur, lebih baik dia mencoba testpack yang dia beli kemarin.


"Ah.. Iya." Alyssa mengambil kantong plastik berisi testpack dan membawanya ke kamar mandi. Dia membaca petunjuknya terlebih dahulu sebelum memakainya.


"Semoga hasilnya sesuai apa yang aku inginkan." Alyssa memejamkan matanya, menunggu beberapa saat agar hasilnya terlihat. Dan.....


Deg


"Aku harus memberitahu Ken. Dia pasti sangat senang." Alyssa menghapus airmata nya dan bergegas menyusul Ken ke dapur.


"Ke....." langkah Alyssa terhenti saat mendengar Ken tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Wajah ken terlihat serius. Dan hal itu membuat Alyssa penasaran. Dia mengendap-endap dan menguping pembicaraan Ken dengan orang itu.


"Aku tidak mau menundanya lagi. Semakin cepat menyingkirkannya, itu semakin bagus." ucap Ken dengan seseorang di seberang sana


"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku akan menghabisinya."


Deg


Alyssa menghampiri Ken dan merebut ponsel pria itu. "Apa maksudmu, Ken? Siapa yang akan kau habisi?" teriak Alyssa

__ADS_1


"Alyssa, berikan ponselku!!"


"Tidak!! Aku tidak akan memberikannya sebelum kau mengatakan padaku, apa yang kau rencanakan? Apa kau berniat membunuh Zean?"


Ken menatap Alyssa tajam. Mendengar nama bajingan itu di sebut, membuatnya tersulut emosi. Dia teringat ucapan Revan yang mengatakan jika Alyssa bertemu dengan Zean. Beruntung, Revan datang tepat waktu hingga Zean tidak sempat membawa Alyssa. Bahkan Revan mengingatkan Ken untuk menjaga Alyssa karena pasti Zean tidak akan tinggal diam. Bisa saja saat mereka pergi ke supermarket, Zean mengikuti mereka.


Ya, sekarang Alyssa memang beruntung. Tapi entah nanti. Untuk itu, Ken ingin mengakhiri semuanya. Dia tidak perduli jika nanti dia masuk penjara. Asalkan Alyssa aman, itu sudah cukup untuknya.


"Ken!!"


"Ya, aku ingin membunuh Zean. Aku tidak ingin kau dalam bahaya, untuk itu aku harus menyingkirkannya."


"Dan kau akan menghabiskan sisa waktumu di penjara, begitu?" sela Alyssa


"Aku tidak perduli. Jika dia masih berkeliaran, aku tidak akan tenang. Kemarin kau mungkin bisa selamat, tapi kita tidak tahu nanti. Zean pria yang licik, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Jadi menurutmu, apa aku harus diam saja, Hah?" teriak Ken


"Ken, aku tahu kau mengkhawatirkan ku, tapi....


"Tapi apa? Kau mau bilang jika kau akan lebih berhati-hati?" sela Ken. Dia menghela nafas panjang dan kembali berkata, "Kau sudah membohongiku, Alyssa. Kau bertemu dengan Zean tapi kau tidak kau tidak memberitahuku. Aku sudah bilang berulang kali padamu untuk tidak berkeliaran sendirian, tapi kenapa kau malah seenaknya pergi tanpa minta ijin padaku, hah?" teriak Ken


"Aku tahu kau tidak mencintaiku, tapi hargailah aku sebagai suamimu. Apa itu sulit untukmu? Atau memang sejak awal, kau tidak menganggap ku penting, Hah?"


Alyssa terdiam menitikkan airmata. Dia menggenggam erat testpack ditangannya yang tadinya ingin dia berikan pada Ken. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Saat ini Ken sedang kacau karena dirinya. Hah... Kau benar-benar bodoh, alyssa.


"Ma-maaf." lirih Alyssa


Ken mengusap wajahnya kasar. Dia merebut ponsel dari tangan Alyssa dan pergi begitu saja.


Alyssa hanya bisa menangis. Untuk kesekian kalinya Ken membentaknya dan ini pertama kalinya dia menangis seperti ini. "Hah... Kenapa sekarang aku cengeng sekali? Hiks... Hiks.. Bukankah Ken sudah biasa membentak ku. Tapi kenapa rasanya sakit sekali?"

__ADS_1


__ADS_2