
Keesokan harinya, Alyssa terbangun saat sinar matahari masuk melalui celah jendela kamarnya. Dia memegang tengkuknya yang terasa sakit dan teringat jika semalam ada seseorang yang memukulnya.
Alyssa buru-buru bangun dan mendapati Ken yang terlelap di sampingnya. Dia mendekati menelisik wajah Ken dan tidak ada luka baru di wajah pria itu. Apa dia sedang bermimpi?
"Pagi sayang!!"
Alyssa tersentak dan memundurkan wajahnya. "Ke_ken, kau sudah bangun?" tanya Alyssa terbata
"Aku bangun saat kau bangun tadi." ucap Ken tanpa membuka matanya. "Ada apa, hm?" tanyanya
"Semalam kau...
"Apa?" sela Ken
"Kenapa semalam kau memukulku?"
Ken membuka sedikit matanya. Terlihat keningnya yang mengerut seolah bertanya apa maksudmu?
"Semalam kau bilang kepalamu pusing. Dan aku membawamu ke kamar di basecamp. Tapi tiba-tiba aku merasa sakit di bagian leher belakang. Dan......
Alyssa melihat sekeliling dan kembali berkata, "kenapa tiba-tiba kita berada disini?" tanyanya lagi
Ken tersenyum dan menarik Alyssa kedalam pelukannya. Dia kembali memejamkan matanya sambil berkata, "semalam kau mengeluh sakit di bagian leher dan tertidur di sampingku. Tapi setelah keadaanku membaik, aku membawamu pulang dengan taksi. Dan ya, sekarang kita ada di sini." seru Ken
Alyssa terdiam mencerna ucapan Ken. Apa benar seperti itu? Tapi dia merasa jika Ken membuatnya pingsan agar bisa ikut balapan. Tapi sepertinya dia salah. Ken terlihat baik-baik saja jadi mungkin memang benar apa yang Ken katakan.
"Ya sudah, aku siapkan air untukmu mandi." Alyssa bangun dan langsung masuk ke kamar mandi
Ken menghela nafas lega. Beruntung Alyssa tidak curiga. Dan sepertinya Alyssa percaya dengan apa yang dia katakan. Tapi meskipun begitu, dia harus berhati-hati agar Alyssa tidak bertemu dengan salah satu musuhnya. Terutama Zean.
Pria itu sangat licik. Jadi jika dia tahu mengenai alyssa, sudah pasti dia akan menggunakan Alyssa untuk membalasnya.
__ADS_1
"Airnya sudah siap." seru Alyssa
Ken tersenyum dan mengangguk. Dia beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi sementara Alyssa menyiapkan baju kerja Ken dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
"Hah... Semalam itu, hampir saja." gumam Ken.
Dia merasa lega karena bisa selamat dari maut dan Zean belum menyadari tentang Alyssa. Tapi dia tidak boleh lengah. Dia harus mencari cara untuk menjauhkan Alyssa dari Zean. Tapi bagaimana caranya?
"Alvin." gumam Ken.
Sepertinya dia harus meminta bantuan Alvin sekali lagi. Atau dia sewa bodyguard untuk menjaga Alyssa? Haish... Ini sangat membingungkan. Semua serba salah. Andai dia tidak melampiaskan kekesalannya dengan mencari masalah dengan Zean, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Tidak!! Walaupun dia tidak memancing perkelahian malam itu, Zean tetap akan mencari cara untuk menjatuhkannya karena mereka adalah rival abadi semenjak sekolah menengah.
"Sepertinya aku harus membahas hal ini dengan Kak Alvin. Tidak ada pilihan lain. Aku harus mengesampingkan egoku demi keselamatan Alyssa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu. Tapi kau bilang kalau lehermu sakit, bukan? Jadi untuk hari ini kau istirahat saja di rumah. Aku usahakan pulang secepatnya nanti."
"Janji?"
"Iya." Ken tersenyum dan mencium kening Alyssa. Dia melambaikan tangan dan masuk ke mobilnya. "Jika masih sakit, istirahat saja!! Tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah. Dan jangan lupa untuk meneleponku." seru Ken
"Iya-iya. Hati-hati di jalan." seru Alyssa. Dia masuk ke rumah setelah Ken sudah tidak terlihat. Tapi langkahnya terhenti saat melihat motor Ken yang terparkir di garasi. Bukankah mereka pulang dengan taksi, tapi kenapa motor Ken bisa ada di sana?
Alyssa merasa ada yang tidak beres. Tapi dia malas berfikir karena lehernya yang masih sakit. Jadi dia mengabaikannya dan kembali beristirahat di kamar.
Sementara itu, Ken yang sudah sampai di perusahaannya langsung menuju ruangannya. Dia memanggil Alvin melalui interkom untuk datang ke ruangannya.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Masuk!!" seru Ken
Alvin masuk dan langsung duduk didepan Ken. "Ada apa kau memanggilku?"
"Ini mengenai Alyssa."
Alvin mengerutkan keningnya. Ada apa sebenarnya? Pikir Alvin
"Begini kak, Kau tahu kan aku bergabung dengan geng motor. Dan pasti aku mempunyai banyak musuh. Dan semalam, aku memintamu untuk membawa Alyssa pulang bukan sekedar karena aku ingin balapan. Tapi semua itu menyangkut keselamatan Alyssa."
Deg
"A_apa maksudmu, Ken?" tanya Alvin
Ken menghela nafas panjang dan mulai menceritakan tentang Zean. Pria itu tidak akan berhenti sebelum bisa menjatuhkannya. Dan dia tidak ingin Alyssa menjadi incaran pria itu.
"Jadi menurut kakak, aku harus bagaimana? Apa aku harus membayar bodyguard untuk melindungi Alyssa?" tanya Ken bingung
Alvin juga tidak tahu harus bagaimana. Jika meminta Ken untuk melepaskan Alyssa pasti itu tidak mungkin. Apalagi hubungan mereka sudah mengalami kemajuan pesat. Jadi tidak ada cara lain selain menyewa bodyguard untuk melindungi Alyssa.
"Aku akan membantumu sebisaku. Tapi selama kau tidak ada di samping Alyssa, lebih baik kau membayar bodyguard atau mungkin ada seseorang yang kau percaya untuk menjaga Alyssa." seru Alvin
Ken terdiam sejenak. Seseorang yang dia percaya? Tapi itu tidak cukup. Paling tidak orang itu harus bisa berkelahi atau mempunyai skill ilmu beladiri. Tapi siapa?
Ken menatap Alvin sejenak. Sebenarnya Alvin masuk dalam kriteria pria yang bisa dia andalkan. Tapi mengingat pria itu yang mempunyai niat merebut Alyssa darinya, membuat Ken tidak percaya sepenuhnya pada Alvin. Bagaimana jika saat Alvin bersama Alyssa justru perasaan itu semakin besar? Dan bagaimana jika Alyssa tergoda pada Alvin dan menerima cinta pria itu? Bagaimanapun juga, Alvin adalah pria yang baik dan hangat. Tidak menutup kemungkinan Alyssa merasa nyaman bersama Alvin.
Dan selain Alvin, ada Revan, orang yang bisa dia andalkan. Tapi jika Revan menjaga Alyssa, bukankah itu akan memperburuk keadaan? Bagaimanapun juga Revan adalah ketua geng motor Devil rider. Jadi jika dia menjaga Alyssa sama saja mengundang musuh untuk datang mengincar Alyssa.
"Sial!!! Aku harus bagaimana?" batin Ken kesal
"
__ADS_1