
Sementara di kantin. Alyssa hanya mengaduk-aduk makanannya. Padahal dia tadi sangat lapar. Tapi mengingat perseteruan Ken dan Zean membuatnya khawatir. Apalagi Zean sudah berani menyulut emosi Ken dengan membakar basecamp milik geng motor Ken.
"Hah... Aku harus bagaimana untuk menenangkan Ken? Dipikirannya saat ini pasti hanya ada balas dendam."
"Tapi...." Alyssa terdiam teringat saat Zean menatapnya. Dia bergidik karena merasa jika pria itu seolah ingin memakannya. Atau jangan-jangan pria itu mempunyai niat buruk padanya? Hah semoga saja tidak. Karena jika hal itu terjadi, Ken akan sangat khawatir padanya. Dia tidak mau menjadi beban Ken.
Brakh
Alyssa terjingkat saat seseorang menggebrak mejanya. Dia mendongak menatap pria paruh baya yang menatap tajam dirinya.
"Paman Ray!!" lirihnya
Raymond menarik kursi dan duduk didepan Alyssa. "Aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan. Tapi aku tidak akan membiarkan kalian menyeret ku ke penjara. Ini sebagai peringatan pertama dan terakhir. Jangan macam-macam denganku, atau aku akan melakukan hal yang tidak kalian duga. Ingat itu!!" Raymond beranjak meninggalkan Alyssa yang masih syok di mejanya. Dan hal itu disaksikan oleh banyak karyawan yang juga makan di sana.
Walaupun pembicaraan mereka tidak begitu jelas, tapi mereka yakin jika Raymond memberi peringatan pada Alyssa.
"Astaga!!! Apalagi sekarang?" keluh Alyssa. Belum selesai masalah Zean, sekarang Raymond juga ingin menyerang Ken. Ternyata apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Drap
Drap
Drap
Drap
Brakh
"Apa kau tidak punya sopan santun, hah?" teriak Raymond
Ken tidak mengindahkannya. Dia mendekati Raymond dan mencengkeram kerah kemeja Raymond. "Beraninya kau mengancam Alyssa!! Apa kau mempunyai banyak nyawa, Hah?" bentak Ken
"A_apa maksudmu, Ken?" tanya Raymond terbata
__ADS_1
"Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Alyssa, hah?" teriak Ken. Walaupun dia tidak ada di sana, tapi dia tahu dengan memeriksa cctv di kantin yang tersambung ke laptopnya. Saat itu dia mencari keberadaan Alyssa melalui cctv yang terpasang di perusahaan. Dan dia melihat Alyssa yang terlihat lesu duduk di kantin. Tapi tiba-tiba Raymond datang dan terlihat marah pada Alyssa. Untuk itu dia memperbesar layar dan juga volumenya. Walaupun samar, tapi dia tahu jika Raymond mengancam Alyssa.
"Sepertinya aku sudah berulangkali mengatakan pada paman jika aku tidak selembut Kak Rain. Apa kau menganggap semua itu hanya lelucon?"
Raymond terlihat sangat ketakutan. Ini pertama kalinya dia melihat Ken seperti itu. Dan dia tidak menyangka jika Ken begitu mengerikan saat marah.
"Ingat baik-baik ucapanku, paman. Jika sampai kau menyentuh Alyssa seujung rambut pun, aku akan mematahkan tangan paman. Apa paman mengerti?" Ken menghempaskan tubuh Raymond hingga terduduk di kursinya kembali. Dan kemudian keluar dari sana.
Raymond melonggarkan dasinya. Dadanya kembang kempis menahan amarahnya. Beraninya Ken mengancamnya. Jika begini terus, dia takut Ken akan menemukan bukti lainnya. Bimo juga belum memberi kabar padanya.
Sial!! Jika begini terus dia bisa saja berbuat nekad dengan menghabisi Ken dengan cara yang sama saat dia menghabisi Rain.
Ya, kecelakaan yang menimpa Rain adalah perbuatan Raymond. Dia membayar seseorang untuk menyabotase mobil Rain saat berada di sekolahan Ken. Dan dia juga membayar polisi untuk memalsukan hasil penyelidikan. Dan rencananya berhasil. Rain dinyatakan meninggal setelah dua tahun koma.
Tapi yang membuat dia kesal. Ternyata Rain sudah menyiapkan wasiat untuk Ken dan Alyssa. Dan hal itu membuatnya berfikir keras lagi untuk menyingkirkan keduanya karena mereka merupakan ancaman besar untuknya. Apalagi mereka mencari bukti untuk menyeretnya ke penjara
"Kenand Alvaro. Tunggu pembalasanku." geram Raymond
__ADS_1