Ken Dan Alyssa: Terpaksa Menikah

Ken Dan Alyssa: Terpaksa Menikah
Salinan Laporan


__ADS_3

Seperti biasa, malam hari Raymond menghabiskan waktunya di bar untuk bersenang-senang dengan para wanita panggilan. Dia tidak mempunyai keluarga karena sudah bercerai saat dia miskin. Dan sejak itu, dia tahu jika Rain mempunyai sebuah perusahaan dan dia memohon agar Rain memberinya posisi di perusahaannya.


Tapi lama bekerja dengan Rain tidak membuatnya kaya. Dia selalu suruh-suruh ini itu yang membuatnya muak. Untuk itu dia menghabisi Rain dan ingin menguasai hartanya agar tidak ada lagi yang merendahkannya hanya karena dia miskin.


Tapi kini muncul penghalang baru. Dan hal itu membuatnya meradang karena dia harus memutar otak untuk menyingkirkan penghalang itu agar tujuannya tercapai.


Dan kejadian tadi siang membuatnya marah dan kesal. Dan dia selalu melampiaskan kekesalannya itu dengan pergi ke bar bersenang-senang dengan para wanita. Seperti saat ini, dia sudah diapit dua wanita seksi.


"Aku merindukanmu, tuan. Bagaimana jika kita bersenang-senang dikamar? Aku akan memuaskan mu seperti biasanya." seru si wanita


"Aku ingin yang menantang. Bagaimana jika kau memuaskan ku disini?" tantang Raymond.


"Tapi tuan....


"Aku akan membayar mu lebih sayang. Lagipula aku sedang malas ke kamar." ujar Raymond. Inilah hal gila yang sering Raymond lakukan untuk menghibur dirinya. Dia selalu menginginkan hal yang mustahil. Tapi demi uang, banyak yang menerima tantangan Raymond dan melakukan apa yang pria itu katakan.


Seperti saat ini, si wanita tergiur dengan uang yang dijanjikan Raymond. Tapi dia terlihat ragu untuk melakukannya. Dia melihat kesana kemari, banyak pelanggan yang juga minum ditemani wanita yang sama seperti dirinya. Tapi tidak ada yang segila Raymond.


Sedangkan wanita lain yang juga duduk sebelah Raymond memilih untuk pergi karena dia tidak ingin mengganggu kesenangan mereka. Tapi sebelum itu, dia terlihat menyembunyikan sesuatu di bawah kursi tempat ia duduk.


"Cepat sayang !! Aku sudah tidak sabar." seru Raymond


Wanita itu membuka resleting celana Raymond dan mengeluarkan benda mungil yang bersembunyi di sana. Dia menundukkan kepalanya dan entah apa yang dia lakukan. Tapi hal itu membuat Raymond mengerang. Dia menyandarkan punggungnya dengan mata yang terpejam. Nafasnya terdengar berat dan beberapa saat kemudian dia melenguh panjang.


"Wow.. Aku menyukainya." ujar Raymond

__ADS_1


Si wanita menegakkan kepala dan mengusap bibirnya. Dia menatap para pelanggan yang juga menatapnya. Malu? Untuk apa? Bukankah ini pekerjaan? Tapi mereka tidak menyadari jika ada orang yang dari tadi memperhatikan mereka. Dia tersenyum sinis dan mendekati Raymond.


"Wah... Sepertinya kau menikmati hidupmu. Bahkan kau sangat tidak tahu malu melakukan hal menjijikan itu ditempat terbuka seperti ini. Ah... Maaf, dari dulu kau memang tidak punya rasa malu. Iyakan, tuan Raymond."


Raymond hanya terdiam. Dia meminta wanita itu untuk pergi setelah memberinya uang. "Mau apalagi kau menemui ku?" tanya Raymond


"Apa yang kau katakan tuan Raymond? Ini adalah tempat umum. Siapapun boleh datang kemari. Dan kebetulan saja aku melihatmu. Jadi ini hanya kebetulan saja."


"Kau tidak bisa membohongiku, Andreas. Aku yakin kau mengikuti ku, kan? Ada apa lagi? Apa masalah uang? Kau harus ingat kita sudah tidak ada urusan apapun lagi." seru Raymond


Pria yang bernama Andreas hanya tersenyum sinis. Dia adalah salah satu polisi yang mendapat uang suap dari Raymond untuk memalsukan hasil penyelidikan kecelakaan Rain. Tapi karena kesalahannya sendiri, Andreas di pecat secara tidak terhormat oleh atasannya. Dan mendapat cacian dari masyarakat dan juga keluarganya.


Karena hal itu juga dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Untuk itu dia mengancam Raymond untuk mengirimkan uang yang dia minta atau jika tidak, dia akan memberitahu kepolisan dan juga kelurga Rain jika Raymond menyuapnya untuk memalsukan hasil penyelidikan kecelakaan Rain Alvaro.


"Tidak ada urusan ya?" Andreas tersenyum sinis. Dia duduk didepan Raymond dan menenggak minuman milik Raymond.


BRAKH


"Apa yang kau katakan, Hah?" teriak Raymond. Dia menggebrak meja hingga semua orang menatap kearah mereka. Dia begitu murka karena Andreas selalu mengancamnya.


"Apa yang kau lakukan, Tuan? Lihat!!! Kita jadi pusat perhatian sekarang." ucap Andreas santai


Raymond menatap pelanggan bar yang melihat kearahnya. Dia memejamkan mata sejenak dan mencoba mengontrol emosinya.


"Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku, Andreas. Aku sudah membayar sesuai permintaan kalian. Bahkan teman-temanmu juga menerimanya dan mereka diam saja."

__ADS_1


"Itu mereka tuan. Bukan diriku. Karena dipecat, aku tidak bisa mencari pekerjaan dimanapun. Bahkan keluargaku enggan menerimaku. Jadi aku tidak punya pilihan."


"Itu masalahmu, bukan masalahku. Urusan kita sudah selesai dan kau tidak bisa lagi mengancam ku. Karena aku sudah melenyapkan barang bukti dan juga laporan itu." seru Raymond


"Apa kau yakin sudah semuanya, Tuan?" tanya Andreas


"Apa maksudmu?"


"Oh.. Aku lupa memberitahumu ya. Setelah aku dipecat, aku datang ke perusahaanmu. Aku membawa salinan laporan hasil penyelidikan kecelakaan itu. Tapi karena gugup aku meninggalkannya di ruangan mu. Dan....


Ya kau tahu sendiri kan."


Deg


Raymond bangkit dan mencengkeram kerah baju Andreas dengan murka. "Jangan mencoba menipuku, Andreas. Tidak ada yang bilang padaku mengenai salinan itu. Bagaimana mungkin kau bisa memilikinya?"


"Memang benar. Tapi kau harus ingat jika aku yang menyerahkan laporan yang asli padamu. Dan sebelum itu, aku sudah menyalinnya terlebih dahulu."


Deg


Tubuh Raymond terhuyung, terduduk kembali di kursinya. Selama ini dia tidak tahu akan hal itu. Dia berfikir jika sudah melenyapkan barang bukti, maka dia aman. Tapi ternyata dia kecolongan. Dan Andreas baru mengatakannya sekarang.


"Lebih baik kau berhenti bermain wanita dan cari laporan itu sebelum orang lain menemukannya. Ah.. Tapi itu sudah sangat lama sekali. Aku ragu laporan itu masih ada. Atau mungkin sudah ada yang menemukannya?" Andreas tersenyum sinis dan pergi dari sana. Rasanya dia sangat puas melakukannya. Itu bisa menjadi pelajaran untuk Raymond karena sudah tidak mau lagi memberinya uang.


Sedangkan Raymond masih terlihat mematung di sana. Dia mengingat kembali kapan Andreas ke perusahaan. Tapi karena takut jika apa yang Andreas katakan itu benar, Raymond bergegas pergi ke perusahaan malam itu juga untuk mencari salinan laporan yang ditinggalkan Andreas.

__ADS_1


Selepas kepergian Raymond. Seorang pria mendekat dan duduk di tempat dimana Raymond duduk. Dia meraih sesuatu di bawah kursi dan menyeringai.


__ADS_2