
Malam Kian larut. Dimana semua orang mulai terlelap dalam tidurnya dan terbuai dalam mimpi indah mereka. Tapi ada satu orang yang belum memejamkan matanya sama sekali dan dia adalah Ken.
Ken menatap Alyssa yang terlelap disampingnya. Dia tersenyum dan mengusap pelan wajah Alyssa. "Good night, sayang." lirihnya.
Perlahan dia bangun dan turun dari tempat tidur. Memikirkan tentang keselamatan Alyssa membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Walaupun belum terjadi apa-apa untuk saat ini, tapi dia sangat takut orang yang dia cintai akan pergi meninggalkannya. Dan semua itu karena dirinya.
"Hah.." Ken menghela nafas panjang. Dia melihat seisi kamarnya yang kini tersusun rapi. Dia yakin yang membersihkan kamarnya adalah Alyssa.
Tapi bukannya marah, dia justru tersenyum. Dia yang awalnya melarang Alyssa menyentuh barang-barangnya, kini bisa dengan mudah membiarkan wanita itu menyentuhnya.
"Ternyata begini rasanya mempunyai seorang istri. Selain menyiapkan kebutuhan kita, melayani kita, istri juga berperan penting untuk menjaga rumah kita. Membuatnya terlihat indah dan nyaman. Dan tugas kita sebagai seorang suami adalah melindunginya, kan?" batin Ken
Ken menatap buku-bukunya yang tadinya berserakan kini sudah tersusun rapi di tempatnya. Dia menyentuh satu persatu buku tersebut dan menemukan buku kecil tempat dia mencurahkan isi hatinya dulu. "Tck... Konyol." kekehnya dalam hati
"Kau belum tidur?"
Ken menoleh dan mendapati Alyssa yang berdiri tidak jauh di belakangnya. "Apa aku mengganggumu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alyssa menyerahkan secangkir coklat hangat untuk Ken dan duduk di samping pria itu. Mereka saat ini berada diruang santai, menonton televisi karena tidak bisa tidur.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Alyssa.
"Banyak hal yang mengganggu pikiranku." Ken menatap Alyssa dan tersenyum. "terutama kau." lanjutnya.
"A_aku?"
Ken mengangguk dan menyesap coklat panas miliknya. "Aku tahu ini sudah sangat terlambat, tapi aku ingin minta maaf padamu. Aku akui aku egois dan tidak memikirkan perasaanmu. Yang ada di pikiranku hanyalah aku tidak akan membiarkan kau pergi dari sini." seru Ken
"Aneh bukan? Padahal awalnya aku ingin menceraikan mu, tapi aku justru mengingkari ucapanku sendiri dan memaksamu melakukan hal itu. Aku yakin saat ini Kau pasti membenciku." lanjut Ken
__ADS_1
"Membencimu ya?" Alyssa terdiam sejenak dan menyesap coklat hangatnya. "Sebenarnya saat kau memaksaku, aku memang sangat membencimu. Tapi, apa itu masih berguna sekarang?" Alyssa mengalihkan matanya melihat acara yang disiarkan di televisi. Di tertawa pelan yang membuat Ken bingung karena tidak ada yang lucu di acara tersebut
"Kenapa?" tanya Ken
"Tidak!! Aku hanya merasa aneh saja. Kenapa baru sekarang kau menanyakan tentang perasaanku?" tanya Alyssa
Ken tidak bisa menjawab. Dari awal dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahkan dia tidak perduli dengan perasaan orang lain. Jadi wajar jika Alyssa membencinya.
"Aku menerima apapun keputusanmu." lirih Ken
Alyssa tersenyum dan memeluk lengan Ken. "Mungkin untuk saat ini aku belum bisa mencintaimu. Tapi, aku akan terus berusaha menjadi istri yang baik, yang akan selalu mendukungmu dan tetap di sisimu apapun yang terjadi."
Deg
Ken memegang bahu Alyssa dan menatap kedua mata wanita itu, "Ka_kau bilang apa?"
"Aku rasa telingamu masih berfungsi dengan normal." Alyssa merajuk dan menegakkan tubuhnya kembali. Dia menyesap cokelat panasnya dengan wajah yang cemberut.
"Lys!!" Panggil Ken
"Lyssa!!!"
"Apa?"
"Coba ulangi sekali lagi!!"
"Aku tidak mau."
"Lys!!!"
Alyssa menoleh menatap Ken. "Pasang telingamu baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi." Alyssa menghela nafas panjang dan berkata, "Aku akan selalu mendukungmu dan tetap di sampingmu apapun yang terjadi."
__ADS_1
Hug
Alyssa terkejut saat tiba-tiba Ken memeluknya begitu erat. "Ken!! Aku tidak bisa bernafas." seru Alyssa
"Ma_maaf." Ken melepas pelukannya dan membingkai kedua pipi Alyssa. "terimakasih. Terimakasih karena kau mau berada di sisiku. Aku berjanji akan membahagiakanmu." seru Ken yang membuat Alyssa tersenyum.
Netra keduanya saling bertemu. Perlahan Ken mendekatkan wajahnya yang membuat Alyssa menjadi gugup. Tapi dia tidak menolaknya. Dan saat bibir keduanya bertemu, Alyssa mencoba mengimbangi permainan bibir Ken.
Perlahan tapi pasti, Ken mendorong tubuh Alyssa berbaring di karpet bulu tanpa melepas tautan mereka.
Terdengar suara decapan keras dari bibir keduanya. Dan Ken semakin berani melepas satu persatu kancing piyama Alyssa hingga terlihat penutup gunung kembarnya.
"Ken!!" lenguh Alyssa saat bibir Ken menjelajah di sekitar lehernya dan turun sampai di atas bukit miliknya. "Ah..."
Ken memainkan pucuk bukit Alyssa sambil menatap kedua netra Alyssa yang terlihat sayu, "apa boleh aku melakukannya lagi?" Ken tidak ingin membuat Alyssa menangis lagi. Dia akan melakukannya jika Alyssa mengijinkannya. Tapi jika tidak, dia tidak akan memaksanya.
"Lys!!" panggil Ken dengan suara parau
"Aku istrimu. Dan aku milikmu, Ken." lirih Alyssa
Ken tersenyum dan kembali mencium Alyssa. Kegiatan malam itu mereka lakukan diruang santai yang terbuka. Televisi yang menyala menjadi saksi penyatuan keduanya.
Suara erangan yang keluar dari bibir keduanya terdengar begitu nyaring di ruangan tersebut. Hingga entah berapa lama mereka melakukannya, mereka mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya.
"Terimakasih Lys. Aku mencintaimu." seru Ken
Dengan peluh yang menetes dan nafas yang memburu, Alyssa menatap Ken yang masih berada diatas tubuhnya. Dia yang salah dengar atau Ken tidak sadar dengan apa yang baru saja dia katakan? Apa Ken mengakui jika dia mencintainya?
"Aku lelah." seru Alyssa
Ken tersenyum dan melepas penyatuan mereka. Dia menarik selimut dan memeluk Alyssa. "Tidurlah!! Masih ada waktu sebelum matahari terbit." seru Ken
__ADS_1
Alyssa tersenyum dan membalas pelukan Ken. Dan tidak menunggu waktu yang lama, Alyssa sudah terlelap dalam tidur.
Ken tersenyum dan mengecup kening Alyssa. "Ya, aku mengakuinya. Aku mencintaimu, Alyssa." Ken memejamkan mata dan tidur dengan memeluk Alyssa dengan tubuh yang masih polos tertutup selimut saja.