Ken Dan Alyssa: Terpaksa Menikah

Ken Dan Alyssa: Terpaksa Menikah
Mabuk


__ADS_3

Karena memikirkan cara untuk menyingkirkan Zean, membuat Ken mengabaikan pekerjaannya. Dan hal itu membuat Alvin mau tidak mau menghandle perusahaan lagi dan lagi.


Dia mencoba memaklumi , karena Ken masih tahap belajar. Apalagi masalah Ken sangat rumit dan itu menyangkut keselamatan orang yang dia cintai. Jadi wajar jika Ken memilih menjaga Alyssa daripada mengurus perusahaannya.


"Lagi-lagi aku harus sibuk karena ulah Ken. Jika begini terus, kapan aku bisa berkencan?" gerutu Alvin


"Hah... Memangnya kau mau berkencan dengan siapa Al? Pacar saja kau tidak punya. Nasib jomblo." Alvin menghela nafas panjang dan mengerjakan pekerjaannya. Malam ini pekerjaannya harus segera selesai karena setelahnya dia ada meeting dengan klien di Bar.


Sebenarnya dia tidak suka meeting di bar. Selain berisik, bau alkohol dimana-mana dan banyak wanita telanjang di sana. Sebenarnya tidak benar-benar telanjang. tapi cara berpakaian mereka membuat mata sakit. Itu jika Alvin. Berbeda jika yang menatap mereka adalah pria mata keranjang.


"Bim, malam ini ikut aku meeting dengan klien ya." ajak Alvin


"Baik Tuan."


"Kau siapkan berkas-berkasnya, nanti jam 6 malam kita berangkat ke Bar."


"A_apa? Bar?"


"Kenapa?"


"Ah... Tidak. Setahu saya, anda tidak suka meeting di bar." seru Bimo


"Ya, itu memang benar. Aku tidak suka dengan wanita telanjang di sana." gerutunya. "Tapi lain ceritanya jika wanita itu adalah istriku kelak. Aku tidak akan membiarkannya memakai baju seharian." kekehnya dalam hati


Alvin dan Bimo menyelesaikan pekerjaan mereka sampai tidak terasa sudah jam 6 petang. Mereka membereskan pekerjaan mereka dan meluncur ke bar.


Tidak berapa lama, mereka sampai di bar. Untuk Bimo, dia sudah biasa dengan tempat itu karena dia selalu menemani Raymond bersenang-senang dengan wanita penghibur di sana. Sedangkan Alvin tidak biasa dengan tempat terkutuk itu. Baru masuk saja gendang telinganya rasanya mau pecah karena dentuman musik yang sangat keras. Ditambah lagi bau alkohol sangat menyengat. Banyak orang-orang yang menggerakkan tubuhnya dengan sensual mengikuti alunan musik tersebut.


"Aku benci tempat ini." gerutu Alvin dalam hati


Alvin dan Bimo digiring bodyguard tuan Aryo ke ruang VIP, dimana tuan Aryo sudah menunggu mereka di sana. Alvin segera memulai meeting mereka. Dia ingin segera keluar dari neraka itu. Beruntung klien kali ini memilih ruang VIP. Jadi meeting mereka tidak terganggu kebisingan dari luar.

__ADS_1


"Saya setuju dan saya akan menandatangani kerjasama ini." seru tuan Aryo


"Terima kasih tuan." Alvin senang karena usahanya tidak sia-sia. Walaupun dia harus masuk ke dunia para orang gila.


"Terimakasih tuan Aryo. Kami pamit undur diri." seru Alvin


"Kenapa terburu-buru tuan? Kita bisa bersenang-senang terlebih dahulu." Tuan Aryo menjentikkan jarinya dan keluarlah ulat-ulat bulu penghuni bar.


Alvin bergidik ngeri dan menolak tawaran Tuan Aryo dengan berbagai alasan. Hingga akhir mereka bisa pergi dari sana.


"Huh.. Akhirnya selesai juga." seru Alvin.


"Iya tuan. Setelah ini, kita mau kemana?" tanya Bimo


"Ke toilet."


"Hah?"


Alvin menyerahkan berkas pada Bimo dan pergi ke toilet. Dia sudah menimbunnya dari tadi dan sekarang sudah tidak tertahankan. "Ah... Leganya." Alvin menekan dual flush dan mencuci tangannya di wastafel.


"Menjijikkan." umpatnya. Dia tidak ingin menghiraukannya dan memilih untuk pergi. Tapi saat si wanita menyebut nama Zean, langkah Alvin kembali terhenti. Dia penasaran apakah Zean yang di maksud adalah Zean musuh Ken atau bukan. Untuk itu, Alvin membuka perlahan pintu toilet dan betapa terkejutnya Alvin saat tahu jika kedua makhluk tak berakhlak itu adalah Zean dan Grace.


"Wow.. Amazing. Jika Ken tahu, pasti dia akan semakin jijik pada Grace." ucapnya dalam hati.


Alvin tidak mau mengganggu kesenangan mereka tapi dalam pikirannya muncul ide gila. Dia mengeluarkan ponselnya dan merekam kegiatan panas keduanya. Erangan demi erangan terdengar sangat jelas. Bahkan keduanya saling memanggil satu sama lain.


"Gila!! Jika aku menjualnya, aku bisa kaya. Apalagi pemeran utamanya adalah anak dari orang terpandang." batin Alvin.


Tapi nasib sial menimpa Alvin. Saat tengah asyik merekam kegiatan panas Zean dan Grace, tiba-tiba ponselnya berbunyi yang membuat si empunya tersentak kaget. Begitu juga dengan kedua pelaku adegan panas di toilet. Mereka menghentikan kegiatan mereka dan membenarkan baju mereka.


"Siapa itu?" teriak Zean

__ADS_1


"Gawat!!" Alvin buru-buru kabur.


Zean mengejar orang yang sudah berani mengintipnya, tapi sayang nya dia kehilangan jejak. Akhirnya dia menghubungi anak buahnya untuk menangkap orang yang terlihat terburu-buru keluar dari bar.


"Bim, ayo kita segera keluar dari tempat ini!!" ajak Alvin dengan tergesa-gesa


"Ada apa tuan? Kenapa anda terburu-buru ? Apa ada yang mengejar anda?"


"Ini sangat gawat Bim, kita tidak......" ucapan Alvin terhenti saat tidak sengaja dia mendengar pembicaraan orang-orang yang bicara di belakangnya yang tengah mencari orang yang pergi dengan terburu-buru.


"Cepat cari orang mencurigakan yang keluar dari bar dengan terburu-buru!!"


"Baik!!"


Alvin melirik sekilas dan kembali menatap Bimo, "Bim!!"


...****************...


"Ah.... Aku masih mau minum Bim, ayo kita kembali kedalam."


"Anda sudah mabuk berat tuan. Jadi kita pulang saja."


"Aku tidak mau. Aku mau minum." Alvin memberontak saat Bimo mencoba membawanya keluar. Tapi dengan sigap, Bimo menarik Alvin dan membawanya ke parkiran.


"Jika tidak kuat minum, kenapa mengajakku? Dasar menyebalkan." gerutu Bimo. Dia sungguh sial karena harus menemani Alvin minum. Baru satu teguk saja, Alvin sudah meracau tidak jelas. Bahkan hampir saja dia membuat keributan didalam sana. Untung saja Bimo bisa melerainya. Jika tidak Alvin pasti sudah babak belur. Untuk itu Bimo mengajak Alvin pulang.


"Berjalan yang benar tuan!! Kau sangat berat jika seperti itu." gerutu Bimo


"Aku masih ingin minum Bim."


"Nanti kita akan minum lagi di apartemen anda."

__ADS_1


"Benarkah? Wah.. Kau sangat baik Bim."


Bimo memasukan Alvin kedalam mobil. Dia menghela nafas panjang dan mengelap peluhnya. "Dasar." umpatnya. Dia mengitari mobil dan masuk kebelakang kemudi. "Lain kali aku tidak mau jika ikut meeting di bar dengannya." gerutu Bimo dalam hati


__ADS_2