
Ken menimang-nimang benda kecil yang ada ditangannya. Benda itu menyimpan sesuatu yang penting. Setidaknya itu yang dikatakan Revan.
Ya, siang tadi setelah memeriksa cctv di ruangannya, Revan menghubungi Ken dan mengatakan jika dia mempunyai informasi penting.
Mendengar hal itu, Ken langsung meluncur ke basecamp, sedangkan Alyssa tetap tinggal di kantor guna membersihkan ruangan Ken yang berantakan.
Dan sesampainya di basecamp, Revan memberikan flashdisk padanya. Dia juga mengatakan jika di flashdisk tersebut menyimpan informasi penting yang dia dapatkan.
Ken sangat penasaran. Dia tidak sabar untuk melihatnya. Untuk itu dia segera pamit kembali kekantor. Tapi sesampainya di sana, Pekerjaan menumpuk sudah menunggunya.
Tidak ada pilihan lain selain mengerjakan pekerjaannya terlebih dahulu, baru dia akan melihat isi dari flashdisk tersebut nanti di rumah.
"Ada apa Ken?" tanya Alyssa
"Kak Revan memberiku ini." Ken menunjukkan flashdisk tersebut pada Alyssa.
"Flashdisk?"
"Iya. Katanya didalam flashdisk ini menyimpan informasi penting.
"Ya sudah, tunggu apalagi? Cepat buka!!"
Ken mengangguk dan mulai memasukan flashdisk tersebut di laptopnya. Dia mencari file yang dimaksud Revan dan mengkliknya.
__ADS_1
Muncul video berdurasi cukup panjang. Dan saat Ken memutar video tersebut, terlihat ruangan yang seperti bar. Dan Ken bisa melihat jika Raymond tengah bersenang-senang di sana. Bahkan pria itu tidak segan berbicara vulgar.
Tapi tiba-tiba kamera yang merekam Raymond, bergerak dan berhenti entah dimana. Dan tidak terlihat apapun kecuali gelap. Tapi Ken masih bisa mendengar pembicaraan Raymond dengan seseorang yang dipanggil Andreas.
Raymond terdengar marah pada Andreas. Hingga percakapan mereka membuat Ken tertegun begitu juga dengan Alyssa.
"Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku, Andreas. Aku sudah membayar sesuai permintaan kalian. Bahkan teman-temanmu juga menerimanya dan mereka diam saja."
"Itu masalahmu, bukan masalahku. Urusan kita sudah selesai dan kau tidak bisa lagi mengancam ku. Karena aku sudah melenyapkan barang bukti dan juga laporan itu"
"Apa kau yakin sudah semuanya, Tuan?"
Ken mengepalkan tangannya. Matanya memerah, rahangnya mengeras. Kini semua semakin jelas. Jika pelakunya mengarah pada Raymond.
"Kau mau kemana, Ken?"
"Aku harus membuat perhitungan dengan bajingan itu, Lys."
"Tidak Ken!! Aku tidak mengijinkannya."
"Apa yang kau katakan, Hah?" bentak Ken
"Apa yang mereka katakan itu sudah jelas membuktikan jika paman yang sudah mencelakai kak Rain. Dan sekarang kau tidak mengizinkanku untuk membuat perhitungan dengannya? aku ingin membalasnya Lys, aku tidak terima." Teriak Ken.
__ADS_1
Alyssa tersenyum dengan air mata yang menetes di pipinya. Dia mengusap bahu Ken dan menariknya ke dalam pelukannya. "aku tahu Ken, aku tahu perasaanmu. Aku juga tidak terima dengan apa yang Paman Ray perbuat pada Kak Rain. Tapi tidak seharusnya kita membalasnya dengan tangan kita sendiri. Kita harus melaporkannya ke polisi agar oknum-oknum yang terlibat juga menerima akibatnya."
Ken memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Dia membalas pelukan Alyssa dan berulang kali minta maaf.
"Maafkan aku. Maafkan aku, Alyssa. Maaf." Lirih Ken
"Aku mengerti Ken. Aku tidak marah padamu, tapi kau harus bisa mengontrol emosimu. Aku juga marah mengetahui semua ini, tapi kita tidak bisa main hakim sendiri. Kita harus mengusutnya sampai tuntas dan biarkan hukum yang membalas mereka."
Ken mengangguk pelan. Dia mengurai pelukannya dan menghapus air mata Alyssa. "Terima kasih sudah menenangkan ku." seru Ken yang dijawab anggukan oleh Alyssa.
Ken menghubungi Alvin dan memintanya untuk datang ke rumahnya. Dia menceritakan tentang bukti yang dia dapat dan memperlihatkannya pada Alvin. Tentu saja Alvin sangat terkejut. Dia juga tidak kalah emosi mengetahui hal itu. Tapi dia masih bisa mengontrolnya.
Dia bertanya pada Ken, apa yang akan Ken lakukan dan dia siap membantu untuk mengusut kasus ini.
Ken mempunyai rencana, untuk itu dia meminta Alvin untuk datang.
"Apa rencanamu? Aku pasti akan melakukannya. Aku juga tidak menyangka jika tuan Raymond. tega melakukan ini pada Rain. Padahal Rain sudah baik padanya. Rain memberinya pekerjaan dan menempatkannya diposisi yang layak agar tidak ada yang merendahkannya tapi apa balasannya?" sesal Alvin
"Dari dulu Paman memang seperti itu. Saat orang tua kami bercerai, Dia seolah tidak peduli. Apalagi saat mommy meninggal. Bahkan dia tidak mau mengulurkan tangannya pada kami. Karena itu kak Rain berusaha keras untuk mencukupi kehidupan kami. Dia selalu berusaha untuk membuat aku nyaman dan tidak kekurangan apapun. Tapi setelah kami dewasa dan kak Rain mempunyai perusahaan sendiri, dengan mudahnya paman datang dan meminta pekerjaan pada Kak Rain. Aku sangat ingin mengatakan pada kak Rain jika aku tidak setuju. Tapi kak Rain berhati malaikat. Walaupun berkali-kali dia disakiti, dia masih mau mengulurkan tangannya membantu saudaranya yang mengalami kesulitan."
"Tapi aku berbeda. Aku bukan kak Rain. Aku akan membalas perbuatan Paman dengan hukuman yang setimpal, jadi aku ingin kau melakukan sesuatu untukku, Kak." lanjut Ken
"Katakan saja, aku pasti akan membantumu."
__ADS_1
"Terima kasih Kak Alvin."