
"Bagaimana Bim, apa kau sudah menemukan siapa yang mengirim paket itu?" tanya Raymond
"Aku sudah memeriksa cctv di lorong apartemen anda, tuan. Dan ada orang yang mencurigakan meletakkan paket itu didepan pintu apartemen anda. Tapi tidak terlihat jelas wajah orang itu." seru Bimo
Raymond mengusap wajahnya kasar. Dia sudah sangat frustasi dengan tidak ditemukannya salinan laporan dari polisi. Tapi tiba-tiba salinan itu muncul dengan sendirinya. Ini aneh bukan? Dia sempat mengira jika itu perbuatan Andreas. Tapi pria itu mengatakan hal yang membuatnya yakin jika itu perbuatan orang lain.
"Siapa? Siapa yang mencoba meneror ku seperti ini?" geram Raymond
"Apa jangan-jangan ini perbuatan Tuan Ken?"
"Ken?"
"Iya Tuan.
Raymond terdiam. Rasanya itu juga tidak mungkin. Jika Ken tahu, pasti dia sudah mendatanginya dan menghajarnya habis-habisan. Tapi tidak ada salahnya mencari tahu.
"Kita temui Ken sekarang!!"
"Baik Tuan."
Raymond keluar dari ruangannya untuk mencari Ken. Dia harus memastikan apakah Ken, orang yang menerornya atau bukan. Hah... Rasanya semua semakin rumit. Andai Andreas tidak pernah mengkopi laporan hasil penyelidikan itu, mungkin semua tidak akan seperti ini. Dia bisa menjalankan rencananya dan menguasai harta Rain dengan cepat.
Tok Tok Tok
"Masuk!!"
Bimo membuka pintu dan mempersilahkan Raymond untuk masuk terlebih dahulu.
"Sepertinya kau sangat sibuk, keponakanku?"
__ADS_1
Ken mendongak dan menatap sinis Raymond. Tangannya mengepal erat dibawah meja. Dia mencoba untuk tidak menghajar pria itu.
"Ada apa paman kemari?" tanya Ken
"Tidak ada, aku hanya ingin berkunjung saja." Raymond memperhatikan Ken dan Alyssa bergantian. Seperti biasa, Ken menatapnya tajam. Sedangkan Alyssa terlihat biasa saja. Dan hal itu membuatnya ragu jika Ken adalah orang yang menerornya.
"Jika tidak ada yang ingin paman katakan, lebih baik paman keluar dari ruangan ku. Aku sangat sibuk hari ini." seru Ken
Raymond berdecih. Dia melihat sekeliling dan merasa ada yang berbeda dengan tata ruang milik Ken.
"Beberapa hari yang lalu, ada yang mengacau disini. Dia mengobrak-abrik ruanganku. Entah apa yang dia cari. Tapi berkat dia, aku bisa menata ruangan ku sesuai keinginan ku sendiri." Ucap Ken yang seolah tahu apa yang Raymond pikirkan
Glek
"Sial !! Aku lupa jika aku sudah membuat ruangan Ken berantakan. Apa dia tahu jika aku pelakunya?" batin Raymond
Ken mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Masih diselidiki siapa pelakunya. Tapi satpam bilang pada malam sebelum ruanganku berantakan, paman datang ke perusahaan. Apa yang paman lakukan? Apa paman melihat seseorang yang mencurigakan masuk keruangan ku?"
"A-apa? A-aku... Aku tidak melihat siapapun. A-aku datang karena ingin mengambil berkas ku yang tertinggal."
"Oh, begitu ya. sayang sekali. Padahal aku kira paman tahu sesuatu."
Berkali-kali Raymond menelan ludahnya kasar. Niat ingin mencari tahu, tapi Ken justru berbalik menginterogasinya.
"Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu. Masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Raymond keluar dari ruangan Ken tanpa mendapatkan apapun. Justru dia terpojok dengan pertanyaan Ken yang seolah menuduhnya sebagai pelakunya.
Sepeninggalan Raymond, Ken dan Alyssa saling pandang dan menyeringai.
"Bagaimana menurutmu, Bim? Apa ada yang mencurigakan?"
__ADS_1
"Saya rasa tidak, tuan. Tuan Ken bersikap seperti biasa saat bertemu dengan anda.
"Kau juga berpikir begitu ya. Ya sudah. Kau cari terus siapa orang yang sudah meneror ku." perintah Raymond
"Baik tuan." Raymon masuk keruangan nya, begitu juga dengan Bimo.
"Huh.. Siapa sebenarnya yang mencoba mempermainkan ku?" gumam Raymond. Dia mengerutkan keningnya melihat berkas diatas mejanya karena sebelum dia meninggalkan ruangannya tadi, tidak ada berkas apapun di sana.
"Siapa yang meletakkan berkas disini?" Raymond membaca berkas tersebut. Tapi sedetik kemudian, kedua matanya membola sempurna. Dia melempar berkas tersebut dan berteriak memanggil asistennya.
"Bimo!!! Bimo!! Cepat kemari Bimo!!" teriak Raymond
"Ada apa Tuan?" Bimo yang panik, masuk begitu saja ke ruangan Raymond. Dia melihat atasan itu meringkuk ketakutan. "Tuan!!"
"I-itu... I-itu..." Raymond menunjuk berkas yang berserakan di lantai dengan ketakutan.
"Ada apa Tuan?" Bimo mengambil berkas tersebut dan membacanya. "Ada apa dengan berkas ini, Tuan?" tanyanya bingung.
"Apa kau tidak bisa membacanya, Hah? Itu salinan laporan dari kepolisian. Sepertinya ada orang yang ingin membuatku gila. Cepat kau bakar berkas itu!!" teriaknya lagi
"Tapi tuan, ini bukan salinan laporan yang tuan maksud. Ini laporan hasil penjualan bulan ini tuan."
"A-apa? Jangan bercanda Bim!!"
"Silahkan lihat sendiri tuan!!" Bimo memberikan berkas tersebut pada Raymond. Dan ternyata benar, itu adalah laporan hasil penjualan produknya.
"Ke-kenapa bisa begini? Jelas-jelas aku tadi melihat jika....." ucapannya tertahan. Sepertinya dia berhalusinasi karena terus memikirkan salinan laporan tersebut.
"Sepertinya aku harus istirahat."
__ADS_1