
Di gedung pencakar langit berlogo RK Corp, Ken terlihat gelisah memikirkan Alyssa. Walaupun wanita itu mengirim pesan sesuai janjinya, tapi tetap saja dia khawatir dengan keadaan Alyssa. Harusnya dia ada disamping Alyssa sekarang dan menjaganya. Bagaimana jika Alyssa membutuhkan sesuatu? Hah... Sepertinya dia harus mencari asisten rumah tangga agar saat dia tidak ada di rumah, ada yang menjaga Alyssa.
"Ada apa Ken, Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu? Apa terjadi sesuatu?" tanya Alvin
"Alyssa sakit kak. Aku ingin menemaninya tapi dia malah menyuruhku bekerja." gerutu Ken
"Memangnya dia sakit apa?"
"Entahlah. Mungkin masuk angin. Dari tadi pagi dia muntah terus."
"Muntah?" tanya Alvin memastikan
"Em... Dia bilang, dia hanya masuk angin karena semalam kami bermain kuda-kudaan di balkon dan berlanjut di tempat tidur." bisik Ken dengan bangga
"Cih... Apa kau sedang pamer?" gerutu Alvin.
"Siapa suruh kau mempunyai niat merebut Alyssa dari ku." sungut Ken
"Jadi kau menganggapnya serius?" tanya Alvin yang kemudian tertawa keras. "Asal kau tahu, Ken. Aku dan Rain sudah tahu semuanya."
"Apa maksudmu, kak?"
"Ya, Rain tahu jika kau menyukai Alyssa."
Deg
...****************...
Setelah membaik, Alyssa bersiap untuk pergi ke apotek. Tidak lupa dia mengirim pesan pada Ken sesuai janjinya agar Ken tidak khawatir padanya. Dia tidak mau Ken curiga yang akhirnya memutuskan untuk pulang. Jika itu terjadi, maka usahanya akan sia-sia. Dia sangat ingin memberi Ken kejutan. Dan dia berharap, dia benar-benar hamil.
Alyssa sudah memesan taksi online. Dan sambil menunggu, dia mengisi perutnya dengan minuman lemon tanpa gula. Sangat asam sebenarnya. Tapi entah mengapa Alyssa merasa biasa saja. Justru perutnya yang tadinya mual, jadi agak mendingan setelah minum minuman itu.
"Enak sekali. Sepertinya aku harus membeli beberapa makanan asam. Mungkin buah mangga juga." gumamnya. Dia kembali meneguk minumannya dan bergegas keluar saat mendengar klakson mobil.
"Dengan ibu Alyssa?" tanya si sopir
"Iya pak." Alyssa masuk ke dalam taksi dan memberitahu tujuannya.
Alyssa terus tersenyum dalam hati. Dia sudah tidak sabar dan berharap hasilnya sesuai dengan apa yang dia harapkan.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu yang lama, taksi yang ditumpanginya berhenti tepat di depan Apotek. Alyssa membayar Argo taksi dan segera turun. Dia menatap sejenak apotek di depannya dan berkali-kali menghela nafas hingga akhirnya dia memutuskan masuk ke Apotek tersebut.
"Selamat datang!!" sapa sang apoteker
Alyssa tersenyum. Dia sangat gugup karena ini pertama kalinya dia membeli barang itu. Berkali-kali Dia meyakinkan diri sendiri bahwa tidak apa-apa mencoba.
Sampai salah satu apoteker menghampirinya dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya si apoteker.
"I-itu... aku mau beli....."
"Beli apa nyonya?"
Alyssa terlihat ragu mengatakannya. Dia mencondongkan badannya dan berkata, "Aku ingin membeli Alat untuk tes kehamilan." bisiknya
"Oh... Kami mempunyai berbagai macam merk. Ada yang murah dan ada yang mahal. Anda bisa lihat-lihat dulu, nyonya." si apoteker mengeluarkan berbagai macam testpack dengan merk yang berbeda-beda dan hal itu membuat Alyssa semakin bingung memilihnya.
Samar-samar Alyssa mendengar bisik-bisik dari pelanggan lain yang mencibirnya. Mereka mengatakan jika dirinya pasti hamil diluar nikah, karena itu dia terlihat takut saat meminta alat tersebut.
"Lihat deh!!! wanita itu sangat mencurigakan. Dia terlihat takut saat meminta testpack. Pasti dia hamil diluar nikah dan takut ketahuan." seru salah satu pelanggan.
"Iya, Kau benar. Wanita zaman sekarang benar-benar tidak tahu malu. Mereka tidak memikirkan masa depannya dan hanya mau enaknya saja. Memalukan. Aku kasihan pada keluarganya." sahut pelanggan yang lain
"Ini belanjaan anda nyonya. Terima kasih." seru apoteker dengan ramah.
"Sama-sama." Alyssa melihat sekitarnya. Dan lagi-lagi semua pelanggan yang ada di sana menatapnya dengan rasa jijik. Alyssa hanya bisa menunduk dan pergi dari sana. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba ada seseorang yang merangkul pinggangnya dan berkata, "Bagaimana Sayang? Apa kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?"
Deg.
Alyssa melebarkan kedua bola matanya. Dia terkejut saat seseorang menyapanya dan dengan lancang memeluknya. Dia ingin menyingkirkan tangan pria itu, tapi dia merasa sesuatu menusuk pinggangnya. "Tidak perlu takut Sayang, aku disini untuk menolong mu." bisik pria itu. Dia menoleh dan kembali berkata, "Jangan pernah kalian menghina istriku!! Atau kalian akan menerima akibatnya." ucapnya pada para pelanggan. Setelah mengatakan hal itu, pria itu menuntun Alyssa keluar dari apotek tersebut.
"A-apa maumu, Zean?" tanya Alyssa terbata
"Ssstt... Sudah aku katakan untuk tidak takut padaku, kan."
Alyssa menelan ludahnya kasar. Dia melirik kebawah dimana sebelah tangan Zean memeluknya sedangkan satunya lagi menodongkan pisau di pinggangnya.
"Ikut aku!! Dan jangan coba-coba untuk berteriak."
Ya, pria itu adalah Zean. Dia tidak sengaja melihat Alyssa dan mengikutinya. Bahkan dia mendengar semua hinaan pelanggan di apotek tersebut. Dan dia mengambil kesempatan itu untuk mendekati Alyssa dan mengaku sebagai suami Alyssa agar orang lain tidak curiga.
__ADS_1
"Ka-kau mau membawaku kemana?" tanya Alyssa ketakutan
"Nanti kau akan tahu, sayang."
Saat Zean hendak membawa Alyssa ke mobilnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Alyssa.
"Lyssa!!"
Zean tertegun. Dia sangat hafal dengan suara itu. "Sial!!" umpat Zean. "Kali ini kau selamat. Tapi tidak untuk lain kali, jadi berhati-hatilah!!" Zean melepaskan Alyssa begitu saja dan masuk ke mobil.
"Zean!!" Pria yang memanggil Alyssa tertegun saat melihat Zean masuk ke mobil. Dia segera mendekati Alyssa bertepatan mobil Zean yang sudah menjauh.
"Lyss!!! Kau tidak apa-apa?"
"Ka-kak Revan. A-aku baik-baik saja."
Revan tahu jika Alyssa tidak baik-baik saja. Terlihat dari wajahnya jika Alyssa sangat ketakutan. "Ayo ikut aku!!" Revan membawa Alyssa ke taman dan membelikannya minuman agar Alyssa lebih tenang.
"Sekarang ceritakan padaku, kenapa kau bisa bertemu dengan Zean? Dan di mana Ken?" tanya Revan
"Ken ke kantor. Tadi aku tidak enak badan dan aku membeli obat di apotek. Dan tiba-tiba Zean datang. Dia memaksaku untuk masuk ke mobilnya dan......." Alyssa tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia benar-benar takut mengingat Zean yang menodongkan pisau di pinggangnya.
"Tapi kau baik-baik saja, kan? Zean belum melakukan hal buruk padamu, Kan?" tanya Revan yang dijawab gelengan pelan oleh Alyssa.
Revan menghela nafas lega. Beruntung dia ada di sana tadi. Jika tidak, entah apa yang akan dilakukan Zean pada Alyssa. Yang jelas, itu bukan hal yang baik.
"Ayo!! Aku antar kau pulang."
"Kak, boleh aku minta tolong satu hal? Jangan beritahu Ken!! Aku takut dia akan.....
"Dan membiarkanmu dalam bahaya?" sela Revan.
"Maaf Lys. Aku tidak bisa. Ken harus tahu agar dia bisa lebih berhati-hati lagi." lanjut Revan
"Tapi kak, aku tidak mau Ken terbawa emosi dan mencari Zean. Bagaimana jika dia terluka?"
"Huh... Baiklah. Sekarang, kita pulang."
"Terima kasih, kak."
__ADS_1