
Episode 10
"Mbak, kalo kerja jangan sambil ngelamun. Ntar kesambet duda ganteng bin kaya lho", celetuk Rainy tepat di telinga Ambar. Sontak Ambar terkejut, dan tanpa sadar dia lempar panci kecil ke atas. Sejurus kemudian terdengar suara mengaduh kesakitan.
"Mbak Ambar, dibilang jangan ngelamun sekarang malah ngelempar aku pake panci. Rambutku jadi bau sabun cuci piring kan?"
Rainy berteriak kesakitan, ketika sebuah pannci mengenai kepalanya. Lalu rambutnya yang penuh busa sabun cuci, sementara Ambar yang di teriakin tengan melongo menatapnya. Ada sorot ketakutan tapi juga ada dorongan untuk tertawa melihat kondisi majikannya yang saat itu sulit di gambarkan.
"Apa liat-liat? Bukannya minta maaf, malah melotot", cerosos Rainy jengah. Tiba-tiba Rainy dan Ambar sama-sama tertawa ngakak kegelian. Ambar tertawa karena melihat kondisi Rainy yg penuh busa sabun di rambutnya dan panci kecil yang ada ditangan Rainy. Setelah tadi sempat di ambilnya dari kepalanya. Sementara Rainy tertawa geli, melihat wajah Ambar yàng penuh coreng hitam akibat tangan Ambar yang belepotan noda hitam pantat panci yang berpindah ke wajanya. Karena ketika terkejut tadi Ambar sempat mengusap wajahnya yang terkena cipratan air.
"Kenapa Mbak Ambar ketawa?" tanya Rainy bingung.
"Rambut ibu lucu, kayak mobil lagi di semprot busa aj", jawab Ambar masih sambil tertawa. Sontak Rainy menyentuh rambutnya. Saat itulah dia merasakan sensasi dingin dan lembut ditangannya yg di timbulkan dari busa sabun. Bukannya marah, malah Rainy juga ikut tertawa memperlihatkan deretan gigi nya yang putih.
"Kita kayak badut ya mbak", ledek Rainy masih dalam mode tertawa.
Ambar mengangguk masih sambil tertawa. 'Eit tunggu, kok kita?' Ambar menghentikan tawanya, lalu menatap Rainy bingung.
"Kita kaya badut bu? Kok kita? Lha emang saya kenapa?", tanya Ambar sambil tangannya meraba kepalanya. 'Gak ada apa-apa di rambutku', desis Ambar.
"Bukan di rambutmu mbak. Tapi liat wajahmu sono", jawab Ambar yang belum bisa menghentikan tawa nya. Tak membuang waktu lagi, Ambar setengah berlari menuju wastafel yang dekat kamar mandi.
"Allahu Akbar ibuuuuu, kenapa wajah saya jadi begini? Kalo ga bisa ilang, ntar Bang Toyyib ga pulang-pulang lagi", teriak Ambar yang surprise dengan penampilan baru nya yang sangat kacau. Rainy makin ngakak. Tawa Rainy terhenti ketika ponsel nya berbunyi nyaring. Menyenandungkan lagu favorit nya dari artis legendaris.
'Aku tau ku tak kan bisa
Menjadi seperti yang engkau pinta
Namun selama, nafas berhembus aku kan mencoba
Menjadi seperti yang kau pinta'
"Hallo...assalamualaikum...", sapa Rainy ketika icon telfon telah di tekannya.
"...."
"Ya benar saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"
"....."
"Ya kami juga melayani pesanan sesuai request pembeli."
__ADS_1
"..."
"Sebentar saya catat dulu"
"...."
"Ya. Okey siap. Ya boleh untuk DP nya bisa ditransfer ke rekening saya langsung, setelah ini akan saya kirim nomer rekening saya. Okey saya tunggu"
"..."
"Ya sama-sama".
"..."
"Walaikumsalam".
Lalu, klik...sambunganpun telah terputus. Rainy menatap buku note kecil di tangannya.
"Kenapa bu?" Tanya Ambar yang tiba-tiba ada di dekatnya.
"Biarin Bang Toyib ga pulang-pulang deh mbak. Yang penting cuan nya gak salah jalan", ledek Rainy yang di sambut tawà oleh Ambar.
"Ah ibu bisa aja. Kalo saya kan butuh Bang Toyib ma cuannya juga pulang bu", jawab Ambar sedikit malu-malu.
"Ah ibu, kalo itu mah beda. Ya saya tetep masuk bantuin ibu lha", jawab Ambar sambil mengacungkan jempol nya.
"Apa ada pesanan bu?"
"Alhamdulillah ada mbak. Dari serikat buruh salah satu perusahaan memesan nasi tumpeng besar 1. Dan 150 tumpeng cup sedang mbak. Sanggup begadang ga?" Rainy balik bertanya.
"Saya mah siap aja bu. Tokh ada cuan nya", jawab Ambar lempeng.
Rainy tertawa mendengar jawaban polos Ambar.
"Tenang aja mbak. Insyaallah pasti ada lah. Anggep aja ini lembur", ujar Rainy memberi semangat pada Ambar dengan menekankan kata lembur.
"Lembur...lembur...lembur...lembur", Ambar menari dengan sedikit berjingkat dan mendendangkan kalimat tanpa nada itu. Rainya makin tertawa melihat gaya absurd asisten nya.
"Mbak...emang uang nya mau buat apa? Mbak Ambar kan belum punya anak. Tiap bulan dapet gaji utuh dari Bang Toyib. Enggak bayar kontrakan, enggak perlu masak pula".
"Ya ibu...kan saya juga pengin kayak orang-orang yanga onoh noh. Pada punya simpenan, apa itu namanya bu? Yang ga boleh di ambil ambil kalo belum jatuh tempo itu lho bu. Yang katanya diambil bunga nya aja itu lho...", jawab Ambar sedikit bingung dengan kata-katanya. Tapi dia berharap agar Rainy faham apa yang dimaksudnya.
__ADS_1
"Deposito mbak?"
"Oh iya itu..depo...depo...depo apa bu?" tanya Ambar sambil garuk-garuk kepala karena lupa apa namanya. Perempuan yang hanya tamat Sd itu nampak masih bingung dan berusaha mengingat ingat kata-kata Rainy.
"De..", ucap Rainy pelan
"De...", Ambar ikut mengeja.
"Po..", lanjut Rainy.
"Po...", Ambar masih mengikuti.
"Si...".
"Si...".
"To...".
"To...", ucap Ambar. Ada kelegaan yang tersirat.
"Coba ulang mbak...".
"Pokoknya itu lah bu".
Ambar menolak halus ketika disuruh Rainy mengulang. Karena dia sadar bahwa dia tak akan bisa mengulang kata-kata yang di anggap nya sulit itu. Rainy hanya tertawa yang ditahan.
"Ngomong-ngomong, tumpeng nya buat kapan bu?"
"Sabtu pekan depan mbak? Kenapa? Apa ada jadwal Bang Toyib pulang?"
"Harus nya sabtu kemarin Bang Toyib pulang bu. Tapi kemarin ga pulang, katanya ada pengiriman ke luar kota. Jadi kalo mau pulang, waktu nya mepet. Makanya bang Toyib tidak pulang bu".
"Oh gitu". Rainy mengangguk tanpa faham. Tapi berbanding terbalik dengan Ambar. Tampak ada kesedihan yang tergambar di wajahnya
"Rencana lauk nya mau apa aja bu?", tanya Ambar lebih lanjut.
"Seperti biasa orek tempe, telor dadar, ayam goreng, sambel, lalapan, abon, tahu goreng mbak. Ada ide lain? Karena dari pihak serikat, membebaskan kita soal laup pauknya. Yang penting cukup dengan budged yang diberikan".
Lalu Rainy meninggalkan Ambar yang terlihat asyik memindahkan perabot yang sudah di cuci untuk di rapikan ke tempat yang semestinya.
"Mbak, kalo ntar mau pulang...langsung pulang aja ya. Jangan lupa ntar dateng nya seperti biasa. Saya ngantuk mo tidur dulu".
__ADS_1
Lalu Rainya membuka kamar nya, masuk ke dalam untuk merebahkan badannya yang dirasa begitu lelah. Mata Rainy terpejam, menikmati empuknya kasur spring bed merah maroon nya. Kondisi sederhana ini seringkali mampu membuat lelah nya segera hilang. Bagi rainy ini adalah me time yang sangat sederhana. Bisa tidur disaat badan terasa benar-benar lelah.