
"Hukumannya jangan yang berat-berat ya pak",Sriyanto masih berusaha membujùk Hary mengenai hukuman itu. Sungguh, Sriyanto tak faham dengan apa yang di maksud kan Hary. Sriyanto segera berlari memutar untuk bisa duduk di belakang kemudi. Tak lama kemudian Sriyanto melajukan mobil nya meninggalkan area rumah Rainy.
Sementara di balik jendela sebuah rumah nya, ada sepasang mata yang menatap kepergian mobil itu dengan segenap hati yang sulit tergambarkan.
"Kenapa jadi harus seperti ini Mas? Kalo kamu gak pengin ketemu aku, harusnya kamu gak perlu datang ke sini. Kamu hanya melukai hatiku terus mas. Apa masih belum cukup kamu bikin aku dan anak-anak seperti sampah? Kalo kamu gak bisa menghargaiku, setidaknya hargai anak-anak. Mereka pasti juga masih pengin ketemu kamu", monolog Rainy dalam hati. Ada genangan air di sudut matanya. Menggambarkan pemilik mata itu masih terluka hatinya. Ya, perempuan di balik jendela itu adalah Rainy. Dan semenjak Hary bangun dari koma, Rainy memutuskan untuk tidak akan pernah lagi menemui nya. Rainy sudah merasa cukup mendampingi Hary ketika mantan suaminya itu koma. Karena Hary tak punya siapa-siapa lagi di kota ini. Sementara istri ke 2 nya entah ada di mana, Rainy pun tak mau tahu. Kalo tidak ingat bahwa lelaki itu adalah ayah dari anak-anak nya, maka Rainy pun enggan menemani nya saat itu. Meski jauh di lubuk hati nya, sosok Hary tak mampu tergantikan dengan orang lain, namun luka yang di torehkan mantan suaminya itu juga tak terobati hingga kini. Benar sekali orang bilang bahwa batas antara cinta dan luka itu tipis sekali. Begitu juga batas antara benci dan rindu juga sangat tipis. Rainy menarik nafas panjang seolah hendak membuang luka yang di rasakannya.
"Ngintip apa bu?"
Tiba-tiba Rainy di kejutkan dengan suara Ambar yang entah sejak kapan ada di sebelah Rainy tanpa Rainy sadari.
"Mbak Ambar, bikin kaget aja. Beruntung yang kaget hanya jempol kaki saya saja. Coba kalo jantung saya ikut-ikutan latah trus kaget, bisa-bisa mencelat keluar nguber Mbak Ambar. Mau?"
Berondong Rainy berniat menggoda Ambar.
"Aduh..aduh...jangan bu. Saya kan penakut, bisa-bisa buang air kecil di celana saya bu saking takut nya", jawab Ambar sambil bergidik ngeri. Terbayang di angannya, sebuah jantung yang kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa melayang mengikuti ke mana pun Ambar pergi. Dengan kondisi jantung nya yang berdarah, darah merah segar menetes tiada henti seperti hujan yang mengguyur bumi. Jantung itu berbisik pelan tapi sangat mengerikan.
"Ambar...kenapa kamu cabut aku? Aku mohon balikin aku ke tempat ku semula. Kamu harus bertanggung jawab Ambar. Kamu yang mencabutku dari tubuh tuanku, sekarang kamu juga yang harus mengembalikanku ke tuan ku".
Ambar menggeleng ketakutan.
"Bukan aku, aku tidak sengaja. Ampun...".
Ambar menjerit ketakutan.
__ADS_1
"Sudah terlambat. Aku sudah terlanjur keluar dari tubuh tuan ku. Aku tidak bisa kembali masuk ke dalam tubuh tuan ku tanpa bantuan mu. Karena kamu yang membuatku terlempar keluar", jantung melayang itu masih terus melayang di sekitar Ambar.
"Aku tidak sengaja, sungguh aku tidak sengaja. Maafkan aku, tolong jangan ikuti aku. Kamu pergi sana, pergi yang jauh. Aku tidak bersalah, maaf kan aku. Aku tidak sengaja, sungguh aku tidak sengaja" , suara Ambar bergetar karena ketakutan. Jangtung melayang itu tak beranjak dari hadapan Ambar. Jantung itu semakin mendekat dan melayang-layang di hadapan Ambar.
"Sudah ku katakan, bahwa kamu telah menyebabkan aku keluar dari tubuh tuan ku. Jadi kamu yang harus mengantarkan ku untuk masuk ke dalam tubuh tuanku. Aku tak mengenal kata sengaja atau pun tidak. Yang aku tahu hanya, kamu yang membuat ku terlempar ke luar. Maka kamu pula yang harus mengantarku masuk ke dalam tubuh tuanku".
"Tolong ampuni aku, aku menyesal telah membuat mu terlepas dari tuan mu. Maaf kan aku, tolong ampuni aku. Sekarang aku harap kamu segera pergi. Jangan ganggu aku, aku mohon...".
Suara Ambar parau ketakutan makin menyelimuti hati nya. Namun Ambar tak bisa berbuat apa-apa. Jantung melayang itu seolah tak peduli dengan permohonan Ambar. Dia tetap melayang di sekitar Ambar.
"Aku akan terus mengikuti mu ke mana pun kamu pergi, sebelum kamu berhasil mengembalikan aku ke tuan ku". Ucapan jantung melayang itu cukup membuat Ambar ketakutan. Tubuh Ambar makin bergetar hebat, apalagi saat tiba-tiba jantung melayang itu tepat berhenti di depan mata Ambar dengan jarak yang sangat dekat.
"Maka kembalikan aku ke tuan ku. Setelah kau berhasil mengembalikan aku ke tuan mu, maka aku tidak akan pernah lagi mengikuti mu", suara jantung itu masih terdengar mengerikan di telinga Ambar.
"Cepat katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu segera kembali ke tuan mu dan tak mengikuti ku lagi. Cepatlah katakan, aku sudah ketakutan dengan melihat mu yang seperti itu", masih sambil menggeleng dan memejamkan mata Ambar masih terus bicara. Hingga akhir nya sebuah tepukan cukup keras mendarat di bahu Ambar. Ambar berteriak ketakutan.
"Ampuuunnn tolong jangan ganggu saya, saya janji gak akan lagi berbuat iseng. Saya janji gak akan lagi bikin kamu terlepas dari tuan mu. Tapi tolong jangan ganggu saya...", ujar Ambar masih dengan mata terpejam dan kedua tangan ditangkupkan yang di letakkan di atas kepala nya. Sebagai isyarat meminta ampu.
"Mbak Ambar ini apaan sih?" Nada suara Rainy terdengar jengah melihat tingkah Ambar yang absurd itu. "Siapa yang ganggu Mbak Ambar? Makanya jangan suka bengong, jadi kesambet kan". Sambil di tepuk nya bahu Ambar lebih keras. Rainy sengaja melakukannya agar Ambar membuka mata nya dan sadar dari lamunan nya.
"Aduh sakit, jangan di pukul bahu saya".
"Makanya melek, jangan merem aja!" Suara Rainy mulai meninggi ketika melihat Ambar masih memejamkan matanya.
__ADS_1
"Iya baiklah saya buka mata saya, tapi janji jangan ganggu saya".
Sebuah sentilan keras mendarat di kening Ambar.
"Aduh sakit".
Ambar mengaduh kesakitan.
"Kalo Mbak Ambar masih ngomong nya ngacau saya sentil lagi jidat jenong mu".
Ancam Rainy penuh amarah.
"Kok kayak suara Bu Rainy...", desis Ambar pelan.
"Emang dari tadi siapa yang ngomong?"
Rainy makin jengkel.
Perlahan Ambar membuka matanya.
"Ibuuuu... Alhamdulillah ibu gak papa".
Ambar berteriak kencang, teriakan bahagia yang hanya Ambar sendiri yang faham. Rainy melongo tak mengerti dengan tingkah absurd asisten nya.
__ADS_1