
Hary menatap foto pernikahannya. Ada Emily yang tampak cantik dengan kebaya maroon dan rambut disanggul tinggi.
"Aku sudah berkorban banyak buatmu. Ku harap, kamu gak akan mengecewakan aku'. Monolog Hary seraya menyentuh foto pernikahan itu dengan ujung jemarinya.
"Nasehati istrimu agar bisa menjaga ***********. Sudah dua kali aku melihatnya keluar masuk hotel dengan lelaki yang berbeda".
Kembali ucapan Alfa terngiang di telinganya. Ini adalah kali ke dua Alfa menemuinya di depan kantor nya. Awalnya Hary mengira bahwa Alfa menemuinya hanya ingin meminta uang bulanan yang tak pernah dipenuhinya. Tapi ternyata dugaan Hary salah.
"Apa maksudmu? Kamu jangan asal ngomong Fa. Pakai unggah ungguh kalo bicara sama orang tua", ucap Hary merasa tersinggung.
__ADS_1
"Mungkin sesekali kamu perlu buntuti dia. Aku rasa aku sudah cukup sopan padamu, karena selama ini kamupun tak pernah mengajarkanku tentang kesopanan", ucap Alfa sarkas.
Tangan Hary terangkat hendak menampar nya, namun gerakan Alfa lebih cepat menangkap tangan Hary.
"Jangan berani menamparku, sudah cukup semua perlakuan kasar anda ke mamaku. Awasi istrimu, jangan sampai kamu melakukan kebodohan yang sama".
"Kenapa? Kamu ga terima kalo ku bilang bodoh? Beruntung sekali mamaku setelah cerai dari anda, seorang lelaki bodoh yang hanya menomor satukan urusan ranjang, tapi melalaikan akal sehatnya. Sekali lagi, awasi istri anda atau karma akan menimpa anda".
Lalu Alfa berjalan meninggalkannya dan Hary hanya bisa mematung menatap kepergianya. Berbagai pikiran berkecamuk di hati Hary. Sampai saat ini, kegelisahan itu terpancar jelas di sana. Ingin sekali dia menyangkal kata kata Alfa, tapi ada sudut hatinya yang mulai goyah. Hary menggebrak meja nya. Bergegas dia memutuskan untuk segera pulang. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 22.00. Mungkin Emily sudah pulang.
__ADS_1
Dipacunya mobil metalic mewahnya membelah jalanan ibu kota. Jalanan ibu kota masih tampak ramai, meski hari ini bukan malam minggu. Karena saat ini adalah jam pulang untuk karyawan operator pabrik yang terkena shift 2. Lampu lampu hias di bulevard menyala indah di kegelapan malam. Warung warung tenda di sepanjang emperan toko pun masih tampak ramai. Karena masih banyak karyawan yang hendak pulang menyempatkan mampir membeli makan malam nya atau sekedar nongkrong sambil menikmati kopi dan rokok.
Dulu Hary tak pernah pulang selarut ini kecuali memang dia harus lembur. Hary selalu pulang tepat waktu, dia lebih menyukai menghabiskan malam nya bersama istri dan anak anaknya. Ketika angak menunjukkan pukul lima, maka dia bersiap siap untuk segera pulang. Memacu vespa bututnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di rumah. Ada Rainy dan ke dua anaknya yang selalu menunggu kepulanganny dengan senyum paling bahagia. Masakan Rainy yang selalu membuatnya untuk lebih memilih makan di rumah daripada jajan. Kemudia setelah selesai makan malam bersama, biasanya mereka menonton tv di ruang tengah. Tak pernah absen, Alfa selalu menceritakan aktivitas nya di sekolah. Dan si bungsu Mitha acap kali memilih menyandarkan kepalanya di pangkuan Hary sambil membaca comik remaja kesukaannya.
Akh... tapi moment itu telah hilang tujuh atau delapan tahun silam. Saat Hary memutuskan untuk membagi hati dan waktunya dengan wanita lain. Tak ada lagi kehangatan dalam keluarga nya. Karena dia mulai disibukkan untuk menemani Emily ke mana pun perempuan itu mau. Bahkan rumah tangga nya bersama Rainy hancur di tengah jalan ketika Hary memutuskan untuk lebih memilih Emily dari pada Rainy. Emily yang dimata Hary punya segalanya. Cerdas, hangat di ranjang, selalu manja dan selalu faham apa yang Hary mau. Emily cantik, enak diajak ngobrol, asyik ketika menemani Hary ke Club Malam. Tempat yang belum pernah Hary datangi ketika masih ber istri kan Rainy. Dari club malam inilah Hary mulai belajar merokok. Emily pun mulai mengajarinya minum minuman yang beralkohol. Bersama Emily ke club malam Hary belajar betapa kesedihan itu bisa pupus ketika kita mendengar hentakan musik yang memekakkan telinga. Bahkan tawa lepas dan pemandangan paling absurd pun mulai kerap Hary temukan dalam Club Malam. Emily mengajari nya banyak hal, yang dulu selalu dihindarinya. Emily sangat jauh berbeda dengan Rainy yang kolot. Yang tak suka dengan yang namanya Club Malam apalagi alkohol, judi dan One Night Stand. Hary memilih Emily, karena Hary bisa mengerti apa itu dunia malam. Sesuatu yang belum pernah Hary ketahui sebelumnya. Tapi setelah menikah dengan Emily, Hary selalu merasa ketagihan jika dalam seminggu tidak mengunjungi tempat tersebut. Dentuman musik yang keras, lampu yang gemerlap warna warni dan temaram, aroma alkohol yang menyengat juga jangan lupakan kepulan kepulan asapnya yang selalu memenuhi ruangan selalu menjadi magnet tersendiri buat Hary jika beban pekerjaan menghimpitnya. Hary pun tak beda jauh dengan Emily yang kadang kala pulang dengan kondisi mabuk.
Hary membelokkan laju kendaraannya ke arah yang berlawanan dengan arah rumahnya. Sejenak dia ingin melupakan pertengkarannya dengan Alfa juga Rainy siang tadi. Lagi pula sore tadi ketika Hary menghubungi ponsel Emily, wanita itu mengaku sedang berada di Surabaya menghadiri lomba rias pengantin. Kemungkinan pulang juga esok hari. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 23.00, ketika Hary memarkirkan kuda besinya di pelataran parkir sebuah Kelan Malam.
Saat langkahnya memasuki pintu, suasananya belum begitu ramai. Terdengar DJ memutarkan sebuah lagu disco. Lalu meja bar yang terlihat masih sepi, hanya ada pelanggan duduk di depan meja bar menanti minuman yang dipesannya. Meja meja temaram pun belum tampak penuh oleh pengunjung. Bagian dalam bilik bilik karaoke yang kelas VIP terlihat tertutup sempurna. Menandakan sebagian telah bertuan. Hary mengedarkan pandangannya sekilas, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk duduk di kursi depan meja bartender. Tempat yang nyaman jika dia ingin segera memesan dan menikmati pesanannya. Hary segera memesan vodka ketika pantatnya baru saja dia daratkan di kursi tinggi itu. Tampak sang bartender menyiapkan pesanan pelanggannya dengan cepat dan dengan cara yang menarik. Dia mempermainkan botol yang berisi minuman beralkohol itu berputar putar di atas. Lalu ditangkap nya dengan tangan kiri dari balik punggung. Sekali lagi di putar nya ke atas sebelum kemudian di tuangkan ke dalam beberapa gelas dengan jarak tuang antara mulut botol dan gelas lumayan jauh. Tampak beberapa pelanggan kelab malam itu bertepuk tangan dengan aksi bartender yang sekatan. Selang berapa lama, Hary menerima pesanan minumannya. Di sesapnya vodka itu perlahan, alkohol 40% di dalam minuman itu mampu membuat jantungnya seperti terbakar. Namun hanya sesaat, sebelum kemudian dia merasakan sensasi hangat dan fikiran yang mulai menurunkan ingatan nya pada masalah masalah yang tengah dihadapi nya. Di sesapnya lagi minuman di meja itu, sedikit, perlahan dan tampak Hary sangat menikmati perbuatannya. Aroma tajam alkohol menyeruak dalam ruangan itu. Hary masih terus menikmati minumannya hingga tandas. Lalu dia memesan lagi minuman yang sama di gelas yang berbeda. Setelah dua gelas tandas, Hary mulai merasa benar benar mampu membuang kepenatan pikiran dan badannya.
__ADS_1