
"Bu Yani, saya akan suntik dia di pant** nya. Bolehkah minta tolong celana nya di turunin sedikit", ujar Mel pada Bu Yani. Perempuan yang bernama Bu Yani segera menurunkan sedikit celana Bima agar Mel leluasa menyuntiknya. Merasa ada yang menurunkan celana nya Bima semkin berontak. Dia menendang tak karuan mencoba melawan.
"Jangan mami....jangan mami. Sakit...sakit mami. Ampuuuunnnn, sakit mami", teriaknya tak karuan. Lalu kedua tangannya seolah hendak menutup kemalu** nya. Tingkah Bima cukup membuat Mel kesulitan, karena berkali kali gagal hendak menyuntik bocah kecil itu.
"Bu Rus, biar saya piting bocah ini", ujar Bu Yani gemas.
Bu Yani yang memiliki badan lebih besar dan kuat tampak tak sabar lalu segera mengangkat tubuh kecil itu, meletakkan dalam pangkuannya. Dan memegang erat kakinya, sementara kepala Bima dibiarkan terjuntai ke kasur ukurang single itu. Bu Rus akhirnya membantu bu Yani memegang kaki Bima. Karena badan Bima telah dipiting Bu Yani dan membuat Bima tak bisa bergerak. Secepat mungkin Mel segera menyutik Bima. Bima makin berteriak tak karuan ketika merasakan sesuatu seperti menggigit tubuh nya.
"Ampun mami...ampun...ampun...jangan mami...sakit. Jangan mami...sakit",teriak Bima tak karuan. Setelah Mel berhasil menyuntik Bima, Bu Yani segera meletakkan tubuh kecil itu di atas kasur single nya.
Selang beberapa menit kemudian, tampak Bima mulai tenang. Ceracaunya mulai pelan dan terjed, gerakan berontak nya pun melemah. Sebelum akhirnya bocah kecil itu benar-benar tertidur dengan mata yang masih terpejam seperti sebelumnya. Seolah bocah kecil itu sangat takut melihat kenyataan di depan matanya.
Mel, Bu Rus dan Bu Yani pun bisa bernafas lega melihat bocah laki-laki kecil itu tertidur. Setidaknya bocah kecil itu pun bisa berustirahat sejenak dari kelebatan problem hidupnya yang menyimpan trauma.nl
"Mel, apa tidak sebaiknya anak itu tinggal di sini dulu?" Bu Rus membuka percakapan ketika mereka telah duduk di ruang tamu.
"Iya Mel, seperti nya tidak mungkin kamu membawa nya dalam kondisi seperti itu", timpal Bu Yani yang sependapat dengan Bu Rus.
"Setidaknya di panti asuhan ini, ada banyak teman yang sebaya dengan anak itu", lagi-lagi Bu Rus bersuara. Mel terdiam, dia membenarkan apa yang katakan oleh kedua perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Baiklah bu, untuk beberapa saat ke depan biar anak itu di sini dulu", putua Mel setuju dengan pendapat Bu Rus dan Bu Yani.
"Mel rasa kita juga harus segera membawa nya ke Psykolog. Agar kita bisa tahu bagaimana nanti kita menghadapi nya bu", lanjut Mel setelah beberapa saat terdiam. Karena jauh di lubuk hatinya, tak mungkin dia meninggalkan bocah kecil itu di Panti Asuhan ini tanpa ada bekal obat dan penanganan bagi para pengurus Panti Asuhan itu. Mengingat para pengurus panti itu sudah berusia lebih dari setengah abad. Yang tentu saja sudah kurang up date ilmu terbaru secara on line. Karena selama ini hanya Mel dan beberapa rekan medis nya yang peduli akan keberlangsungan panti itu saja yang menjadi tenaga relawan dalam pengobatan.
Suasana hening melingkupi ruang tamu itu. Masing-masing tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Kalo bocah kecil itu bangun trus tiba-tiba treak-treak tengah malam pasti akan merepotkan. Apa yang bisa aku dan Bu Rus lakukan buat menenangkannya?'monolog Bu Yani dalam diam nya.
'Tubuhnya aja yang kecil, tapi suara dan tenaga nya masih cukup membuat aku dan Yani kewalahan', dalam diam nya Bu Rus juga ber monolog sendiri.
Sementara Mel tampak asyk dengan ponsel nya. Berkali-kali dia menghela nafas berat ketika selesai membaca chats di salah satu sosiao media nya yang masuk. Sebelum akhirnya dia tersenyum dan menjentikkan jari nya. Bergegas dia membuka tas peralatan ke-dokter-an nya. Lalu mengeluarkan beberpa obat dari sana.
"Ibu, karena siang ini Mel harus balik ke kost an karena hari ini Mel jaga malam. Jadi ini ada beberapa obat yang harus di minum anak kecil itu", lalu Mel menunjukkan beberapa obat yang telah disiapkannya.
"Yang ini vitamin, jadi usahan dia meminumnya. Agar kondisi kesehatannya bisa tetap terjaga", sambil di tunjukkannya lembaran obat yang lengkap tertulis kata 'VITAMIN, setiap hari'.
"Yang ini minta tolong di minumkan ketika anak itu mulai tak terkendali. Ini obat tidur, agar dia bisa tidur dan istirahat", ujarnya sambil ditunjukkannya butiran kecil obat warna kuning.
"Kalo dia berontak Mel?", tanya Bu Yani sarat akan kekwatirana. Mel menyadari kekwatiran Bu Yani.
__ADS_1
"Insyaallah dia tidak akan berontak seperti tadi bu. Asal kita memperlakukannya dengan lembut. Trauma anak itu bisa di sembuhkan dengan kelembutan dan kasih sayang. Selain itu dia juga akan belajar memahami bahwa kita di sini benar-benar ingin membantu nya", jelas Mel panjang lebar. Tampak Bu Yani dan Bu Rus mengangguk tanda memgerti apa yang dijelaskan oleh Mel.
"Mel, kalo nanti ada polisi ke sini nyari anak itu gimana?", Bu Yani bertanya dengan ragu-ragu.
"Ibu ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saya yakin orang yang di panggilnya mami oleh anak itu tidak akan berani lapor pada polisi. Apalagi jika si mami itu pake drama nuduh kita menculik ato apapun, insyaallah kita tetap tidak akan terjerat hukum. Ibu lihat sendiri tubuh anak itu penuh dengan tanda-tanda kiss mark. Itu sudah cukup membuktikan bahwa ada kekerasan *** yang di alami anak kecil itu. Belum lagi ceracau nya yang begitu ketakutan. Ibu tenang saja, saya tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu dengan semua penghuni panti asuhan ini", tutur Mel panjang lebar sambil mengepalkan tangan kanannya. Seolah ingin melampiaskan kejengkelan yang sengaja di tahannya.
"Jadi menurut mu kita tidak perlu lapor ke polisi Mel?", tegas Bu Rus.
"Kalo ke polisi, saat ini tidak usah dulu. Tapi kita perlu member tahu Pak RT tentang anak kecil itu. Setidaknya ada laporan bahwa penghuni Panti Asuhan ini bertambah lagi", jelas Mel dengan gamblang. Tampak Bu Yani dan Bu Rus mengangguk setuju dan faham dengan apa yang di sampaikan Mel.
"Baiklah, biar nanti ibu yang lapor ke pak Rt", putus Bu Yani tanpa minta persetujuan. Yang langsung di acungi jempol oleh Mel dan anggukan kepala oleh Bu Rus.
"Baiklah bu, Mel harus segera balik ke kost an sekarang", ujar Mel sembari merapikan beberapa peralatan ke-dokter-an nya yang sempat berantakan di atas meja. Selang beberapa saat kemudian gadis cantik itu memdekat ke Bu Yani dan bu Rus.
"Mel balik dulua ya bu. Kalo nanti ada apa-apa, ibu telfon ke Mel aja. Insyaallah Mel akan segera membantu". Dengan senyum yang terkembang Mel bangkit, memdekati Bu Rus dan Bu Yani. Lalu mencium tangan ke dua perempuan pengurus panti.
"Mel pulang dulu ya bu. Assalamualaikum".
"Ya Mel..wa'alaikum salam", jawab kedua wanita paruh baya itu bersamaan.
__ADS_1