
"Dalang? Saya makin gak faham", gumam Hary mencoba mencerna kata-kata Bayu.
"Ya, karena di mobilmu ditemukan sesuatu yang janggal. Jadi polisi menyelidikinya. Dan dari cctv (Closed Circuit Television) parkiran kantor kita lah ditemukan pelakunya", jelas Abu sedikit sesingkat mungkin. Karena di ruangan rawap inap Hary, terlalu banyak rekan kerja mereka dari Departemant lain, sehingga di-kwatirkan akan menimbulkan gosip-gosip segar yang tidak relevan dengan kenyataan.
"Artinya dia karyawan Perusahaan?" Kejar Hary tidak puas dengan penjelasan Abu yang singkat dan terkesan menutupi sesuatu.
"Belum diketahui secara pasti. Pihak berwajib masih menyelidiki. Sudahlah, kami datang bukan untuk membahas sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kedatangan kami. Jadi mari kita kembali ke lap-top".
Abu mengakhiri pembahasan tentang sabotase.
"Ketika Pak Hary koma, apa yang Pak Hary alami dalam tidur panjang-mu?"
Dengan Bahasa Indonesia-nya yang terbatas Mr Gerald mencoba bertanya. Hary mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat sesuatu yang dia sendiri juga bingung. Karena dia hanya merasa bepergian ke banyak tempat yang ke-semua tempat itu adalah tempat yang asing menurut nya.
"Saya pun tidak faham. Karena saya hanya berjalan di banyak tempat yang terlihat indah tapi juga menyeramkan", jawab Hary sekenanya.
"Maksudnya?" Bayu terlihat penasaran.
"Iya, saya hanya melihat dan menemukan tempat-tempat indah. Tapi tempat itu sunyi dan sepi, banyak lembah tapi terlihat tidak ada kehidupan. Banyak tanaman yang cantik-cantik tapi tidak ada kumbang ataupun kupu-kupu di taman tersebut. Hewan aja tidak ada apalagi manusia".
Jelas Hary sambil mencoba mengingat nya. "Yang jelas saya dengar hanya suara-suara yang memggema dan memanggil saya untuk mendekat. Tapi tiap kali saya memcoba mendatangi sumber suara itu, saya tidak menemukan siapapun. Dan suara itu terasa makin menjauh. Semakin saya kejar, suara itu makin hilang".
Hary berhenti sejenak, mengambil nafas panjang. Abu yang melihat gelagat Hary, segera ber-inosiatif mengambilkan air minum.
"Makasih Pak Abu", ujar Hary setelah minum air yang disodorkan Abu. Sang pemilik nama hanya mengangguk.
"Sepertinya menarik sekali Pak Hary".
Bayu berkomentar, ada pancaran antara terpana dengan penasaran dari pancaran matanya ketika mendengar cerita Hary.
"Kayak di sinetron", celetuk salah satu staff departemant Purchassing.
__ADS_1
"Dasar emak-emak tontonannya gak jauh-jauh dari sinetron". Gerutu rekan sejawat nya sambil tersenyum meledek. Perempuan yang diledek hanya bisa memanyunkan bibir nya pertanda jengkel.
"Sudah-sudah masih mau denger cerita Pak Hary gak?"
Sela Abu sambil melirik jam di pergelangan tangannya. '05.45, da mau masuk waktu maghrib', monolog nya sendiri.
"Lanjut Pak Hary". Kali ini Deni mencoba mencairkan suasana.
"Apa nya pak?" Hary balik bertanya tanpa ekspresi.
"Pak Haryyyy", semua rekan kantornya berteriak tanpa komando dengan pertanyaan polos Hary yang terkesan sangat-sangat natural namun menjengkelkan. Orang yang diteriaki hanya menggaruk kepala nya yang tidak gatal dengan berbagai macam pertanyaan berkecamuk di otaknya. Karena dia tak merasa berbuat sesuatu yang fatal, kenapa teman-teman seprofesi nya kompak berteriak memanggil namanya.
"Kecelakaan itu beneran bikin kamu jadi idiot Pak Hary", Abu berkata setengah berbisik. Namun masih mampu terdengar oleh beberpa telinga yang ada di ruangan itu. Hary hanya menggut-manggut, tapi beda dengan Abu yang tampak kesal.
Chetthaak
Sebuah jitakan berhasil mendarat dengan mulus di kepala Hary. Hary mengelus kepalanya serasa berkata :"Aku salah apa Pak Abu?"
"Sudah malem, kami pamit dulu ya Pak. Semoga cepat membaik, biar segera bisa bergabung di kantor lagi".
Kali ini Deni yang angkat bicara.
"Ya, makasih ya pak atas kunjungan nya".
Lalu satu per-satu teman-teman nya pada bersalaman sebagai isyarat perpisahan.
Ketika giliran Abu: "Aku kangen pengin jadiin kamu samsak ku. Tangan dan kakiku udah gatel pengin bikin kamu babak belur lagi"
"Setelah aku sembuh dan kakiku normal, aku yang akan menghakarmu. Aku pastikan kamu babak belur di tanganku. Dan memohon padaku untuk tidak lagi main-main di ring", balas Hary tak mau kalah. Lalu mereka tertawa tapi dengan aura yang sulit digambarkan.
"Jadi orang jangan bodoh, karena jatuh di lubang yang sama". Abu masih tak mau kalah.
__ADS_1
"Aku tidak bodoh, hanya saat ini otakku belum sepenuh nya normal. Jadi banyak hal yang tak bisa ku fahami. Tapi satu yang tak pernah kulupa...", Hary menggantung ucapannya.
"Apa itu?" Tanya Abu demi memuaskan rasa penasarannya.
"Yaitu kamu, kamu itu temen tapi juga musuh terbaikku", jawab Hary. Yang disambut Abu dengan remasan pada tangan kanannya.
"Aku pengin menghabisimu dengan cara yang jantan, bukan dalam keadaan menyedihkan seperti ini", lagi-lagi aura misterius menyelimuti percakapan mereka berdua.
"Tunggu 2 tahun lagi".
"Sia***", desis Abu.
"Pak Abu, pamit nya sudah belum?", Bayu bertanya dengan menyembulkan kepalanya ke dalam. Karena rombongan mereka telah hanpir sampai di pintu keluar hendak menuju parkiran, namun Abu tidak terlihat dalam rombongan. Sehingga Bayu berinisiatif menyusul ke kamar inap Hary. Benar saja, kedua orang itu masih berkelakar dengan cara yang unik.
"Sebentar".
Jawab Abu tanpa memalingkan wajahnya dari Hary.
"Cepat pulang sana, istri dan anakmu sudah nungguin kamu di rumah. Aku pun udah males ngeliat kamu", usir Hary dengan seringai liciknya.
"Ya tentu aku lebih memilih pulang. Daripada aku disini, bisa bahaya buat kamu. Karena bisa-bisa ku-kuliti kamu tanpa ampun".
Selesai kalimat itu pada titik maka secepatnya Abu berlalu.
"Bye...sampai jumpa besuk".
Lalu lelaki tambun dengan rambut botak depan setengah berlari ke arah pintu yang terbuka. Hary hanya mendengus kesal. Entah apa tadi yang mereka bicarakan. Hary pun tak ambil pusing. Karena yang dia tahu Abu selalu menganggapnya saudara. Pasti ucapan Abu tadi merupakan satu isyarat agar dia lebih berhati hati terhadap siapapun. Mengingat mobilnya telah disabotasi oleh seseorag. Yang Hary tak tahu siapa orangnya.
Setelah kepergian Abu, Hary mencoba merenung. Menarik garis merah tentang kabar mobilnya di-sabotase. Tapi Hary pun tak mengerti, apa motif pelaku sehingga berniat mencelakainya. Padah Hary merasa tidak punya musuh. Dia hanya menjalankan kwajiban-nya sebagai seorang karyawan. Kalaupun Surat Peringatan-Surat Peringatan itu terpaksa dia keluarin, pasti ada sebab yang memang mendasari Hary mengambil keputusan tersebut. Karena nyawa hanya 1 dan tak ada nyawa spare-an. Jadi sudah sepatutnya kalo semua driver harus berhati-hati. Namun jika ada kesalahan, sudah sepantas nya pula Hary tegor. Hary pun selalu mencoba bersikap profesional, tak ada driver yang di-anak emas-kan. Semua diperlakukan sama. Jika mereka berprestasi, Hary akan mengajukannya agar dapat promosi jabatan atau gaji yang dinaikkan berapa persen. 'Tak ada yang aneh...', desis Hary.
Aarrkkkhhh
__ADS_1