
"Aku memang bodoh karena tidak menyadari ada ulat dalam selimut. Tapi aku rasa kamu lebih bodoh lagi, karena niat mu menyingkirkan aku gagal", Hary tak mau kalah. Karena dari tadi Deni selalu mengatakan bahwa dia bodoh. Deni menatap Hary penuh kebencian.
"Kalo aku tahu kamu seberuntung ini, pasti aku sudah memecat mu ketika kamu masih jadi sopir ku". Kata-kata tajam yang penuh penghinaan itu keluar dari bibir Deni. Barangakali mereka akan terus ber balas kata yang bisa semakin menambah kebencian di hati mereka, jika aparat polisi tidak mengingatkan bahwa waktu berkunjung telah habis.
"Ingatkan aku untuk menuntut hukuman maksimal buat kamu".
Ucap Hary di akhir pertemuan mereka.
"Dan ingatkan aku untuk menaruh nama mu di urutan pertama sebagai target pembunuhanku". Balas Deni tak mau kalah.
Lalu Hary segera meninggalkan ruangan itu setelah memastikan bahwa Deni telah dibawa ke ruangan berjeruji besi itu. Ya saat ini Deni masih merupakan tahanan sementara sambil menunggu kasus nya di persidangkan. Hary pulang membawa amarah dan kecewa yang saling tumpang tindih. Apa yang dia alami akhir-akhir ini begitu mengejutkan. Bermula dari kecelakaan yang menimpa-nya. Lalu Deni yang pada akhirnya muncul sebagai otak dari semua kekacauan yang terjadi. Tapi yang Hary belum faham, dari mana Deni tau soal rencana pemasangan kamera CCTV di area Despacth. Padahal hanya dia dan Salman Manager IT yang tahu rencana itu. Atau Jangan-jangan Salman juga bersekongkol dengan Deni? Ahhh...
Berbekal pertanyaan itu akhirnya Hary memutuskan untuk menemui aparat polisi yang menangani kasus nya. Dengan susah payah akhirnya Hary sampai di ruang pengaduan. Ya, karena Hary masih menggunakan kruk untuk membantunya berjalan. Dalam kondisi seperti ini, Hary mengutuk dirinya sendiri karena tadi menolak tawaran Abu untuk menemaninya ke kantor Polisi. Hary tak menemukan Aparat Polisi yang tadi menjelaskan secara rinci tentang perkembangan kasus nya. Di sana dia hanya mendapati seorang Aparat Polisi yang tengah sibuk dengan komputer di depannya.
"Ada yang bisa kami bantu pak?" Sapa seorang polisi yang tengah duduk di kursi pojok ketika Hary menghempaskan tubuhnya di kursi depan meja. Aparat polisi itu mengalihkan tatapannya dari layar komputer kepada Hary.
"Ya pak, saya ingin menemui aparat polisi yang menangani kasus saya", jawab Hary.
"Laporan tentang apa pak?"
Polisi itu bertanya kembali.
"Sabotase mobil dan pencurian di Perusahaan Persada Multifortuna", jawab Hary mantap.
"Oh, dengan Bapak Hary?"
Tebakan yang tepat itu dijawab Hary dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Apa yang ingin Bapak ketahui? Atau Bapak punya pengaduan baru?"
Pertanyaan itu terlontar dengan diiringi senyum yang ramah.
"Saya ingin tahu, selain Pak Deni adakah tersangka lain dalam kasus pemcurian di perusahaan kami?" Tanya Hary to the point. Aparat tersebut mengerutkan kening nya,mencoba menelaah pertanyaan Hary.
"Apa Bapak mencurigai seseorang?" Polisi itu balik bertanya. Hary mengangguk.
"Sebenarnya saya curiga pada Manager IT (Information and Technology)...", Hary menggantung kalimat nya.
"Dengan alasan?"
"Karena rencana pemasangan Kamera CCTV itu hanya saya dan mamager IT yang tahu. Lalu dari mana Pak Deni tahu rencana kami, kalo tidak ada yang memberitahu nya". Hary menjelaskan alasan kecurigaan nya.
"Hal itu sudah kami selidiki pak, dan kesimpulan kami Manager IT tidak terlibat di dalam masalah ini. Karena Manager IT mengajukan pembelian kamera CCTV yang kebetulan sekali invoice pembelian itu satu file yang harus di tanda tangani atasan anda. Di mana saat itu Pak Deni ada di ruangan atasan anda. Sehingga atasan Pak Deni sempat melihat invoice tersebut. Dan Pak Deni terus mencari tahu di mana alat itu akan di pasang", jelas Aparat Polisi itu detail. Hary mengangguk
"Dan kami pun sudah memanggil Manager IT untuk di mintai keterangan. Berdasar keterangan beliau dan bukti-bukti di lapangan, kami tidak menemukan indikasi keterlibatan Manager IT dengan kasus anda", lebih rinci lagi Aparat Polisi itu menjelaskan ketika melihat ekpresi wajah Hary yang belum menunjukkan kepuasan. Tampak Hary manggut-manggut dan merasa puas dengan penjelasan dari Aparat Polisi tersebut. Karena setahu Hary, Salman adalah pribadi yang sholih dan pekerja keras. Salman juga seperti dirinya yang meniti karier dari bawah. Hary mulai merasa lega ketika sekarang semua kekacauan di Perusahaan tempatnya bekerja mulai mengerucut. Dan hanya tertuju pada satu nama Deni.
#
#
"Entah kebodohan seperti apa yang dulu pernah ku lakukan sehingga aku meninggal perempuan yang begitu setia nemenin aku dari kondisi terpuruk hingga sukses", desis Hary seperti tengah menyesali sesuatu.
"Ya Pak", respon Sriyanto, karena dia tidak tau harus menjawab apa. Dia hanya takut ketika nanti ber-komentar justru komentar nya akan membuat marah atasannya.
"Apa aku salah ketika memutuskan selingkuh hanya karena aku ingin merasakan sensasi dari sebuah perselingkuhan?"
__ADS_1
'Pertanyaan yang gak mutu', batin Sriyanto namun tak berani mengungkapkannya.
"Ya pak, menurut saya Bapak memang salah", Sriyanto menjawab di luar kontrol nya.
"Hei kamu berani menyalahkan saya? Mau tanda tangan Surat Peringatan ke 3?" Sentak Hary.
Sriyanto segera menutup mulutnya, ketika menyadari dia telah ke-ceplosan.
"Siapa yang minta pendapatmu?"
Suara Hary terdengar meninggi.
"Ampun pak, maaf kan saya", ujar Sriyanto lalu menutup mulut nya. Tiba-tiba dia merasa takut. Lalu suasana hening, Hary menatap warung nasi uduk yang sudah tutup. Terlihat lebih luas dari beberapa bulan yang lalu ketika Hary datang. Seperti nya warung makan itu cukup diminati. Terbukti masih jam 10 semua menu nya sudah habis terjual.
"Menurutmu, seandai nya aku turun dan menemui mantan istriku apakah aku akan di usir Sry?" tanya Hary tanpa mengalihkan fokus nya pada warung nasi uduk Rainy.
"Kita tidak tahu kalo belum mencoba nya pak?" Jawab Sriyanto polos.
"Kalo mereka tidak mau menemuiku dan tidak mau membukakan pintu nya?" Pertanyaan Hary yang menggantung membuat Sriyanto harus menghela nafas panjang.
"Artinya anak-anak dan mantan istri Bapak tidak menghendaki kehadiran Bapak", masih dengan polos nya Sriyanto menjawab.
"Kamu ingin mengatakan kalo mereka mengusirku?"
"Ya kurang lebih nya seperti itu pak".
Rahang Hary mengeras, seolah menahan amarah yang belum tersalurkan.
__ADS_1
"Tapi apa alasan mereka berbuat seperti itu?"
"Karena kebodohan Bapak yang sudah meninggalkan mereka dan memilih wanita selingkuhan Bapak", jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Sriyanto sangat menohok hati Hary. Sementara Sriyanto tidak menyadari bahwa apa yang dikatakan itu membuat emosi Hary memuncak. Sriyanto hanya memberi jawaban sesuai dengan apa yang dis pikirkan.