Kenapa Harus Selingkuh?

Kenapa Harus Selingkuh?
EPISODE 14


__ADS_3

"Adek ngesèlin ma. Kakak nanya baik-baik malah ngejawabnya asal". Alfa membela diri.


"Emang kakak nanya apa?"


"Kakak suka sama Kak Mel ma. Makanya dari tadi kakak nanyain soal Kak Mel mulu".


Mitha yang menjawab pertanyaan Rainy. Sontak saja Alfa melayangkan jitakan ke kepala Mitha.


"Kaakaaaakkk", teriak Mitha jengkel.


"Abisnya itu mulut loncer bener ya. Kagak ada rem nya sama sekali".


"Abisny kakak juga kepo soal kak Mel".


"Kepo gimana? Kakak kan cuman nanya, kamu jadi main ke rumag dia? Wajar dong kakak nanya gitu", balas Alfa.


"Lha kalo adek jadi ke tempat Kak Mel trus apa penting nya sama kakak?"


"Ya gak ada kepentingan apapun. Kakak cuman nanya aja".


"Serius? Kakak ga pengin tau kost an Kak Mel di mana? Kost ama siapa?"


"Benar-benar menyebalkan kamu dek".


Seraya sebuah jitakan lagi melayang untuk Mitha. Mitha menjerit dan membalas memcubit lengan kakaknya.


"Sudah-sudah, kalian kenapa sih gak pernah akur. Kalian cuman dua bersaudara lho, kalo sampai berantem terus bisa-bisa bikin mama ini cepet-cepet di angkut ke pemakaman".


Ucap Rainy dongkol menyaksikan pertengkaran kecil kedua buah hatinya.


"Mama...", teriak Mitha dan Alfa bersamaan.


"Mama kan pernah janji pengin liat adek jadi dokter. Mama juga belum ngerasain gimana ngegendong cucu pertama. Anak kak Alfa".


"Mithaaa....", teriak Alfa yang sempat membuat telinga Rainy berdenging. Sontak Mitha berlari menyelamatkan diri dari jitakan yang akan dilayangkan Alfa untuk nya. Alfa yang awalnya berniat mengejar Mitha urung melakukannya karena Rainy terlebih dulu telah menarik tangannya untuk duduk kembali.

__ADS_1


"Apa yang sudah kamu sembunyikan dari mama?"


Tatapan Rainy cukup mengintimidasi Alfa terutama penekanan kata sembunyikan.


"Maksud mama?"


Alfa balik bertanya.


"Kamu tahu apa yang mama bicarakan"


"Mama gak usah percaya omongan Mitha. Alfa belum pengin nikah atau pacaran kok", jawab Alfa cepat. Rainy masih menatap nya tajam.


"Kakak tahu betul apa yang sedang mama bicarakan".


"Mama bicara apa?"


Alfa mengerutkan dahi nya. Tatapan Rainy makin mengintidasi. Rasanya Alfa ingin menyihir dirinya menjadi burung agar bisa segera terbang menghilang dari hadapan Rainy.


"Alfa ga faham maksud mama".


Alfa masih memasang mode bingung.


Rainy sedikit membentak yang membuat Alfa sedikit terkejut.


"Apa perlu mama membeberkan apa saja yang telah kamu lakukan setiap Jum'at sepulangmu dari kantor? Sehingga membuatmu selalu terlambat pulang?"


Rainy menatap tajam netra anak sulungnya, seolah hendak mencongkel netra indah Alfa.


"Baiklah..." , ucap Alfa tampak pasrah tak ada piliham selain harus berkata jujur.


"Ya ma, akhir-akhir ini Alfa memang sering nemuin dia. Tapi Alfa tidak melakukan apapun, kecuali meminta dia untuk....".


"Dia siapa Al?"


Tekan Rainy.

__ADS_1


"Hary...".


Ada gemuruh benci dalam dada lelaki tanggung ini.


"Alfa... beliau papamu. Papa Hary..".


Rainy nampak putus asa untuk membuat Alfa melupakan kejadian lima tahun lalu.


"Dulu dia papaku ma, tapi setelah aku liat kejam nya lelaki itu memperlakukan kita terutama mama, aku tidak ingin menganggapnya ada".


Kedua tangan Alfa mengepal, mengisyaratkan betapa kebencian itu telah mendarah daging di hatinya. Rainy merasakan hatinya teriris. Bukan seperti ini yang dia harapkan. Walau bagaimana juga Hary tetap ayah kandung Alfa. Rainy memijit kening nya yang mendadak terasa pusing. Pantas saja siang tadi ketika Rainy pulang dari pasar tiba-tiba Hary telah menunggu nya di depan warung nya yang sudah tutup dengan amarah yang menggunung.


"Aku tidak melakukan apapun ke dia ma. Aku hanya menyuruhnya untuk tidak pernah lagi menemui keluarga kita. Aku katakan padanya, bahwa aku dan Mitha bukan lagi anaknya".


Ada getar kesakitan dalam ucapan Alfa yang coba disembunyikan. Lima tahun menyibukkan diri belajar dan fokus bekerja ternyata belum tuntas membuatnya melupakan kenangan pahitnya. Mendengar ucapan Alfa, Rainy segera menghambur memeluk anak sulungnya. Entah bagaimana dia harus memberi pengertian pada Alfa bahwa dendam nya itu tak akan pernah mampu membalikkan keadaan. Bahwa dendam nya itu hanya akan melukai dirinya sendiri. Tapi Rainy pun belum sepenuhnya mampu melupakan peristiwa pahit lima tahun lalu.


"Maafkan kami nak", ucap Rainy diantara isak yang tertahan.


Dalam kamar, Rainy menatap Mitha yang telah tertidur pulas. Ucapan Alfa beberapa saat lalu masih jelas terakam di ingatannya. Baru sekarang Rainy menyadari betapa dalam luka yang digoresakan akibat sebuah perselingkuhan. Ingatan Rainy kembali berputar pada kejadian siang tadi saat tiba-tiba Hary datang ke warungnya. Entah darimana dia tahu tempat tinggal mereka setelah perceraian lima tahun lalu yang berakhir dengan pengusiran Hary pada Rainy dan anak-anaknya dari rumah mewah itu.


"Mas..." ada getar yang sulit diungkapkan dari ucapan Rainy.


"Aku ga suka basa-basi. Kau didik anakmu yang beñer. Ajari dia sopan santun, jangan sampai penjara yang akan mengajari dia bagaimana bersikap pada orang tuanya".


Tajam ucapan Hary menembus naluri keibuan Rainy.


"Maksudmu apa mas? Apa yang telah dilakukan anak-anak padamu? Dan tolong jaga ucapanmu, mereka juga anak-anak mu. Tak pantas kamu ngomong seperti itu".


Rainy meradang. Hary membuang nafas dengan kasar, ada amarah yang coba ditahannya.


"Kamu bisa tanya sama anak kesayanganmu yang sulung. Apa yang telah dia lakukan didepan kantor ku. Bikin malu aja".


"Aku tau sifat dan watak anak-anakku. Kalo bukan mas yang duluan melukai mereka, pasti mereka tidak akan pernah berbuat yang melebihi batas. Mereka ku didik dengan baik, meski di akhir masa puber nya mereka kehilangan sosok ayah yang menjadi pahlawan buat mereka", ketus ucapan Rainy membalas kata-kata Hary.


"Kamu nuduh aku yang memulai semua ini?"

__ADS_1


"Aku tidak menuduhmu mas, aku hanya mengatakan apa yang menjadi fakta nya".


Rainy membalas tatapan Hary. Sebenarnya bukan akhir seperti ini yang dia inginkan. Tapi apa mau dikata, genderang perang perlahan mulai ditabuh oleh Hary. Rainy memberanikan diri menatap lekat mantan suaminya. Dulu kepala itu plontos dengan kumis tipis. Wajah putih bersih tanpa noda jerawat. Perut six pack yang begitu hangat ketika Rainy melabuhkan tangannya di sana untuk membuat gerakan-gerakan abstrak. Tapi sekarang, penampilannya jauh berbeda. Rambut yang mulai memutih dan terkesan tak terawat. Perutnya mulai tambun bahkan kancing kemeja bagian perutnya seperti hendak terlepas. Karena tak mampu menahan perutnya yang menyembul bagain ibu hamil sembilan bulan. Dan jangan lupakan, wajah lusuh nya yang mulai ditumbuhi beberapa jerawat batu. Sepertinya aktivitas lari sore dan lari pagi nya mulai hilang entah ke mana. Kebiasaan cuci muka dengan sabun muka tertentu ketika hendak beranjak tidur dan habis bepergian menguar tak jelas rimba nya. Juga perawatan kepala yang biasanya plontos pun tak lagi dipedulikan. Kerut-kerut di wajah Hary makin terlihat jelas seolah menggambarkan usia nya yang sudah enam puluh tahun. Padahal Hary sejatinya baru berusia lima puluh lima tahun. Rainy menggelengkan kepalanya, mengusir fantasi nya tentang Hary yang tiba-tiba muncul setelah lima tahun perceraian meraka.


__ADS_2