
Ambar berteriak kencang, teriakan bahagia yang hanya Ambar sendiri yang faham. Rainy melongo tak mengerti dengan tingkah absurd asisten nya.
"Mbak Ambar ini kenapa sih? Bikin orang bingung aja", dengan raut wajah kesal Rainy menegur Ambar.
"Ibu marah? Kenapa harus marah ke saya? Saya bikin salah ya?"
Ambar memberondong Rainy dengan pertanyaan.
"Mbak Ambar tadi kenapa? Treak-treak ga karuan, kayak orang kesambet. Saya kan jadi takut".
Rainy masih dalam mode jengkel.
"Ibu gak tau sih apa yang tadi saya alami", Ambar ikut-ikutan menggerutu.
"Emang apa yang Mbak ambar alami? Dari tadi cuman bikin saya kaget aja kok".
"Saya di datangi jantung gentayangan bu. Dia melayang-layang mengejar saya", Ambar merubah nada bicara nya jadi begitu memelas. Rainy yang tadi nya terlihat jengkel mulai terpengaruh dengan intonasi bicara Ambar.
"Jantung melayang bagaimana? Dari tadi Mbak Ambar kan di sini?" Rainy tak percaya dengan ucapan asisten nya.
"Iya bu, saya ga bohong. Jantung itu mengejar saya katanya karena saya yang menyebabkan dia terlepas dari tuan nya".
"Ah mana ada itu. Paling halu mu aja mbak", bantah Rainy.
"Bukan bu, itu nyata. Jantung itu melayang, warna nya merah. Dan darah segar terus menetes di sela-sela jantung itu. Pokok nya mengerikan bu".
Ambar bergidik ketakutan, Rainya hanya menggeleng kan kepala nya tak percaya dengan penjelasan Ambar. Menurut pendapat Rainy, Ambar itu terlalu halu dan lebay. Karena nya Rainy tak begitu menggubris ucapan Ambar.
"Ibu gak percaya dengan omongan saya?" Tanya Ambar sedikit jengkel.
"Sudah lah gak usah ngebahas sesuatu yang gak masuk akal. Nyuci nya udah kelar mbak?"
"Udah bu, sambel petis nya juga udah siap. Buah-buahan buat petisan juga udah saya potongin", jelas Ambar.
"Hebat mbak, cepet banget kerja mu", puji Rainy di antara senyum nya.
"Bukan cepat, ibu saja yang terlalu lama di luar".
__ADS_1
"Oh apa iya mbak. Kayaknya tadi saya cuman bentaran kok di luar", dalih Rainy sambil melangkahkan kakinya ke dapur.
"Iya ibu lama di luar. Emang siapa tamu nya bu?" Tanya Ambar kepo.
"Pak Sriyanto", jawab Rainy singkat.
"Oh, emang siapa itu Pak Sriyanto? Pelanggan baru? Mo pesen nasi box ato tumpeng bu?" Tanya Ambar lebih lanjut.
"Sudah lah di ceritain juga Mbak Ambar ga bakal faham", Rainy mencoba berkelit.
"Oh gitu... paling ada hubungannya dengan mantan suami ibu", kata Ambar asal. Namun sempet membuat Rainy tersentak. Untuk mengusir gugup yang tiba-tiba saja hadir di hati nya, Rainy segera mengambil jambu air yang telah di potong-potong oleh Ambar. Lalu di cocolin ke sambel petisan yang di buat Ambar.
"Heemm enak mbak. Gula, asam dan garam nya pas. Tak percuma aku ngandelin kamu mbak untuk bebikin petisan".
Lagi-lagi Rainy memuji masakan Ambar.
"Memang teman-teman Neng Mitha mau dateng jam berapa bu?"
"Mitha bilang ya kelar jam kuliah. Paling bakda dzuhur mbak".
"Iya. Udah siap semua kan mbak? Makan siang dan cemilan nya udah disiapin kan?" Rainya balik bertanya.
"Udah siap semua bu. Tinggal makan pokok nya", Ambar menjentikkan jari telunjuk dan ibu jari nya.
"Okey...makasih ya mbak. Saya ke kamar dulu. Bangunin saya kalo mereka sudah dateng".
Lalu Rainy melangkah masuk ke dalam kamar nya. Ya hari ini Mitha mengajak beberapa teman nya untuk mengerjakan tugas kuliah di rumah Rainy. Dalam kamar, Rainy merebahkan tubuh nya, mencoba mengingat kembali saat driver Hary menjelaskan kondisi Hary saat ini. Entah bagaimana Rainy harus bersikap seandainya ada kabar buruk yang akan di dapati nya.
#
#
Hary menatap Sriyanto dengan tatapan membunuh. Tajam, bagai seèkor srigala yang hendak ******* habis mangsa nya. Sementara yang di tatap hanya diam pasrah tak tahu harus berbuat apa.
"Kesalahan mu hari ini sudah bikin saya sangat malu pada mantan istri saya", ucap Hary geram.
"Maaf pak. Tapi sungguh saya tidak berniat seperti itu. Saya hanya ingin bapak dan ibu ketemu saja", masih menunduk Sriyanto mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi saya belum siap ketemu dengan keadaan seperti ini!" Bentak Hary. Sriyanto terdiam. Karena bagaimana pun dia menjelaskan, Hary tak akan pernah memgerti.
"Maaf kan saya pak".
Lagi-lagi Sriyanto meminta maaf. Lalu hening. Hary mengatur nafas nya, bagaimana pun dia juga ikut andil dalam ke-nekad an dan ke-konyol-an Sriyanto kali ini.
"Mulai besok pagi sebelum menjemput saya, kamu harus membelikan saya nasi uduk di warung mantan istri saya. Tapi kamu harus jaga rahasia ini, jangan sampai dia tahu bahwa nasi uduk itu buat saya".
"Siap pak...", jawab Sriyanto singkat. 'Halah, kalo masih suka kenapa harus main kucing-kucingan seperti ini? Tinggal dateng ke rumah nya, ngajakin rujuk. Kan bere' monolog Sriyanto dalam hati. 'Yang enggak-enggak aja. Mau gimana juga, kalo aku yang beli pasti Bu Rainy juga bakal curiga. Apalagi kudu tiap hari. Issshhh punya atasan kok merepotkan', masih dalam hati Sriyanto berani ber monolog.
"Sekarang kamu ke kantin dan tolong ambilkan makan siang saya", perintah Hary lagi.
"Siap pak".
''Bener-bener atasan yang menyebalkan'', desis Sriyanto.
"Kamu bicara sesuatu Sri?"
Pertanyaan itu penuh intimidasi.
"Mana ada, saya tidak mengatakan apapun pak".
Jawaban Sriyanto di ikuti dengan perasaan takut yang tak karuan.
"Aku mendengar nya".
Kata-kata Hary cukup membuat Sriyanto terdiam.
"Maaf kan saya pak".
Taka ada pilihan lain bagi Sriyanto selain meminta maaf.
"Sekali lagi kamu membantah perintahku, maka aku tak akan segan-segan memberi hukuman yang lebih dari ini", ancam Hary sangat tegas.
"Siap pak". Bergegas Sriyanto meninggalkan ruangan Hary. Menutup pintu nya, lalu dia bernafas lega. Menghirup udara luar ruangan dengan rakus nya. Seolah tadi di dalam dia telah kehabisan oksigen. Tak bisa bernafas sama sekali.
'Dasar atasan tak berperi kemanusiaan, ngasih perintah kok ga mutu, di luar akal sehat, di luar job desc ku. Emang siapa yang gaji aku? Dia atau perusahaan? Seenak udel nya sendiri aja. Beruntung banget Bu Rainy sekarang bukan istri nya lagi. Kalo masih jadi istrinya mungkin tuh bodi tunggal tulang. Hahahah', tawa lepas Sriyanto menggambarkan kelegaan dan kelucuan yang hanya dia sendiri yang tahu. 'Bener orang bilang, jabatan bikin orang gila. Waktu masih jadi driver tuh orang sopan, baik. Awal-awal jadi manager juga masih baik dan deket sama anak buah. Eh mule ke-enak- an duduk di kursi manager mulai bertingkah. Main selingkuh dan selingkuhannya pemain ulung. Porak-poranda lah rumah tangga nya. Ya gitu, kalo jadi orang kurang ber syukur. Kena azah deh. Heheehehhe'. Sepanjang jalan menuju kantin Sriyanto masih cengengesan menggerutui atasaannya.
__ADS_1