
Warung nasi uduk Rainy masih tutup pagi itu, tapi lelaki yang terlihat mulai tak terurus itu masih betah duduk berlama-lama di salah satu sudut meja ĺesehan. Sepiring nasi uduk dengan topping ayam bakar lalapan dan sambel Ssdah tandas dari tadi. Hanya segelas es jeruk yg tinggal separuh saja yang tersisa.
"Mau nambah lagi mas? Sepertinya kamu menyukai masakanku", Rainy mencoba bertanya dengan hati-hati agar lelaki di depannya tidak tersinggung.
"Terimakasih aku memang selalu menyukai masakan mu. Rasa masakan mu masih sama seperti dulu. Enak dan bikin ketagihan"
"Mas Hary bisa aja. Kalo masakanku seperti yang kamu bilang, tentu suamiku gak akan ninggalin aku", sindir Rainy. Hary menghela nafas, ada sesuatu yang coba ditahannya. Ya lelaki itu adalah Hary mantan suami Rainy.
"Maafkan aku dek", desis Hary. Ada nada penyesalan yang tertuang di sana.
"Ah sudahlah itu adalah bagian masa lalu kita. Oh ya, bagaimana anak dan istri mu mas? Mereka sehat- sehat saja kan?"
"Ya mereka sehat-sehat saja. Anak-anak gimana?" Hary balik bertanya.
"Alhamdulillah. Anak-anak juga sehat semua. Alfa sudah bekerja dan Mitha sekarang sudah kuliah", Rainy terlihat biasa saja menghadapi mantan suaminya.
"Ya Allah, artinya sudah lama banget kita ga ketemu ya dek?" Tanya Hary memastikan.
Rainy tersenyum. "Kurang lebih 5 tahunan", jawab Rainya sambil mengangguk.
"Kenapa anak dan istrimu tidak kamu ajak ke sini?"
"Mereka lagi liburan ke Singapore", jawab Hary dengan tatapan menerawang.
"Kok kamu gak ikut?", Rainy menautkan alinya pertanda heran.
"Aku ke sini bukan untuk membahas istriku", ucap Hary jengah
"Oh maaf jika pertanyaanku salah". Rainy menunduk, ada kilatan-kilatan amarah yang coab ditutupinya. 'Aku juga ga pengin tau soal istri mu', Rainy membatin.
"Aku ke sini hanya ingin mengambil apa yang jadi hak ku", ucapan Hary sontak membuat Rainy terkejut.
"Hak? Hak apa? Bukankah sòal harta gono gini sudak kelar di pengàdilan? Aku tidak nembawa yang bukan hak ku mas", Rainy meradang.
"Ya, tapi ada yang belum selesai".
__ADS_1
"Apa lagi?" Rainy mulai tak bisa menahan emosi.
"Anak..". Hary menggantungkan jawabannya.
"Anak? Bukankah kamu sendiri yang menyerahkan semua hak asuh anak padaku? Karena kamu bilang, kamu gak mau membebani istri barumu", sentak Rainy penuh emosi.
"Iya...tapi kan sekarang Alfa udah kerja. Jadi aku pun berhak untuk ikut menikmati hasil keringatnya. Karena ..."
"Apa?!"
Rainy tak hanis pikir dengan pola.pikir mantan suaminya.
"Ya, karena kamu juga pasti ingat. Aku yang bea in Alfa sekolah dari Paud hingga SMA entah kelas berapa. Yang jelas sebelum kita bercerai aku masih membiayain pendidikannya. Jadi sekarang aku hanya meminta hak ku".
"Kamu benar- benar gak waras mas. Kamu ayahnya, sudha jadi kwajibanmu membiayain pendidikan anak-anak. Bahkan seharusnya setelah kuta berceraipun kamu masih wajib membiayain pendidikan anak-anak. Tapi setelah kita bercerai, sepeserpun kamu tak pernah memberi anak-anak mu uang untuk pendidikan mereka. Dan sekarang kamu dateng minta balik duit yang sudah kamu keluarkan buat anak-anak? Bener-bener gila kamu mas".
Rainy terlihat tak lagi bisa menahan emosi dengan kata-kata mantan suaminya.
"Kok kamu malah marah. Apa salah kalo aku datang dan minta hak ku? Alfa juga anakku yang harus berbakti pada ku. Aku ayahnya yang juga harus mendapatkan hak dari gajinya".
"Kamu mengusirku? Jangan sombong dek, kamu bisa seperti sekarang juga karena modal dari ku".
"Apa? Kamu makin ga waras. Gara-gara harta kamu jadi gak waras".
Rainy setengah berteriak.
"Hei jaga mulutmu dek. Dari mana kamu bisa membuka warung ini kalo bukan dari uang bulanan yang kamu tabung".
"Astagfirullah mas...aku punya usaha ini dari menjual motor Alfa. Uang nya sebagian ku pakai buat buka warung nasi uduk, sebagian lagi untuk bea sekolah anak-anak", Rainy hampir menangis.
"Motor itu kan dari hasil keringatku juga".
"Itu kan sudah jadi harta gono gini. Dan pengadilan memutuskan bahwa motor itu jadi hak anak-anak. Kamu pun menyetujuin nya, tapi kenapa sekarang kamu meminta sesuatu yang gak masuk akal ma?"
"Apanya yang gak masuk akal? Aku kan sudah bilang bahwa aku hanya meminta hak ku. Tidak.lebih, kamu aja yang lebay".
__ADS_1
Tangan Rainy tergenggam erat, giginya gemelutuk menahan amarah.
"Dasar sinting", ucap nya kasar.
"Hai jaga bicaramu. Aku bisa obrak abrik warungmu kalo kamu menolak kerjasama dengan ku", ancam Hary.
"Kerja sama? Kerja sama seperti apa? Bicaramu makin ngelantur".
"Berapa gaji Alfa sebulan?" Tanya Hary to the point?
"Untuk apa kamu nanyain itu?" Rainy balik bertanya.
"Agar rata pembagiannya", jawab Hary datar.
"Astagfirullah", Rainy mengelus dadanya. "Sepicik itu pikiranmu sekarang mas. Apa gaji mu yang udah puluhan juta itu masih tak cukup? Sampai-sampai kamu otak atik gaji anakmu? Di mana pikiran sehat mu?"
"Hai, kamu tak perlu tau cukup atau tidak gaji ku. Karena ini bukan soal gaji ku, tapi soal hak ku", tegas Hary yang terlihat mulai emosi
"Kamu udah sinting, mending kamu segera pergi dari sini sebelum para pelanggan warung ku dateng dan lihat tingkah sinting mu", usir Rainy jengah melihat tingkah mantan suaminya.
"Kamu yang sinting, karena pengin nguasain semua gaji Alfa. Kamu serakah, sudah tepat kalo aku menceraikanmu", balas Hary tak mau kalah.
"Cukup mas. Kamu benar-benar kelewatan", teriak Rainy semakin emosi.
"Kamu yang kelewatan, selama ini kamu aku kasih uang belanja lebih. Dan itu kamu pakai buat foya foya dengan teman sosialita mu. Lalu kamu jual motor Alfa buat modal usaha, tanpa bilang ke aku. Sekarang warung mu sudah gede, itu juga termasuk dari harta ku yang kamu ambil. Sudah saat nua kamu bagi padaku dari omset warungmu", ujar Hary penuh emosi.
"Kamu mabok mas? Motor itu harta gono gini yang jadi hak ku dan anak-anak. Aku jual buat modal buka warung biar bisa beayain sekolah anak-anak. Serakah dari mana? Setelah kita cerai, sepeserpun kamu tak memenuhi kwajibanmu membeyain sekolah anak-anak. Sekarang setelah Alfa kerja dan aku punya warung tiba - tiba kamu datang dan minta bagian. Kamu bener-bener ga waras mas", Rainy pun tak kalah emosi.
Plak
Sebuah tamparan telak mengenai pipi Rainy. Perempuan itu terhuyung ke belakang, kepala nya terasa pusing, hampir saja tubuhnya limbung andai tak ada dinding untuknya bersandar.
"Kamu tega", hanya itu yang terucap dari bibir Rainy dengan disertai air mata yang menetes di kedua matanya.
Tiba-tiba Hary menyerangnya dengan membabi buta.
__ADS_1