
Hary hanya diam menatap layar komputernya. Setelah kejadian di rumahnya selesai dengan keluarnya lelaki yang menemani Emily, Hary memutuskan untuk kembali ke kantor. Pikirannya saat ini benar benar kacau. Rumah tangga nya berantakan. Ternyata Emily bukan perempuan baik baik seperti yang dia harapkan. Tubuh seksinnya dimanfaatkan untuk menjerat lelaki kesepian agar mampu menghangatkannya di ranjang demi pundi pundi rupiah. Padahal dulu Hary sempat berfikir bahwa Emily selingkuh dengannya karena Budi yang tak mampu mengimbangi Emily di ranjang. Padahal dulu Hary sempat berfikir bahwa Emily terpaksa selingkuh karena Budi yang juga tak mampu memenuhi kebutuhan materi Emily. Ternyata apa yg diceritakan Emily padànya tak lebih hanya sebuah kebohongan. Karena setelah mereka menikah Hary memberikan seluruh gaji nya untuk kebutuhan Emily. Uang tabungannya pun harus terkuras demi memodali Emily untuk membuka salon. Tènyata semua hanya kebohongan yang berùjung pengkhianatan.
Emily... wanita seksi dengan segudang pesona nya yang dulu mampu membuat semua lelaki di kantor Hary bertekuk lutut. Ternyata hanya seorang wanita hiper s*x yang memang tak pernah puas dengan satu lelaki dalam kehidupan di ranjang nya.
''Si**", umpat Hary setelah merasa menyadari sesuatu. 'Ah tidak mungkin', monolog nya sendiri dan mencoba mengingkari dugaannya sendiri. Bergegas dia bangkit dan meninggalkan ruangannya untuk kembali fokus pada masalah di kantor yang menjadi tanggung jawabnya. Dan berusaha mengusir bayangan bayangan kengerian yang dia hadirkan sendiri.
"Pak Hary kusut amat...kayak baju da berbulan bulan gak di gosok aja", ledek Pak Deni manager produksi ketika mereka berpapasan di pintu belakang.
"Iya, tukang loundry nya sakit. Jadi kios nya tutup".
Jawab Hary asal.
Dan jawaban Hary disambut tawa oleh Deni. Hary pun ikutan tertawa, lalu dia melanjutkan niatnya untuk ke factory. Sebenarnya Hary enggan masuk kantor hari ini setelah pertengkarannya dengan Emily. Entahlah, dia pun tak habis pikir sebenarnya apa yang terjadi sebelum nya. Karena selama ini hubungan Emily dan Hary baik baik saja. Mereka tak pernah bertengkar. Kwajiban suami istri pun masih mereka lakukan seperti biasa. Meski kadang Emily harus keluar kota untuk belanja keperluan salon, tapi komunikasi diantara mereka terjalan lancar. Lalu apa yang mendorong Emily untuk berselingkuh dari nya? Untuk urusan materi, Hary pun memenuhi semua kebutuhan Emily. Bahkan atm Hary pun dipegang Emily. Artiny gaji bulanan Hary semua untuk Emily. Hary meminta seperlu nya saja. Hary sangat mencintai Emily sehingga apapun selalu dilakukan untuk Emily. Lalu kenapa Emily begitu tega mengkhianati nya hanya dalam hitungan jari? Hary menggelengkan kepala nya, mengusir bayangan Emily yang menari di dalam otaknya. Dia harus fokus pada kerjaannya saat ini.
Jam belum genap menunjukkan angka 21.30 ketika langkahnya memasuki pintu kelab malam. Sekarang Hary lebih suka menghabiskan sisa malamnya di kelab malam. Meminum beberapa gelas vodka mampu membuatnya melupakan luka hatinya sesaat.
"Kan aku udah bilang sama kamu, jangan main api. Eh malah kamu milih Emily dari pada keluargamu".
Terngiang kembali ucapan Abu ketika sebelum pulang kantor Hary menyempatkan diri mampir ke ruangan Abu.
"Ya, awalnya aku hanya iseng. Tapi Emily sangat menggoda, jadi sayang kalo dilepas kan. Ternyata semua malah berantakan seperti ini", Hary menatap Abu. Matanya menyiratkan penyesalan yang sulit diungkapkan kan.
"Sekarang Emily di mana?", tanya Abu lebih lanjut.
"Ga tau. Aku tadi mengusir nya. Mungkin dia sekarang sama lelaki yang tidur dengannya di kamar kami", jawab Hary masih menyimpan kesal.
"Aku kan pernah bilang tentang hobby Emily yang suka berganti pasangan. Tapi kamu malah mengabaikan omongan ku".
"Ya, aku terlalu dibutakan cinta saat itu. Jadi otak waras ku ga berfungsi".
Abu tertawa, "Sekarang udah waras?", ledek Abu
__ADS_1
Hary tertawa kecil
"Belum 100 persen waras sih", jawab Hary asal.
"Bu, ntar malam kamu ngangggur kan?", tanya Hary pada Abu.
"Kenapa?"
"Temenin aku minum sedikit ya. Kayaknya aku butuh sesuatu yang bisa bikin aku lupa pada si ja**** itu".
"Ogah...kamu kalo mabuk payah".
Tolak Abu tanpa basa basi.
"Aku cuman pengin minum dikit. Paling mentok 4 gelas doang", bujuk Hary tak mau kalah.
"Kamu payah soal minum. Jangankan 4 gelas, 3 gelas aja kamu udah mabok".
Hary tertawa
"Kalo aku temenin aku dapet apa?"
Abu menantang Hary.
"Jorang limited edition buat kamu".
Bujuk Hary, dia tahu Abu sangat hobby memancing. Dan dia selalu berburu joran untuk memancing.
"Deal, janji jangan mabok".
"Deal. Okey, tapi aku minum 4 gelas vodka".
__ADS_1
"Suka suka kamu".
Lalu Abu mengupas sebuah apel, memotongnya kemudian memberikannya pada Hary.
"Makan apel segar bisa bikin hati lebih santai".
Abu menggoda Hary. Hary hanya meninju Abu dengan kepalan tinjunya.
"Santai itu kalo kita punya bini yang cantik, setia dan gak macem macem".
"Balik aja sama Rainy. Aku rasa dia pasti mau".
Lagi lagi Abu menggoda Hary. Yang digoda hanya tersenyum garing.
Sekarang, disinilah Hary. Duduk dalam kelab malam, menunggu bartender menyiapkan pesanannya. Hary mengedarkan pandangannya mencari sosok Abu. Tapi dia tak menemukan ornag yang di carinya. Diambilnya ponsel pintar nya. Membuka sebuah aplikasi chatting, kemudian memencet icon phone warna hijau setelah menemukan nama yang dicarinya.
"..."
"Cepat ke sini. Aku ga bisa dengar suaramu. Disini berisik sekali".
Lalu ditutupnya panggilan telfon itu. Memasukkan ponsel nya ke saku. Hary mulai menyesap.perlahan pesanannya. Sesaat dia merasakan seperti tenggorokannya terbakar.
Namun hanya sebentar, sesaat kemudian ada sensasi hangat menjalar ke seluruh aliran dalam tubuhnya. Hary tersenyum, teringat kekonyolan yang pernah dia lakukan ketika pertama kali masuk kelab malam itu bersama Emily. Karena merasa terganggu dengan dentuman musiknya, Hary sampai harus memasukkan tisyu dalam telinganya agar suara musik yang menggema ke seluruh ruangan itu berkurang. Dan jangan lupakan cahaya yang teramaram dengan aneka lampu warna warni yang berpendar. karena belum terbiasa dengan cahaya temaram itu, Hary harus berkali kali mengerjap ngerjapkan matanya untuk memulai membiasakan netra pada pencahayaan yang temaram itu. Ah, tapi itu dulu, lima tahun yang lalu. Sekarang Hary sudah terbiasa dengan lampu dan juga bising nya musik yang memekakkan telinga. Bahkan kadang Hary merindukan saat saat untuk minum minuman beralkohol dan sering kali berujung pada mabok nya Hary karena parahnya soal minum.
"Dah habis berapa?".
Tepukan di bahu Hary menyadarkannya dari lamunan. Dia hafal betul suara itu. Siapa lagi kalo bukan Abu. Teman seangkatannya ketika dulu dia melamar kerja di perusahaan asing itu.
"Lama banget. Mampur ke mana aja?"
Hary menjawab pertanyaan Abu dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1