Kenapa Harus Selingkuh?

Kenapa Harus Selingkuh?
EPISODE 17


__ADS_3

Hary mengedarkan pandangannya ke segenap ruangan sambil menunggu bartender membuatkan minuman untuknya. Dia tersenyum melihat aktivitas kelab malam yang didatanginya. Banyak sekali menyediakan kursi kursi pojok yang temaram. Segera disesap nya vodka dari gelas beningnya. Perlahan pandangannya mulai membentuk bayangan bayangan baru. Hary bukanlah peminum tangguh, jadi belum genap 3 gelas dia mulai merasa melayang. Dalam jarak pandang yang tak terlalu jauh, Hary melihat sosok yang mirip Emily tengah tertawa terbahak bahak bersama dua orang lelaki. Sosok yang menyerupai Emily mengenakan baju press bo membuat Hary terbelalak. Karena ketika sosok itu duduk dengan mengangkat pa*a nya, terlihat jelas pa*a mulus itu. Bahkan segitiga pengaman nya juga samar terlihat. Berkali kali Hary mengerjapkan matanya agar lebih bisa mengenali sosok itu. Sekali lagi masih disesap nya vodka itu dengan rakus hingga tandas. Sebelum akhirnya Hary memutuskan untuk mendekati sosok wanita yang menyerupai Emily.


Uuuhhhgggg


Hary menabrak seseorang.


"Maaf", ucap nya dengan kepala yang menggeleng pelan. Beruntung Hary dan seseorang yang ditabraknya tidak terjatuh. Dengan langkah sempoyongan Hary berusaha mendekati meja Emily.


Hary terbelalak saat matanya menangkap seorang lelaki yang duduk dekat sosok yang menyerupai Emily, tiba tiba memeluk wanita itu dengan begitu mesra. Dan wanita yang menyerupai Emily pun tak menolak ketika diperlakukan kurang senonoh. Bahkan kemudian mereka tertawa. Rasa nya seluruh darah dalam tubuh Hary mendidih.


"Hai apa yang kau lakukan pada wanitaku?"


Teriak Hary, sambil membabi buta dia berusaha menarik lelaki yang dianggapnya telah melecehkan wanita nya. Tapi karena kondisi Hary yang tengah mabuk, jadi bukan tubuh manusia yang ditariknya, melainkan udara hampa.


"Kamu ngledek aku ya?" Teriak Hary marah masih sambil berusaha menarik tubuh lelaki yang ada di dekat waniita yang dikiranya Emily. Lagi lagi, hanya udara kosong yang di raih Hary. Wanita yang tengah duduk bersama dua orang lelaki itu segera menengok mencari sumber suara yang mengganggu kegiatan mereka. Wanita itu cukup kaget dengan sosok lelaki yang menghampiri meja nya dalam keadaan mabok, namun hanya sesaat. Kemudian wanita itu merubah ekspresi bya dengan tatapan ynag datar. Seolah tak mengenal lelaki yang menghampironya dalam kondisi mabok. Dalam keremangan lampu kelab malam, Emily bisa melihat sosok Hary yang tampak berantakan.


"Mi...apa yang kamu lakukan bersama mereka?"


Emily Menatap Hary sekilas, lalu kembali asyik ngobrol dan menghisap rokoknya dalam dalam. Seolah kehadiran Hary hanya sebuah angin lalu.


Hary yang merasa geram dengan sikap Emily. Dengan membabi buta dia mencoba menarik Emily dan memukul lelaki yang berada di samping Emily. Kondisi Hary yang mabok sangat menguntungkan bagi lelaki hidung belang itu untuk mengalahkan Hary dengan sekali pukul.


"Jangan pernah ganggu kesenanganku", sentak lelaki hidung belang itu sebelum memukul Hary.


Seketika Hary tersungkur, Emily menjerit tertahan. Tapi salah satu sudut hatinya sudah mati. Tak ada rasa kasihan ato bersalah di hati Emily.


"Kamu mengenalnya Honey?", tanya lelaki hidung belang itu.


"Ya, dan dia akan segera menjadi mantan suami ku", jawab Emily sambil membuang muka dari menatap Hary.


"Kenapa kalian lama sekali? Percuma aku membayar kalian, jika untuk menepuk lalat aja juga aku yang harus lakukan", bentak lelaki itu kepada beberapa orang berbadan tegap yang terburu buru menghampiri meja meraka. Rupanya orang orang yang baru datang itu adalah anak buah nya.


"Maafkan kami tuan".

__ADS_1


Jawab salah seorang diantara nya dengan menunduk.


"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan. Jangan berbuat ceroboh lagi".


Kata kata yang keluar cukup mengandung intimidasi. Emily yang mendengar nya pun sempat merasa sedikit was was.


"Siap Tuan", ujar salah satu diantara nya.


Hary yang tubuhnya diseret hanya pasrah tak berdaya. Luka pukulan itu sebenarnya tak terlalu parah, tapi kondisi nya yang mabok lah yang membuatnya tak berdaya dan kalah. Darah segar masih mengalir di ujung bibir Hary. Lelaki itu terpejam ketika tubuhnya diseret. Entah bagaimana perasaan Hary saat itu, Emily pun tak mau tau.


Hary merasakan perih di sudut bibirnya ketika matanya terbuka sempurna. Ujung jemarinya mencoba mengusap ujung bibir nya. Dia meringis menahan sakit.


"S***", ucapnya ketika terkenang kembali kejadian di kelab malam. Dia menoleh ke samping, sudah beberapa hari belakangan dia tidur sendiri tanpa Emily di samping nya. Hary bergegas bangun tanpa peduli rasa perih di sudut bibirnya yang robek. Dengan kasar dia buka lemari baju nya.


"S***, dasar wanita ****** setelah aku berkorban banyak untuknya, sekarang dia mengkhianatiku".


Geram Hary penuh amarah. Di sambar nya ponsel nya di nakas. Lalu membuka aplikasi on line per bank an.


"S***".


"Dasar wanita ****** yang tak tahu diri. Awas saja kalo sampai aku ketemu kamu, aku kuliti kamu hidup hidup Emily", teriak Hary penuh emosi. Kemarahannya telah mencapai puncak nya. Secepat kilat dia mengambil ponsel yang tadi sempat dilempar ke kasur big size nya. Lalu menekan mengotak atik ponsel nya dengan amarah yang meluap.


"Kita lihat, apa yang akan kamu lakukan sekarang", teriaknya seperti orang linglung. Padahal awal dia membuka mata semua yang terjadi semalam adalah sebuah mimpi. Dia sempat berharap bahwa bukan Emily yang dilihat nya semalem di dalam kelab malam. Dia sempat berharap bahwa Emily adalah wanita baik baik yang memang patut diperebutkannya.


"Aaarrrkkkk... kamu kelewatan Emily...".


Dibantingnya peralatan make up Emily yang ada di atas meja rias. Setelah puas membuat berantakan kamar nya, Hary berlari keluar kamar.


"Bi...Bibi...", teriaknya setengah berlari ke arah dapur.


Seorang wanita paruh bayah lari tergopoh-gopoh menghampiri pemilik suara yang memanggilnya.


"Saya tuan".

__ADS_1


Sambil menunduk perempuan itu menjawab.


"Sejak kapan Nyonya ga pulang?"


"Baru 2 hari lalu Tuan", jawab nya masih sambil menunduk.


"Apa sering seperti itu?"


Wanita paruh baya itu terdiam mencermati ucapan Hary.


"Bi...", bentak Hary berang.


"Biasanya 2 hari sekali Nyonya baru pulang tuan".


Ada getar ketakutan dalam ucapannya.


"Jam berapa biasanya dia pulang?"


"Siang tuan".


"Dengan siapa dia pulang?" Hary bertanya masih penuh emosi.


"Kadang sendiri, kadang di temani seseorang Tuan", jawab wanita paruh baya itu ragu-ragu.


"Laki ato perempuan?"


"Laki-laki tuan".


"Apa? Dan kamu diam saja, ga pernah bilang sama saya".


"Maaf kan saya tuan. Saya takut, karena Nyonya bilang kalo saya berani mengadu ke tuan, maka nyonya akan memecat saya".


Nada suara nya mulai tercekat, ada ketakutan yang luar biasa tergambar di sana. Wanita paruh baya itu terdiam karena takut. Suasana hening sesaat...

__ADS_1


"Segera kabari saya kapanku nyonya pulang. Jangan buat kesalahan lagi".


__ADS_2