
Cuaca pagi hari ini begitu cerah, secerah senyum yang terkembang di bibir Hary. Lelaki itu memasuki ruangannya dengan senandung yang tak pernah berhenti. Bagiamana tidak bahagia, karena perjuangan nya selama hampir 6 bulan ini telah memperlihatkan hasil yang sangat memuaskannya. Mitha yang tak segan-segan membujuk sang mama untuk rujuk lagi dengan Hary. Alfa yang mulai menantangnya main catur di akhir pekan. Bahkan Alfa yang dulu begitu acuh, sekarang juga mulai sering mengajaknya datang ke proyek ketika hati sabtu Hary libur kerja. Hanya saja Rainy yang masih terlihat sangat menjaga jarak. Dia selalu berusaha mengalihkan topik ketika pembicaraan mulai mengarah pada anak-anak yang meminta mereka untuk rujuk. Seperti nya perjuangan untuk mendapatkan kesempatan ke 2 dari Rainy masih alot. Rainy pun terlihat acuh dan dingin ketika Hary berusaha memdekati nya. Ada saja yang dilakukan hanya agar tak ada kesempatan untuk Hary dan Rainy hanya berdua. Padahal sering ke 2 anak nya itu memberi kesempatan kepada mereka untuk ber dua an. Di saat seperti itu biasanya Rainy tiba-tiba beralasan mau ke kamar mandi, ke dapur. Bahkan sering tiba-tiba Rainy pamit ke pasar. Akhirnya Hary ditinggal sendirian di rumah hanya ada Mbak Ambar yang selalu menyibukkan diri di dapur. Padahal semua kesempatan itu memang sengaja di buat oleh Alfa kalidan Mitha agar ada kesempatan ngobrol intens.
Baru saja Hary mendarat kan pant** nya di kursi tiba-tiba saja ponsel nya berbunyi. Tak ada nama yang tertera di sana. Selain nomer hanya sederet angka yang asing baginya.
""Hallo... ", sapa Hary ramah masih dengan senyum yang terkembang. Meski dia tahu lawan bicaranya tidak mungkin melihat senyum nya. Setidak nya aura bahagia itu bisa terserap kepada lawan bicaranya.
"Hallo...masih ingat saya kah?", suara di seberang begitu lembut dan terasa menggoda siapa saja yang mendengar suara itu untuk segera melihat pemilik suara nya. Hary segera menjauhkan ponsel itu dari telinga nya. Memastikan siapa pemilik suara di seberang. Namun yang di lihat nya adalah masih sederet angka tanpa nama.
"Maaf ini dengan siapa ya?" Tanya Hary mencoba menahan gemuruh dalam dada nya. Suara itu mengingatkan nya pada sosok yang pernah sangat dicintai nya, tapi karena sosok itu pula keluarga nya hancur.
"Pipi lupa sama mimi, atau hanya pura-pura lupa?"
Suara itu makin menggoda hati nya, ada rindu dan benci yang saat ini tengah bergejolak di dada nya.
"Ini benar mimi? Apa kabar mi? Apa yang bikin kamu telfon aku? Apakah saat ini hidup mu kurang baik-baik saja? Sehingga kamu telfon aku?"
__ADS_1
Hary mengepalkan tangannya, mencoba menghalau amarah. Namun sudut hati nya yang lain, tak mampu dipungkiri bahwa dia merindukan kehangatan nya bersama Emily yang sungguh panas.
"Tega sekali pipi bilang kayak gitu. Mimi hanya kangen sama pipi, mumpung kebetulan kami sedang ada di Solo. Bima penasaran dengan masjid baru di Solo. Kalo pipi pengin ketemu, kita bisa meet up di sini. Bagaimana pi?"
Suara menggoda itu sungguh membuat sekujur bulu Hary meremang. Entah telah berapa tahun Hary tak pernah merasakan hangat nya sentuhan abstrak wanita. Kamar nya sunyi, tak ada kehangatan yang di rindukan nya.
"Kok pipi diem? Pipi belum nikah lagi kan? Artinya selama ini pasti pipi kesepian".
Makin menggoda sekali suara Emily di seberang. Hary terdiam, ponsel nya masih menempel di telinga nya, sekelbat bayangan Emily bermain main di pelupuk matanya. Wajah ayu nya, senyum genit nya, gigi nya yang ginsul, bibir seksi nya... Hary menelan ludah, membuang semua fantasi liar nya. Ah dia tak boleh tergoda lagi. Dia ingin memperbaiki hubungan nya dengan Rainya dan anak-anak nya.
"Kenapa tiba-tiba kamu hubungi aku? Kalo hanya sekedar kangen, rasanya tidak mungkin. Aku tahu siapa kamu Mil", ujar Hary mencoba melawan sisi liar hati nya.
"Aku sedang di kantor dan banyak pekerjaan. Kalo kamu hanya omong kosong saja, lebih baik aku tutup ponsel ini", ancam Hary. Meski ada sudut hati nya yang lain merasa ketagihan memdengar suara lembut menggoda nya. Tapi perbuatan Emily beberapa tahun silam, masih terasa menyakitkan.
"Iiiiihhhh... pipi sekarang tega ke mimi. Pasti karena kurang kasih sayang mimi. Kalo pipi mau, mimi bisa kok nemenin pipi meski cuman sebentar. Yang penting pipi suka. Heemmm", goda Emily di seberang sana. Masih dengan intonasi nada yang menggoda. Hary menelan saliva nya dengan susah payah. Hanya mendengar suara nya saja sudah terasa panas dingin apalagi mengulang malam-malam panas mereka.
__ADS_1
"Mil, apa yang kamu inginkan? Gak usah basa-basi".
Hary mencoba mengesampingkan perasaannya yang mulai campur aduk. Antara tergiur dengan tawaran Emily ato menolaknya. Mengingat dia telah berjanji akan memperbaiki kesalahannya di masa lalu pada keluarga nya.
"Baiklah...baiklah pipi sayang. Mimi hanya merasa kangen aja dengan service pipi yang selalu kalah dibanding mimi", goda Emily di seberang sana. Lalu terdengar tawa bahagia yang begitu lepas dari bibir Emily. Hary menghela nafas berat, sesak tiba-tiba meracuni hati nya. Andai dia tak berjanji pada anak-anaknya untuk memperbaiki semua kesalahannya...barangkali saat ini Hary akan segera melaju ke Solo. Bertemu dengan seseorang yang masih juga mengisi relung hati nya. Meski kekecewaan dan kebencian nya pada Emily sempat membukit, namun kenangan berselimut hasrat itu tak juga mampu di tolak nya.
"Kamu di Solo sama siapa? Sama pasangan baru mu?" Tanya Hary di sela gemuruh di dada nya.
"Iiiihhhh pipi kok gitu sih ngomong nya. Mimi cuman berdua sama Bima. Ga sama siapa-siapa lagi".
Manja suara Emily mampir di telinga Hary.
"Apa ada mangsa baru yang mau kamu gaet?" Pertanyaan Hary lebih menyerupai tuduhan itu membuat tawa Emily pecah.
"Aaaiiissshhh pipi apaan sih? Pipi cemburu ya? Nih mimi bisikin ya...suami mimi lagi di Singapura. Harusnya kami pulang bareng, tapi mendadak suami mimi kudu ngurusin bisnis baru nya di Singapura. Jadi mimi sama Bima balik duluan, mungkin 2 ato 3 hari lagi laki mimi baru balik", jelas Emily panjang lebar.
__ADS_1
Hary geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Emily yang vulgar itu. Perempuan cantik, seksi, menarik dan sangat hangat di ranjang itu masih tetep sosok yang sama. Masih menomor satukan urusan kehangatan tempat tidur. Benar-benar liar dan tak kenal lelah untuk urusan yang satu itu.
"Pipi kan tahu, mimi gak sanggup kalo sehari aja gak olah raga di atas kasur, serasa badan gak ada tenaga. Hidup gak berwarna. Pipi kan pernah mimi ajarin berbagai macam gaya. Harus nya pipi sudah ahli urusan yang satu itu. Meski pipi baru sampai tahap gaya ke 15 tapi sudah lumayan lah. Mimi punya 98 gaya yang pasti tak membosankan jika di praktekkan", cerocos Emily makin vulgar dan menantang.