
Sementara itu di luar Deni terlibat perbincangan serius dengan salah seorang polisi yang menangani kasus kecelakaan beruntun di jalan tol.
"Saya masih tidak habis fikir pak, kenapa rem mobil Pak Hary bisa blong. Karena setahu saya beliau itu rajin sekali service mobil nya". Deni membuka pembicaraan.
"Ya itu yang sedang kami selidiki. Karena ada kejanggalan di dalam kasus ini", ujar polisi itu menanggapi pernyataan Deni.
"Maksudnya? Apa ada yang men-sabotase mobil Pak Hari?"
Nada bicara Deni terdengar sangat penasaran.f5in Perusahaan bapak atàu yang mewakili nya", jawab petugas kepolisian itu diplomatis.
"Seandainya di sabotase, tapi apa motif nya. Dan kapan pelaku melakukan aksi jahat nya dan dimana?"
Deni terlihat masih penasaran. Oknum polisi itu hanya tersenyum.
"Dalam otak pelaku kejahatan, kesempatan sekecil apapun tetap akan bermanfaat karena mereka akan berusaha bekerja dengan cepat", ujar petugas polisi itu. Dan memang hal itu masuk akal. Karena kejahatan yang terjadi akhir-akhir justru malah di tempat ramai, bukan lagi di tempat-tempat sepi yang jarang dilalui orang.
"Setahu saya Pak Hary itu gak punya musuh yang benar-benar pengin mencelakainya. Kalo sekedar guyonan mah banyak. Rata-rata anak buah nya dan orang kantor memang kurang suka dengan sikap arogan Pak Hary. Semenjak berpisah dari istri ke 2 nya, Pak Hary memang jadi orang yang work hollic. Dan menginginkan segala sesuatunya harus berjalan sempurna. Beliau alhir-akhir ini beneran tak mentolelir kesalahan sedikitpun. Kesalahan sepele aja bisa berakhir pada keluarnya surat peringatan", terang Deni panjang lebar. "Tapi masak iya, hanya gara-gara surat peringatan bisa sampai bikin pelaku nekad mau menghabisi Pak Hary. Kayaknya gak mungkin pak", lanjut Deni membantah penjelasa nya sendiri soal Hary.
"Rambut boleh sama hitam nya pak, tapi urusan hati...kita kan tidak tahu", jawab aparat polisi itu diplomatis.
"Iya juga sih", gumam Deni. Lalu keheningan meliputi mereka berdua, karena kedua lelaki dewasa itu sibuk dengan benda pipih nya yang bisa menghubungkan mereka dengan siapa saja dan dimana saja. Sampai ketika tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka dan tampak Hary keluar dari sana sendiri. Karena perawat yang menemaninya masih di dalam ruang ICU.
"Bagaimana keadaan Pak Hary?"
__ADS_1
Sambut Deni dengan tanya ketika belum juga Abu sempurna berada dihadapannya.
Abu menggeleng.
"Masuklah dan liat sendiri keadaannya", jawab Abu, ada nada kecewa disana. Deni diam, menatap Abu sekilas seolah masih menunggu jawaban yang lain. Namun itu tak terjadi, karena Abu tak lagi melanjutkan ucapannya, malah mengeluarkan benda pipih hitam dari saku kemejanya.
"Baiklàh pak, saya rasa tugas saya sudah selesai untuk mengantar bapak menemukan rekan kerja bapak yang hilang. Dan memastikan korban kecelakaan yang saat ini koma adalah benar rekan kerja bapak yang bernama Pak Hary. Saya pamit dulu ya pak".
"Ya pak, kami ucapkan terimakasih atas pertolongan Bapak. Kami masih menunggu informasi lebih lanjut tentang kasus ini".
Deni yang merespon ucapan aparat polisi tersebut. Setelah para lelaki dewasa yang berbeda profesi itu saling bersalaman dan di lanjut dengan berlalu nya aparat polisi itu dari depan ruang ICU, Deni segera masuk ke ruang ICU demi memastikan bahwa salah satu pasien yang koma itu adalah Hary. Dan Abu pun mulai tenggelam dalam kesibukannya di sosial media dan menjawab beberapa pertanyaan rekan kerja nya di kantor yang bertanya perihal Hary.
#
#
Kondisi Hary masih sama, belum ada perubahan yang signifikan. Dan hari ini, adalah hari pertama Rainy menjaga Hary di Rumah Sakit. Setelah sebelumnya dia hanya sekedar menjenguk tapi tidak menunggui. Alfa mengijinkan Rainy untuk menunggui Hary hanya karena Alfa kasian pada mamanya yang sepertinya ingin mendampingi Hary di saat tersulit nya, ketika keadaannya sungguh sangat terpuruk. Hary tak ubahnya dengan Rainy yang juga hidup sendiri. Namun Hary masih beruntung karena sebenarnya dia memiliki banyak saudara. Tetapi sekarang Hary pun sebatang kara setelah semua kakak-kakaknya satu per satu meninggal dunia. Yang terakhir Kak Arsyen yang terkena Covid dan meninggal di Rumah Sakit Ambon. Sementara Hary sekarang menyandang status duda, tak ada kerabat yang menunggui nya selama dia di rumah sakit. Rainy menatap Hary, wajahnya sudah mulai membaik setelah dilakukan operasi yang ke 2. Luka bakar yang menyebabkan wajahnya tampak menyeramkan sekarang berangsur angsur mulai membaik. Hary termasuk beruntung, karena luka bakar yang dideritanya tak menyebabkan dirinya mengalami cacat permanen. Hanya saja mungkin kulit wajah sisi kirinya masih menghitam. Kemarin perban di wajahnya telah di lepas. Namun gips di kaki kanannya masih tetap terpasang. Baut dan mur pun masih terlihat menyembul di balik balutan kain gpis nya yang tebal. Sepertinya akan butuh waktu lama untuk bisa berjalan. Rainy menatap wajah tedih Hary tanpa kedip. Meski lelaki itu begitu dalam melukainya, namun dia tak dapat memungkiro betapa Hary pun pernah memberi warna indah dalam hidupnya. Pernah mengenalkan cinta yang tulus dan memberikan kebahagiaan dengan hadirnya anak-anak mereka. Meski bagaimanapun juga Hary tetap ayahnya anak-anak, yang berhak mendapatkan perhatian dari anak-anak mereka seburuk apapun perlakuan Hary beberapa tahun lalu.
Flash back on
"Mama masih mencintai papa?"
Pertanyaan Mitha sore kemarin sepulang Rainy menjenguk Hary di rumah sakit.
__ADS_1
"Kenapa adik nanya soal itu?"
Rainy balik bertanya.
"Adik sih seneng kalo punya papa lagi. Karena adik masih pengin wisuda nanti didampingi orang tua yang lengkap", jawab Mitha apa adanya. "Tapi adik ga mau maksa mama balikan sama papa. Yang adik pengin, papa bisa datang di wisud adik nanti", lanjut Mitha.
"Kenapa harus papa dek? Kakak kan juga bisa gantiin papa. Biasanya undangan wisud kan 3 termasuk kamu", sela Alfa yang dari awal memang kurang setuju jika Rainy berniat rujuk dengan Hary.
"Tapi kan lebih enak kalo keluarga kita lengkap kak", Mitha bersi keukeuh.
"Sudah-sudah, yang penting saat ini adalah kita doakan semoga papa kalian bisa segera sembuh. Soal rujuk atau nikah lagi, mama belum kepikiran ke arah sana. Yang mama pengin, adik kuliahnya serius, dapet hasil yang memuaskan. Itu sudah kebahagiaan tersendiri buat mama", alhirnya Rainy mencoba mencari aman dari rentetan pertanyaan Mitha atau tatapan menyelidik dari Alfa.
Flash Back Off
Dan sekarang disinilah Rainya berada. Di ruang HCU (High Care Unit) menemani Hary yang masih dalam tidur panjang nya. Rainy tak habis pikir dengan Emily, wanita seksi dan cantik yang dipuja Hary. Yang membuat Hary menelantarkan Rainy dan anak-anaknya. Padahal semua fasilitas kekayaan Hary telah dinikmati Emily, tapi kenapa justru perempuan itu malah pergi meninggalkan Hary. Bahkan semenjak Hary di rumah sakit, sekalipun Emily tak menunjukkan batang hidung nya.
"Rainy...sudah lama?"
Sebuah suara serak membuyarkan kilasan-kilasan lamunan Rainy. Rainy menoleh ke sebelah kirinya. Tampak lelaki tambun dengan rambut separuh berdiri di sampingnya. Sementara rambut bagian belakang nya sudah memutih. Rainy tersenyum, menampilkan lesung pipit nya yang menarik.
"Lumayan pak. Tapi saya tidak bisa lebih lama dari ini. Sebelum maghrib saya sudah harus pulang. Kasian anak-anak di rumah. Selain itu saat ini saya sudah bukan siapa-siapanya pak Hary", jawab Rainy panjang lebar.
"Iya saya tahu. Tapi bagaimanapun terimakasih karena telah bersedia menunggui Pak Hary".
__ADS_1