
Berkali-kali Hary terpaksa menelan saliva nya hanya karena mendengar ocehan Emily di balik telfon nya. Perempuan seperti Emily memang menarik, wanita hiper yang selalu haus kehangatan.
"Seandainya suami mu sudah tak mampu lagi mengimbangimu apakah kamu akan cari pengganti nya Mil?" Tanya Hary di balik deru nafas yang makin tak teratur ketika mendengar suara Emily yang lebih bangak mende***. Dan itu menyebabkan adrenalin Hary tiba-tiba terpacu cepat. Entahlah, Hary pun tak mengerti kenapa dia meladeni Emily meski hanya lewat ponsel. Padahal beberapa menit lalu, dia sudah berjanji untuk menjaga hati nya agar bisa kembali mendapat kepercayaan Rainy. Tapi mendapat panggilan telfon dari Emily serasa, Hary mulai terbawa permaianan Emily. Terasa naluri nya sebagai seorang laki-laki normal ingin terus meladeni obrolan Emily yang menantang dan menggoda.
Mendapati pertanyaan Hary, Emily tertawa lepas. Dan tawa lepas Emily selalu sanggup menggetarkan sisi liat Hary.
"Pipi nanya kayak gitu kenapa? Pipi pengin main-main lagi sama mimi? Boleh, yang penting doyble service. Service dompet dan service plus-plus nya seimbang, mimi janji gak bakal nyari laki lain".
Mendengar penuturan Emily, hati Hary mencelos tak tahu arah. Sangat bertolak belakang dengan Rainy. Wanita ayu tapi selalu menerima apapun kondisi Hary. Hary memejamkan mata nya, mencoba mendinginkan hati nya. Berdamai dengan sisi liar naluri ke-lelaki-an nya. Agar tak ada bagian hatinya yang goyah lalu melakukan kebodohan seperti masa lalu.
"Ku rasa basa-basi nya sudah cukup Mil. Banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan. Assalamualaikum".
Lalu Hary mematikan ponsel nya. Sudah saat nya Hary memilih dan memantapkàn hatinya untuk memperbaiki semuanya. Lalu lelaki itu membuka komputer nya, memeriksa beberapa laporan yang masuk. Berkali-kali di cobanya untuk fokus membaca email-email yang masuk, namun tetap saja dia sulit faham. Bayangan wajah Emily dan suara menggodà wanita itu menguasai pikirannya. Membuatnya benar-benar tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan nya. Email-email yang di baca nya pun tak satu pun mampu dia fahami secara utuh.
Diangkat nya telfon yang ada di meja. Lalu menekan tiga angka yang dihafal nya.
__ADS_1
"Hallo... pantri selamat pagi", suara di seberang terdengar di telinga nya.
"Aji, tolong bikinin saya kopi pahit ya", perintah Hary setelah gagang telfon di seberang telah diangkat. Dan dia hafal betul pemilik suara itu.
"Baik pak", jawab Aji singkat. Di letakkannya kembali gagang telfon itu setelah dia yakin bahwa penelfon di seberang telah menutup panggilannya. Aji segera mengambil cangkir dan tatakannya memasukkan sesendok kecil kopi dan seujung sendok gula. Menuangkan air panas lalu mengaduk nya. Setelah siap, Aji pun mengantar kan kopi buatan nya ke ruangan Hary.
Sementara di ujung kota yang lain.
'Hemmm rupanya kau belum mampu melupakanku. Aku masih punya waktu 2 hari untuk membuatmu tak bisa lepas dari ku. Aku tak peduli setelah ini kamu akan hancur seperti apa lagi. Yang jelas, perempuan dusun itu harus hancur', desis perempuan cantik dengan make up menor nya di balik balkon hotel seraya mengepalkan tangan nya. 'Jangan panggil aku Emily jika tak sanggup membuat mu kembali menjauh dari wanita dusun itu. Tunggu aku Har, dendam ku belum terbalaskan semua', wanita itu menyeringai penuh kilatan dendam. Ya, dia adalah Emily. Perempuan cantik sejuta pesona dengan kemahiran kehangatan yang di jajakannya. Wanita pengejar kepuasan yang ternyata berangkat dari masa lalu yang sarat dendam.
"Bima sayang...", suara lembut Emily memanggil bocah kecil yang sedang tertidur pulas.
"Kenapa sayang? Jangan takut, mami tidak akan memyakitimu nak", Emily masih menatap bocah kecil itu dengan tatapan yang lembut. Perlahan Emily mendekati Bima, dan hal itu semakin membuta Bima ketakutan. Sorot mata nya mengiba seolah meminta pengampunan.
"Ampuni Bima mi, Bima janji gak akan nakal lagi. Ampuni Bima mi...", suara serak yang sarat ketakutan mengganggu telinga Emily. Suara yang menahan tangis ketakutan.
__ADS_1
"Tidak sayang, mami tidak akan menghukum Bima asal Bima taat pada apa yang mami perintahkan".
Senyum smirik yang di tampilkan Emily semakin membuat lelaki kecil itu ketakutan.
"Ampun mi...ampun...jangan ganggu Bima. Bima janji ga akan nakal mi", rengek Bima ketakutan. Tubuh nya terguncang hebat. Masih sambil memeluk lutut nya, Bima menangis.
Emily tersenyum mendekati Bima. Diantara senyum nya, terselip tatapan yang sangat terselimuti kabut gairah.
"Jangan takut sayang, mami akan selalu menyayangi Bima. Kemari nak, peluk mami, mami pangku Bima. Kemari sayang...".
Makin Emily meraksek mendekat, Bima makin menempelkan badannya ke dinding. Tangis nya pecah, badannya gemetar ketakutan.
"Ampun mami...ampun...jangan ganggu Bima", rengek Bima ketakutan. Namun Emily tak mau menggrubris permintaan Bima. Segera di peluk nya tubuh mungil Bima. Di ciumi nya pipi nya yang tirus. Lalu ciuman itu beralih ke leher Bima. Bima menggeliat kesakitan ketika Emily mulai menghisap dan menggigit lembut leher Bima.
"Ampun mi...jangan mi. Bima takut, ampun mi...sakit", rengek Bima diantara tangis nya. Namun Emily tak peduli, mendengar rintihan kesakitan Bima, Emily makin bersemangat untuk terus menyesap leher Bima. Bocah usia 11 tahun an itu menjerti kesakitan ketika Emily menggigit telinga kanannya. Menyelipkan jemari nya diantara kedua paha Bima. Lalu wanita itu membarinfkan tubuh kecil Bima di ranjang. Melepas paksa kaos Bima. Bima menjerit ketakutan, air mata terus mengalirdi kedua belah pipi nya.
__ADS_1
Emily yang melihat Bima ketakutan dan menangis serasa makin terang**** untuk terus menikmati tubuh mungil anaknya. Di perut Bima yang rata Emily memainkan jemarinya. Membuat gerakan-gerakan abstrak. Membuat Bima makin ketakutan, apalagi saat Emily mulai membuka celana panjang Bima. Lelaki kecil itu menjerit ketakutan. Ketakutan yang tergambar di wajah Bima semakin membuat Emily tergila-gila untuk terus menikmati pamandangan itu. Emily meraih jemari Bima, menggenggam nya erat. Sekuat tenaga Bima menolak, mencoba menarik kedua tangan nya dari genggaman Emily. Namun Emily semakin menggila, menyusupkan kedua tangan anaknya ke dalam kaos pendek yang tak berlengan. Kemudian Emily mengarahkan tangan Bima pada bu** da** nya. Bima makin menjerit ketakutan, apalagi ketika dilihatnya Emily mulai melepas kaos lengan pendek nya. Lalu mulai melepas celana panjang Bima.
"Mami...ampun. Jangan mami, Bima takut. Ampun mami, Bima takut. Jangan mami, sakit...sakit mami...ampuuuunnnn". Bima berteriak ketakutan juga kesakitan. Emily makin terselimuti kabut gairah, sehingga mengabaikan jerit ketakutan dari Bima. Bahkan Emily terlihat begitu menikmati ketakutan Bima yang membuat nya semakin bergairah.